alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Ratna, Minimalisir Kontak dengan Pasien, Bisa Cek Suhu & Tekanan Darah

DENPASAR – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotic Universitas Udayana berhasil menciptakan robot sebagai asisten tenaga medis yang diberi nama RATNA (Robot Asisten Udayana).

Robot dengan berat 15 kg dan tinggi sekitar 1.85 meter dibuat khusus untuk membantu para dokter memeriksa pasien. Sehingga tidak kontak langsung dengan pasien dan mengurangi penularan Covid-19. 

Dalam pemeriksaan nanti, tangan pasien tinggal dimasukkan ke sebuah lubang. Kondisi pasien sudah bisa dibaca dari jarak jauh oleh dokter yang mengoperasikan langsung robot tersebut di ruangannya. 

Robot ini dilengkapi dengan alat pengecek suhu, tekanan darah, dan alat layar visual live communication dilengkapi wifi antara pasien dan dokter. 

Anggota tim pembuat robot RATNA, I Gede Feryanda, mengatakan, pembuatan manusia mesin ini untuk menerapkan social distancing dengan tujuan meminimalisasi penularan Covid-19.

Apalagi tenaga medis merupakan orang yang menangani pasien dan kontak langsung dan rentan terkena virus corona. 

“Itu bisa kayak istilah social distancing bisa mengecek suhu visual live communication ada tempat sensor untuk tekanan darah kayak gitu.

Baca Juga:  Pemuteran Masih Sepi Wisatawan, Ini Harapan Pokdarwis Segera Giri

Untuk semuanya kan kita bisa combain dengan dokternya. Ada alatnya, masih manual operator sama dokternya,” ungkap mahasiswa semester VIII Teknik Elektro Universitas Udayana.

Bagian pentingnya, alat untuk komunikasi seperti itu dari penggerak robot alat kedokteran. Sejatinya, robot serupa sudah  pernah diciptakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Namun, diakui tidak selengkap robot milik Unud yang ada pengecekan suhu dan tekanan darah.  Sampai saat ini, robot ini belum selesai 100 persen.

Karena masih proses penyelesaian dan merapikan bentuk tubuh supaya lebih mirip manusia.

“Kami belajar dari mereka (dari ITS) bagaimana robot-robot mereka bekerja, lalu kami berinisiatif membangkitkan robot di Bali. Sementara kami masih ujicoba,” ucapnya  

Feryanda mengakui keunggulan RATNA ini dapat dikontrol dari jarak jauh dan kekurangan masih kurang dari segi bentuk karena masih kaku. Belum terlihat friendly dan gampang dikendalikan operator. 

Di sisi lain, Ketua Pembina UKM Robotic, I Wayan Widhiada, menyatakan, pembuatan robot ini  dalam satu tim  berjumlah 10 orang.

Baca Juga:  Izin Lokasi Diterbitkan Menteri Susi, Perlawanan Rakyat Bali Meluas

Robot ini ada tiga bagian tak terpisahnya. Bagian pertama ada di bagian mekanika termasuk tubuh termasuk a direct current motor (DC Motor) menggunakan desimotor.

Kemudian bagian controller. Rangkaian yang lain termasuk bagian tiga itu program komputer memakai remote control navigasi dengan sinyal radio. 

Pembuatan robot ini kurang lebih sebulan. Saat ini hampir 99 persen. Sayangnya, sempat ada masalah dalam pembuatannya karena

robot itu menggunakan lampu ultra violet (UV), tapi dilepas karena saat dipasang membuat mata anggota tim bengkak.

“Mungkin satu ruangan dilihatin terus. Mungkin nanti bisa dipasang,” ucap dosen jurusan Robotic dan Control jebolan Universitas Liverpool Joh Moores ini. 

Mengenai biaya, Widhiada mengaku tidak tahu pasti. Tapi proposal yang diajukan sekitar Rp 80 jutaan. 

Setelah robot ini selesai akan diberikan ke RS Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Unud sebagai pusat pelayanan Covid-19 di Bali.  



DENPASAR – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotic Universitas Udayana berhasil menciptakan robot sebagai asisten tenaga medis yang diberi nama RATNA (Robot Asisten Udayana).

Robot dengan berat 15 kg dan tinggi sekitar 1.85 meter dibuat khusus untuk membantu para dokter memeriksa pasien. Sehingga tidak kontak langsung dengan pasien dan mengurangi penularan Covid-19. 

Dalam pemeriksaan nanti, tangan pasien tinggal dimasukkan ke sebuah lubang. Kondisi pasien sudah bisa dibaca dari jarak jauh oleh dokter yang mengoperasikan langsung robot tersebut di ruangannya. 

Robot ini dilengkapi dengan alat pengecek suhu, tekanan darah, dan alat layar visual live communication dilengkapi wifi antara pasien dan dokter. 

Anggota tim pembuat robot RATNA, I Gede Feryanda, mengatakan, pembuatan manusia mesin ini untuk menerapkan social distancing dengan tujuan meminimalisasi penularan Covid-19.

Apalagi tenaga medis merupakan orang yang menangani pasien dan kontak langsung dan rentan terkena virus corona. 

“Itu bisa kayak istilah social distancing bisa mengecek suhu visual live communication ada tempat sensor untuk tekanan darah kayak gitu.

Baca Juga:  Waspada! BBPOM Temukan Jamu Berbahan Kimia Obat Beredar di Masyarakat

Untuk semuanya kan kita bisa combain dengan dokternya. Ada alatnya, masih manual operator sama dokternya,” ungkap mahasiswa semester VIII Teknik Elektro Universitas Udayana.

Bagian pentingnya, alat untuk komunikasi seperti itu dari penggerak robot alat kedokteran. Sejatinya, robot serupa sudah  pernah diciptakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Namun, diakui tidak selengkap robot milik Unud yang ada pengecekan suhu dan tekanan darah.  Sampai saat ini, robot ini belum selesai 100 persen.

Karena masih proses penyelesaian dan merapikan bentuk tubuh supaya lebih mirip manusia.

“Kami belajar dari mereka (dari ITS) bagaimana robot-robot mereka bekerja, lalu kami berinisiatif membangkitkan robot di Bali. Sementara kami masih ujicoba,” ucapnya  

Feryanda mengakui keunggulan RATNA ini dapat dikontrol dari jarak jauh dan kekurangan masih kurang dari segi bentuk karena masih kaku. Belum terlihat friendly dan gampang dikendalikan operator. 

Di sisi lain, Ketua Pembina UKM Robotic, I Wayan Widhiada, menyatakan, pembuatan robot ini  dalam satu tim  berjumlah 10 orang.

Baca Juga:  Tak Mungkin Hidup di Bali, Ini 8 Faktanya

Robot ini ada tiga bagian tak terpisahnya. Bagian pertama ada di bagian mekanika termasuk tubuh termasuk a direct current motor (DC Motor) menggunakan desimotor.

Kemudian bagian controller. Rangkaian yang lain termasuk bagian tiga itu program komputer memakai remote control navigasi dengan sinyal radio. 

Pembuatan robot ini kurang lebih sebulan. Saat ini hampir 99 persen. Sayangnya, sempat ada masalah dalam pembuatannya karena

robot itu menggunakan lampu ultra violet (UV), tapi dilepas karena saat dipasang membuat mata anggota tim bengkak.

“Mungkin satu ruangan dilihatin terus. Mungkin nanti bisa dipasang,” ucap dosen jurusan Robotic dan Control jebolan Universitas Liverpool Joh Moores ini. 

Mengenai biaya, Widhiada mengaku tidak tahu pasti. Tapi proposal yang diajukan sekitar Rp 80 jutaan. 

Setelah robot ini selesai akan diberikan ke RS Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Unud sebagai pusat pelayanan Covid-19 di Bali.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/