alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Investor Tak Berkomunikasi, Sudah Bersurat ke BPN Tapi Tak Ditanggapi

Kegeraman warga Banjar Adat Canggu, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali yang menutup sebagian akses jalan bukan tanpa sebab. Warga menilai pencaplokan tanah laba/ pelaba Pura Dalem Penataran Canggu untuk pembangunan jalan tanpa adanya komunikasi. Di sisi lain, BPN Badung sudah dikirimi surat namun tak berbalas.

 

I MADE DWIJA PUTRA, Badung

JALAN yang ditutup sebagian tersebut dapat diakses melalui Jalan Shortcut yang menghubungkan Desa Canggu dan Desa Tibubeneng. Warga menutup sebagian jalan tersebut lantaran menurut warga merupakan tanah laba pura.

 

Tanah seluas 75 meter persegi tersebut pun dipasangi baliho menggunakan rangka besi. Baliho tersebut bertuliskan “Tanah ini bukan jalan umum. Tanah ini merupakan hak milik sertifikat nomor: 4148”.

Baca Juga:  Giliran Bule Australia dan Inggris Lapor Balik WNA Rusia ke Polda Bali

 

Akibat pemasangan baliho tersebut, jalan yang awalnya dapat dilintasi oleh kendaraan roda empat, kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja.

 

Bendesa Desa Adat Canggu Wayan Suarsana menjelaskan, pemasangan baliho ini untuk melindungi lahan Laba Pura Dalem Penataran Canggu yang secara keseluruhan seluas 29 are.

Suarsana mengatakan, sejauh ini, pelebaran jalan tersebut yang sampai mencaplok laba pura tidak pernah berkomunikasi dengan pihak Desa maupun Banjar Adat.

 

“Warga Banjar Adat merasa keberatan karena tidak ada komunikasi dari pengembang, jalan itu diketahui akan digunakan untuk keperluan investor,” beber Suarsana yang baru delapan bulan menjabat sebagai  Bendesa Adat Canggu ini, Senin (10/1/2022).

Baca Juga:  Sopir Pak Hakim Ditemukan Tak Bernyawa di Sebuah Vila di Canggu

 

Bahkan Krama Banjar Adat Canggu juga sudah meminta klarifikasi dari Badan Pertanahan Negara (BPN)  terkait lahan Laba Pura. Diketahui luas lahan dari sertifikat sebelumnya adalah 29 are. Namun setelah diukur ulang mengalami penyempitan. Sehingga dalam paruman agung disepakati untuk memasang pagar pembatas.  

 

“Kami sudah minta klarifikasi dari BPN, agar mereka yang memberikan pemahaman kepada masyarakat, tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan. Jadi kami melakukan pengukuran sendiri dan melaksanakan paruman agung yang hasilnya memasang pagar pembatas,” terangnya.


Kegeraman warga Banjar Adat Canggu, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali yang menutup sebagian akses jalan bukan tanpa sebab. Warga menilai pencaplokan tanah laba/ pelaba Pura Dalem Penataran Canggu untuk pembangunan jalan tanpa adanya komunikasi. Di sisi lain, BPN Badung sudah dikirimi surat namun tak berbalas.

 

I MADE DWIJA PUTRA, Badung

JALAN yang ditutup sebagian tersebut dapat diakses melalui Jalan Shortcut yang menghubungkan Desa Canggu dan Desa Tibubeneng. Warga menutup sebagian jalan tersebut lantaran menurut warga merupakan tanah laba pura.

 

Tanah seluas 75 meter persegi tersebut pun dipasangi baliho menggunakan rangka besi. Baliho tersebut bertuliskan “Tanah ini bukan jalan umum. Tanah ini merupakan hak milik sertifikat nomor: 4148”.

Baca Juga:  Bengkel Terbakar, Istri- Anak Selamat, Tapi Mobil dan Motor Hangus

 

Akibat pemasangan baliho tersebut, jalan yang awalnya dapat dilintasi oleh kendaraan roda empat, kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja.

 

Bendesa Desa Adat Canggu Wayan Suarsana menjelaskan, pemasangan baliho ini untuk melindungi lahan Laba Pura Dalem Penataran Canggu yang secara keseluruhan seluas 29 are.

Suarsana mengatakan, sejauh ini, pelebaran jalan tersebut yang sampai mencaplok laba pura tidak pernah berkomunikasi dengan pihak Desa maupun Banjar Adat.

 

“Warga Banjar Adat merasa keberatan karena tidak ada komunikasi dari pengembang, jalan itu diketahui akan digunakan untuk keperluan investor,” beber Suarsana yang baru delapan bulan menjabat sebagai  Bendesa Adat Canggu ini, Senin (10/1/2022).

Baca Juga:  Jejak Tiongkok di Pulau Dewata, Edisi Khusus Imlek Radar Bali

 

Bahkan Krama Banjar Adat Canggu juga sudah meminta klarifikasi dari Badan Pertanahan Negara (BPN)  terkait lahan Laba Pura. Diketahui luas lahan dari sertifikat sebelumnya adalah 29 are. Namun setelah diukur ulang mengalami penyempitan. Sehingga dalam paruman agung disepakati untuk memasang pagar pembatas.  

 

“Kami sudah minta klarifikasi dari BPN, agar mereka yang memberikan pemahaman kepada masyarakat, tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan. Jadi kami melakukan pengukuran sendiri dan melaksanakan paruman agung yang hasilnya memasang pagar pembatas,” terangnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/