alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Jumlah Cakep Lontar yang Dikonservasi di Badung Menurun

MANGUPURA – Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung berhasil mengkonservasi sebanyak 400 cakep lontar yang dimiliki masyarakat selama tahun 2020. Kendati pandemi covid-19, kegiatan konservasi lontar juga tetap dilaksanakan tetapi menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat.

 

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung Tahun 2020, I Wayan Indra Pramana Putra menjelaskan, selama tahun 2020  penyuluh bahasa Bali di Badung bisa mengonservasi 400 cakep lontar. Kalau tahun sebelum-sebelumnya mereka biasanya bisa konservasi 500-an cakep.

 

“Memang tidak banyak perbedaannya, karena selama pandemi masyarakat juga ada permintaan. Bedanya, kami tidak beramai-ramai seperti dulu, karena harus menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya belum lama ini.

 

 

Lebih lanjut, konservasi lontar merupakan kegiatan rutin Penyuluh Bahasa Bali setiap tahunnya. Konservasi lontar bertujuan untuk menyelamatkan aset budaya Bali, terutama lontar-lontar kuno. Lontar merupakan kekayaan budaya Bali yang tidak hanya tersimpan di pura dan puri, namun juga di rumah-rumah masyarakat.

Baca Juga:  Terdampak Covid-19, Petani Buleleng Dijatah Bantuan Bibit Pertanian

 

“Jadi lontar itu banyak tersebar di masyarakat. Masyarakat kemudian mengajukan permohonan untuk mengkonservasi lontar. Kami identifikasi, judulnya apa, termasuk kelompok lontar yang mana. Kemudian, jika kondisinya rusak atau tidak baik, kita bersihkan dan awetkan naskah lontarnya,” jelasnya.

Sementra kondisi lontar milik warga Badung beragam. Bahkan ada yang berusia puluhan tahun hingga ratusan tahun yang keadaannya lumayan rusak. Konservasi lontar langsung dilakukan di rumah warga yang mengajukan permintaan.  Penyuluh Bahasa Bali mengaku ada rasa khawatir, mengingat kegiatan konservasi lontar harus langsung ke lapangan.

 

“Antara tanggung jawab pekerjaan atau kesehatan kita sendiri. Apalagi di Badung lumayan peningkatan kasusnya, sedangkan kita bekerja di lapangan. Karenanya, kami mengkonservasi mengurangi jumlah personel dan menjalankan prokes ketat,” pungkasnya.

Baca Juga:  Final, Badung Mulai Gratiskan Air ke Pelanggan Terdampak Covid-19

 



MANGUPURA – Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung berhasil mengkonservasi sebanyak 400 cakep lontar yang dimiliki masyarakat selama tahun 2020. Kendati pandemi covid-19, kegiatan konservasi lontar juga tetap dilaksanakan tetapi menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat.

 

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Badung Tahun 2020, I Wayan Indra Pramana Putra menjelaskan, selama tahun 2020  penyuluh bahasa Bali di Badung bisa mengonservasi 400 cakep lontar. Kalau tahun sebelum-sebelumnya mereka biasanya bisa konservasi 500-an cakep.

 

“Memang tidak banyak perbedaannya, karena selama pandemi masyarakat juga ada permintaan. Bedanya, kami tidak beramai-ramai seperti dulu, karena harus menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya belum lama ini.

 

 

Lebih lanjut, konservasi lontar merupakan kegiatan rutin Penyuluh Bahasa Bali setiap tahunnya. Konservasi lontar bertujuan untuk menyelamatkan aset budaya Bali, terutama lontar-lontar kuno. Lontar merupakan kekayaan budaya Bali yang tidak hanya tersimpan di pura dan puri, namun juga di rumah-rumah masyarakat.

Baca Juga:  Urun Daya, Bagikan Nasi untuk Warga yang Jalani Isoman dan Karantina

 

“Jadi lontar itu banyak tersebar di masyarakat. Masyarakat kemudian mengajukan permohonan untuk mengkonservasi lontar. Kami identifikasi, judulnya apa, termasuk kelompok lontar yang mana. Kemudian, jika kondisinya rusak atau tidak baik, kita bersihkan dan awetkan naskah lontarnya,” jelasnya.

Sementra kondisi lontar milik warga Badung beragam. Bahkan ada yang berusia puluhan tahun hingga ratusan tahun yang keadaannya lumayan rusak. Konservasi lontar langsung dilakukan di rumah warga yang mengajukan permintaan.  Penyuluh Bahasa Bali mengaku ada rasa khawatir, mengingat kegiatan konservasi lontar harus langsung ke lapangan.

 

“Antara tanggung jawab pekerjaan atau kesehatan kita sendiri. Apalagi di Badung lumayan peningkatan kasusnya, sedangkan kita bekerja di lapangan. Karenanya, kami mengkonservasi mengurangi jumlah personel dan menjalankan prokes ketat,” pungkasnya.

Baca Juga:  PMI Bali Sosialisasi UU Kepalangmerahan di Wiswasabha

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/