alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Bali Dilanda Pergerakan Semu Matahari, Waktu Siang Kini Lebih Lama

DENPASAR – Hari-hari terakhir matahari terasa begitu terik. Bahkan, matahari bisa dinikmati begitu lama di Bali saat ini.

Mulai pukul 06.20 hingag 18.30 wita. Ternyata fenomena ini memang lazim terjadi setiap tahun bersamaan dengan datangnya musim hujan.

Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman mengatakan bahwa saat ini sedang terjadi fenomena pergerakan semu matahari.

Posisi matahari sendiri saat ini ada di Belahan Bumi Selatan (BBS).  Sehingga  siang terasa lebih panjang dibandingkan malam hari.

“Salah satunya posisi matahari kan sedang di selatan equator (garis khatulistiwa) makanya di belahan bumi utara sedang musim dingin, sedangkan di selatan lebih hangat,” kata Iman.

Matahari terbit biasanya pukul 06.05 kini menjadi 06.20. Sedangkan saat terbenam lazimnya pukul 18.00 jadi 18.40 atau sampai 18.50.

Baca Juga:  Tekan LoA dengan Lapas Narkotika Bangli, FH Unmas Wisuda 69 Wisudawan

“Telat 20 menit. Posisi matahari saat ini sedang berada di belahan bumi selatan, di sekitar wilayah Indonesia. Sehingga kami secara langsung menerima paparan dari sinar matahari hampir tegak lurus,” ungkapnya.

Maka tidak salah saat ini lebih terasa panas karena suhu mulai dari 28 derajat Celsius sampai 30 derajat Celsius.  Yang normal biasanya dari 22 sampai 35 derajat Celsius.

 Temperatur dipengaruhi derajat dan intensitas radiasi matahari ke permukaan bumi. Selain itu faktor kelembaban juga mempengaruhi temperatur.

Semakin rendah kelembaban, maka temperatur akan terasa lebih panas. “Kelembaban menunjukkan tingkat kebasahan udara,” tukasnya. 

Menurutnya, fenomena pergerakan semu matahari terjadi antara Desember hingga Maret. Karena paparan matahari bumi selatan lebih lama dan tinggi dibandingkan utara, maka angin akan bergerak dari monsoon Asia dari utara dan membawa uap air. 

Baca Juga:  Ini Daerah - daerah di Bali yang Belum Akan Turun Hujan Versi BMKG…

Monsoon adalah fenomena perubahan iklim secara ekstrem yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara secara ekstrem di kawasan daratan India dan Lautan Hindia.

”Lebih basah karena di utara sekarang sedang musim dingin,” tuturnya. Untuk itu, Iman meminta masyarakat seperti biasa mempersiapkan diri untuk hal yang tidak diinginkan.

Seperti beberapa hari lalu  di Jembrana muncul banjir bandang. Di Karangasem ada longsor. “Puncaknya di bulan Februari,” pungkasnya.  



DENPASAR – Hari-hari terakhir matahari terasa begitu terik. Bahkan, matahari bisa dinikmati begitu lama di Bali saat ini.

Mulai pukul 06.20 hingag 18.30 wita. Ternyata fenomena ini memang lazim terjadi setiap tahun bersamaan dengan datangnya musim hujan.

Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman mengatakan bahwa saat ini sedang terjadi fenomena pergerakan semu matahari.

Posisi matahari sendiri saat ini ada di Belahan Bumi Selatan (BBS).  Sehingga  siang terasa lebih panjang dibandingkan malam hari.

“Salah satunya posisi matahari kan sedang di selatan equator (garis khatulistiwa) makanya di belahan bumi utara sedang musim dingin, sedangkan di selatan lebih hangat,” kata Iman.

Matahari terbit biasanya pukul 06.05 kini menjadi 06.20. Sedangkan saat terbenam lazimnya pukul 18.00 jadi 18.40 atau sampai 18.50.

Baca Juga:  Harap Jasad Pramugari Mia Ditemukan, Keluarga Gelar Persembahyangan

“Telat 20 menit. Posisi matahari saat ini sedang berada di belahan bumi selatan, di sekitar wilayah Indonesia. Sehingga kami secara langsung menerima paparan dari sinar matahari hampir tegak lurus,” ungkapnya.

Maka tidak salah saat ini lebih terasa panas karena suhu mulai dari 28 derajat Celsius sampai 30 derajat Celsius.  Yang normal biasanya dari 22 sampai 35 derajat Celsius.

 Temperatur dipengaruhi derajat dan intensitas radiasi matahari ke permukaan bumi. Selain itu faktor kelembaban juga mempengaruhi temperatur.

Semakin rendah kelembaban, maka temperatur akan terasa lebih panas. “Kelembaban menunjukkan tingkat kebasahan udara,” tukasnya. 

Menurutnya, fenomena pergerakan semu matahari terjadi antara Desember hingga Maret. Karena paparan matahari bumi selatan lebih lama dan tinggi dibandingkan utara, maka angin akan bergerak dari monsoon Asia dari utara dan membawa uap air. 

Baca Juga:  Muncul Banyak Titik Genangan, Dinas PU Beralasan Terkendala Dana

Monsoon adalah fenomena perubahan iklim secara ekstrem yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara secara ekstrem di kawasan daratan India dan Lautan Hindia.

”Lebih basah karena di utara sekarang sedang musim dingin,” tuturnya. Untuk itu, Iman meminta masyarakat seperti biasa mempersiapkan diri untuk hal yang tidak diinginkan.

Seperti beberapa hari lalu  di Jembrana muncul banjir bandang. Di Karangasem ada longsor. “Puncaknya di bulan Februari,” pungkasnya.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/