alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Sampah di Kampung Turis Kian Menumpuk, DLHK Badung Mengaku Keteteran

MANGUPURA – Semenjak Badung dilarang membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, beberapa tempat sampah di Legian dan Kuta terlihat menumpuk.

Kontan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mulai ketetaran. Minggu (10/11) DLHK Badung telah mengerahkan petugas kebersihan untuk menangani sejumlah sampah yang menumpuk.

Kepala DLHK Badung I Putu Eka Merthawan tak menampik ada sejumlah lokasi tempat sampah di Legian dan Kuta sampah menumpuk.

Namun, sejak minggu (10/11), pagi sejumlah truk dan petugas DLHK Badung mulai berjibaku mengangkut sampah yang mulai menebar bau tak sedap.

“Hari ini (kemarin) sudah kita mulai angkut, akan kita kerjakan sampai benar-benar semua terangkat,” jelas Eka Merthawan kemarin.

Baca Juga:  PPDB Denpasar dan Tabanan Tak Beres, Ancam Pidanakan Pemalsu SKTM

Menurutnya, lambatnya pengangkutan sampah di Kuta dan Legian karena minimnya kuota pembuangan sampah di TPA Suwung hanya 15 truk per hari, di sisi lain sampah di tempat lain juga harus diangkut.

Hal ini sejak Badung distop membuang sampah penuh ke TPA Suwung. Menurutnya, sampah yang diangkut ke TPA Suwung  terlebih dulu dipadatkan agar bisa terangkut maksimal.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini, kami akan berbuat semaksimal mungkin (mengatasi tumpukan sampah),” terang birokrat asal Sempidi ini.

Sementara mengenai langkah penanganan sampah lanjutan, Eka Merthawan menjelaskan  telah melakukan kajian pada sejumlah lokasi/tanah milik Pemprov Bali.

“Saya tidak mau ungkap dulu, sabar dulu kami masih proses. Karena masih dalam kajian dan akan dibahas dengan Pemprov,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pegawai Kontrak Buang Limbah Medis, RS Sanjiwani: Itu Oknum, Bukan RS

Ia kembali menegaskan, lahan yang digunakan masih tetap memanfaatkan lahan Pemprov Bali. Namun lahan ini jauh dari pemukiman warga.

Sistem pengolahan sampah juga tidak menggunakan penimbunan. Sampah di truk langsung dipilah, sampah plastik akan dikirim ke bank sampah, kemudian sampah basah/organik langsung masuk ke mesin pencacah.

Hasil cacahan langsung masuk karung, yang dibawa ke tempat pengolahan untuk menjadi pupuk. “Yang jelas plan untuk lokasi (TPA) dan penanganan sampah sudah ada,” pungkasnya.



MANGUPURA – Semenjak Badung dilarang membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, beberapa tempat sampah di Legian dan Kuta terlihat menumpuk.

Kontan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mulai ketetaran. Minggu (10/11) DLHK Badung telah mengerahkan petugas kebersihan untuk menangani sejumlah sampah yang menumpuk.

Kepala DLHK Badung I Putu Eka Merthawan tak menampik ada sejumlah lokasi tempat sampah di Legian dan Kuta sampah menumpuk.

Namun, sejak minggu (10/11), pagi sejumlah truk dan petugas DLHK Badung mulai berjibaku mengangkut sampah yang mulai menebar bau tak sedap.

“Hari ini (kemarin) sudah kita mulai angkut, akan kita kerjakan sampai benar-benar semua terangkat,” jelas Eka Merthawan kemarin.

Baca Juga:  Badung Punya 1.132 Bank Sampah, Bupati Giri Komit Bangun 3 TPA Canggih

Menurutnya, lambatnya pengangkutan sampah di Kuta dan Legian karena minimnya kuota pembuangan sampah di TPA Suwung hanya 15 truk per hari, di sisi lain sampah di tempat lain juga harus diangkut.

Hal ini sejak Badung distop membuang sampah penuh ke TPA Suwung. Menurutnya, sampah yang diangkut ke TPA Suwung  terlebih dulu dipadatkan agar bisa terangkut maksimal.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini, kami akan berbuat semaksimal mungkin (mengatasi tumpukan sampah),” terang birokrat asal Sempidi ini.

Sementara mengenai langkah penanganan sampah lanjutan, Eka Merthawan menjelaskan  telah melakukan kajian pada sejumlah lokasi/tanah milik Pemprov Bali.

“Saya tidak mau ungkap dulu, sabar dulu kami masih proses. Karena masih dalam kajian dan akan dibahas dengan Pemprov,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jumlah Cakep Lontar yang Dikonservasi di Badung Menurun

Ia kembali menegaskan, lahan yang digunakan masih tetap memanfaatkan lahan Pemprov Bali. Namun lahan ini jauh dari pemukiman warga.

Sistem pengolahan sampah juga tidak menggunakan penimbunan. Sampah di truk langsung dipilah, sampah plastik akan dikirim ke bank sampah, kemudian sampah basah/organik langsung masuk ke mesin pencacah.

Hasil cacahan langsung masuk karung, yang dibawa ke tempat pengolahan untuk menjadi pupuk. “Yang jelas plan untuk lokasi (TPA) dan penanganan sampah sudah ada,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/