alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

“Mahasiswa Bermobil” Disuntik BST-PT, Begini Respons Rektor Undiknas

DENPASAR – Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) buka suara soal “mahasiswa bermobil” penerima Bantuan Sosial Tunai Perguruan Tinggi (BST-PT) dari Gubernur Bali Wayan Koster, Selasa (10/6) lalu.

Rektor Undiknas, Dr. Nyoman Sri Subawa, ST, S.Sos tak menampik “mahasiswi bermobil” berinisial NLECD adalah mahasiswi semester VI Jurusan Akuntansi Undiknas.

Saat menerima bantuan dari Pemprov Bali, mahasiswi yang mengaku sebagai “Jegeg Undiknas” itu mengendarai Toyota Yaris bernomor polisi DK 1194 XX.

“Terkait berita tersebut, kami telah memverifikasi sesuai persyaratan yang ditentukan dalam petunjuk teknis, terkait kriteria dan persyaratan penerima bantuan.

Mahasiswa tersebut telah memenuhi persyaratan,” ujar Dr. Sri Subawa, ST, S.Sos, Kamis (11/6). Terkait pemberitaan Radarbali.id, sang rektor menyampaikan beberapa poin klarifikasi.

Pertama, mahasiswi (NLECD) telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam petunjuk teknis yang dikeluarkan.

Kedua, persyaratan yang dimaksud meliputi orang tua/wali dan mahasiswa memiliki KTP wilayah Provinsi Bali (dokumen ada, red).

Ketiga, orang tua/wali terkena PHK atau dirumahkan atau kehilangan pekerjaan. “Orang tua mahasiswi tersebut memang benar kehilangan penghasilan dikarenakan pekerjaan

orang tuanya sebagai sopir pariwisata freelance. Surat keterangan ada ditandatangani oleh orang tua diketahui perbekel/dusun,” ungkap Sri Subawa.

Dipertegas mengenai pekerjaan orang tua NLECD, sang rektor menjawab sopir pariwisata freelance.

“Berdasar surat keterangan yang ditandatangani orang tua yang bersangkutan, pekerjaannya adalah sopir pariwisata freelance,” tegasnya sembari menyebut

Undiknas mendapatkan kuota BST-PT sebanyak 400 mahasiswa. Akan tetapi yang memenuhi syarat secara administratif adalah 268 orang mahasiswa.

Belum diketahui secara detail apakah orang tua NLECD memang benar adalah sopir pariwisata freelance. Pasalnya, saat diwawancarai langsung, Selasa (10/6) di Jaya Sabha Kantor Gubernur Bali, NLECD mengaku ayahnya bekerja di hotel.

Saat ditanya berapa bayar uang kuliah per semester, mahasiswi berparas cantik itu menjawab Rp 7.750.000.

“Menurut saya bantuan BST-PT ini sangat membantu. Karena bapak saya di-PHK. Kerja di hotel. Jadi uang kuliah tertunda. Saya sudah bayar UTS (Ujian Tengah Semester) Rp 4 juta.

Sekarang tinggal bayar UAS (Ujian Akhir Semester) lagi Rp 3.750.000. Karena dibantu Rp 1,5 juta, jadi tinggal memikirkan sisanya. Semoga cepat pulih situasi,” ungkap sang mahasiswa.



DENPASAR – Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) buka suara soal “mahasiswa bermobil” penerima Bantuan Sosial Tunai Perguruan Tinggi (BST-PT) dari Gubernur Bali Wayan Koster, Selasa (10/6) lalu.

Rektor Undiknas, Dr. Nyoman Sri Subawa, ST, S.Sos tak menampik “mahasiswi bermobil” berinisial NLECD adalah mahasiswi semester VI Jurusan Akuntansi Undiknas.

Saat menerima bantuan dari Pemprov Bali, mahasiswi yang mengaku sebagai “Jegeg Undiknas” itu mengendarai Toyota Yaris bernomor polisi DK 1194 XX.

“Terkait berita tersebut, kami telah memverifikasi sesuai persyaratan yang ditentukan dalam petunjuk teknis, terkait kriteria dan persyaratan penerima bantuan.

Mahasiswa tersebut telah memenuhi persyaratan,” ujar Dr. Sri Subawa, ST, S.Sos, Kamis (11/6). Terkait pemberitaan Radarbali.id, sang rektor menyampaikan beberapa poin klarifikasi.

Pertama, mahasiswi (NLECD) telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam petunjuk teknis yang dikeluarkan.

Kedua, persyaratan yang dimaksud meliputi orang tua/wali dan mahasiswa memiliki KTP wilayah Provinsi Bali (dokumen ada, red).

Ketiga, orang tua/wali terkena PHK atau dirumahkan atau kehilangan pekerjaan. “Orang tua mahasiswi tersebut memang benar kehilangan penghasilan dikarenakan pekerjaan

orang tuanya sebagai sopir pariwisata freelance. Surat keterangan ada ditandatangani oleh orang tua diketahui perbekel/dusun,” ungkap Sri Subawa.

Dipertegas mengenai pekerjaan orang tua NLECD, sang rektor menjawab sopir pariwisata freelance.

“Berdasar surat keterangan yang ditandatangani orang tua yang bersangkutan, pekerjaannya adalah sopir pariwisata freelance,” tegasnya sembari menyebut

Undiknas mendapatkan kuota BST-PT sebanyak 400 mahasiswa. Akan tetapi yang memenuhi syarat secara administratif adalah 268 orang mahasiswa.

Belum diketahui secara detail apakah orang tua NLECD memang benar adalah sopir pariwisata freelance. Pasalnya, saat diwawancarai langsung, Selasa (10/6) di Jaya Sabha Kantor Gubernur Bali, NLECD mengaku ayahnya bekerja di hotel.

Saat ditanya berapa bayar uang kuliah per semester, mahasiswi berparas cantik itu menjawab Rp 7.750.000.

“Menurut saya bantuan BST-PT ini sangat membantu. Karena bapak saya di-PHK. Kerja di hotel. Jadi uang kuliah tertunda. Saya sudah bayar UTS (Ujian Tengah Semester) Rp 4 juta.

Sekarang tinggal bayar UAS (Ujian Akhir Semester) lagi Rp 3.750.000. Karena dibantu Rp 1,5 juta, jadi tinggal memikirkan sisanya. Semoga cepat pulih situasi,” ungkap sang mahasiswa.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/