alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Hujan di Atas Normal, Bali dan Indonesia Hadapi Fenomena La Nina

DENPASAR – Hujan di atas normal mulai terjadi sejak beberapa hari terakhir. Dampaknya mulai terjadi banjir, pohon tumbang dan tanah longsor di Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB), kondisi ini terjadi lantaran saat ini Indonesia tengah memasuki fenomena La Nina.

Hal ini berdampak pada potensi bahaya hidrometeorologi yang lebih buruk. BNPB merekomendasikan kesiapsiagaan tidak hanya pada tingkat provinsi tetapi hingga tingkat kecamatan, kelurahan atau desa dan bahkan keluarga.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan saat melakukan diskusi menyikapi fenomena La Lina melalui media virtual kemarin mengatakan, kesiapsiagaan harus dilakukan di setiap tingkat.

Ia menegaskan bahwa camat, lurah dan kepala desa untuk beberapa hal harus memastikan tempat evakuasi sementara dapat digunakan.

Pihaknya meminta aparat desa untuk mengidentifikasi bangunan aman yang dapat digunakan sebagai shelter sementara, seperti rumah warga, kantor desa atau pun sekolah.

”Jangan sampai tempat evakuasi menjadi klaster baru Covid-19,” ujar Lilik Kurniawan. “Identifikasi rumah aman yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara,” imbuhnya.

Kedua, pastikan masyarakat yang terpapar mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan. Ia mengingatkan protokol Kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

“Kita harus memastikan masyarakat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan apabila ada info dari BMKG,” pesannya.

Hal tersebut terkait dengan penyampaian informasi yang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota kepada pihak kecamatan dan selanjutnya di tingkat desa.

Baca Juga:  Pengemudi Ojol Ambruk & Kejang-Kejang, BPBD: Korban Alami Sesak Napas

“Sosialisasikan informasi kepada masyarakat dengan bijak, jangan menakuti-nakuti,” katanya. Lilik meminta pejabat terkait menggunakan

bahasa yang mudah dipahami untuk menerjemahkan informasi cuaca sehingga pesan sampai pemangku kepentingan di tingkat kecamatan maupun masyarakat.

Beberapa kanal informasi dapat diakses oleh aparat kecamatan, kelurahan dan desa, bahkan di tingkat keluarga dengan beberapa kanal, seperti teknologi informasi dari BNPB dan BMKG.

BNPB memiliki InaRISK dan juga Katalog Desa Rawa Bencana yang dapat diakses semua pihak, kemudian BMKG memiliki aplikasi Info BMKG yang dapat menginformasikan kondisi cuaca hingga tingkat kecamatan.

Terakhir, masyarakat di tingkat kecamatan, kelurahan dan desa dapat melakukan simulasi mandiri sesuai rencana kontinjensi yang sudah dibuat. Ini tentunya dibantu oleh BPBD kabupaten maupun kota setempat.
Lilik juga mengimbau setiap keluarga untuk mengidentifikasi risiko bencana yang ada di sekitar. Kesiapsiagaan sejak dini dibutuhkan untuk memastikan tidak adanya korban jiwa apabila terjadi peristiwa ekstrem.

Diskusikan dengan anggota keluarga maupun komunitas di masyarakat terkait dengan potensi ancaman bahaya yang ada di sekitar sehingga risiko bencana dapat dihindari. 

Di samping kesiapsiagaan di tingkat administrasi desa dan kelurahan, Lilik menyampaikan langkah-langkah yang harus disiapkan dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota.

BNPB telah meminta pihak BPBD kabupaten dan kota untuk melakukan beberapa langkah strategi. Di antaranya:

Pertama, rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi La Nina membahas beberapa hal yang diharapkan untuk dibahas yaitu mengenai sosialisasi daerah rawan bencana,

Baca Juga:  Pasien Covid-19 Asal Kesiman Denpasar Meninggal Dunia di RS Wangaya

memastikan camat, lurah dan kepala desa untuk melakukan kesiapsiagaan di daerah masing-masing, memastikan organisasi

perangkat daerah mempersiapkan sumber daya dalam kesiapsiagaan serta operasional pusat pengendali operasi (pusdalops) di BPBD.

Kedua, pihak BPBD dan instansi terkait melakukan simulasi field training exercise sesuai dengan rencana kontinjensi yang ada.

Lilik tidak lupa menyampaikan rencana tersebut juga perlu memasukkan konteks ancaman bahaya lain, seperti Covid-19.

Ketiga, menghimpun dukungan sumber daya, khususnya sukarelawan dan dukungan lain. Keempat, susur sungai yang bertujuan untuk memastikan tidak ada potensi bahaya. Kelima, menetapkan tempat evakuasi berbasis protokol Kesehatan.

Demikin juga pada kesiapsiagaan di tingkat provinsi, Lilik meminta BPBD di tingkat provinsi untuk melakukan rapat koordinasi, khususnya menghadapi La Nina.

Ia meminta seluruh pemerintah provinsi untuk memastikan seluruh bupati dan walikota untuk melakukan kesiapsiagaan di setiap daerah.

“Memastikan seluruh organisasi perangkat daerah provinsi sudah mempersiapkan sumber daya dalam mendukung kesiapsiagaan,” pesan Lilik.

Kemudian, BPBD dan mitra terkait melakukan simulasi table top exercise sesuai dengan rencana kontinjensi yang sudah disiapkan serta menghimpun sukarelawan dan dukungan lain di tingkat provinsi.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, beberapa provinsi di Indonesia sudah memasuki musim hujan dan perlu mewaspadai hujan di atas normal.

Ia menyampaikan bahwa dampak intensitas  curah hujan di atas normal yang dipengaruhi fenomena La Nina tidak sama di setiap wilayah. 



DENPASAR – Hujan di atas normal mulai terjadi sejak beberapa hari terakhir. Dampaknya mulai terjadi banjir, pohon tumbang dan tanah longsor di Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB), kondisi ini terjadi lantaran saat ini Indonesia tengah memasuki fenomena La Nina.

Hal ini berdampak pada potensi bahaya hidrometeorologi yang lebih buruk. BNPB merekomendasikan kesiapsiagaan tidak hanya pada tingkat provinsi tetapi hingga tingkat kecamatan, kelurahan atau desa dan bahkan keluarga.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan saat melakukan diskusi menyikapi fenomena La Lina melalui media virtual kemarin mengatakan, kesiapsiagaan harus dilakukan di setiap tingkat.

Ia menegaskan bahwa camat, lurah dan kepala desa untuk beberapa hal harus memastikan tempat evakuasi sementara dapat digunakan.

Pihaknya meminta aparat desa untuk mengidentifikasi bangunan aman yang dapat digunakan sebagai shelter sementara, seperti rumah warga, kantor desa atau pun sekolah.

”Jangan sampai tempat evakuasi menjadi klaster baru Covid-19,” ujar Lilik Kurniawan. “Identifikasi rumah aman yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara,” imbuhnya.

Kedua, pastikan masyarakat yang terpapar mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan. Ia mengingatkan protokol Kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

“Kita harus memastikan masyarakat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan apabila ada info dari BMKG,” pesannya.

Hal tersebut terkait dengan penyampaian informasi yang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota kepada pihak kecamatan dan selanjutnya di tingkat desa.

Baca Juga:  Pengguna Medsos Pertanyakan Peraturan Ganjil-Genap Kendaraan Bermotor

“Sosialisasikan informasi kepada masyarakat dengan bijak, jangan menakuti-nakuti,” katanya. Lilik meminta pejabat terkait menggunakan

bahasa yang mudah dipahami untuk menerjemahkan informasi cuaca sehingga pesan sampai pemangku kepentingan di tingkat kecamatan maupun masyarakat.

Beberapa kanal informasi dapat diakses oleh aparat kecamatan, kelurahan dan desa, bahkan di tingkat keluarga dengan beberapa kanal, seperti teknologi informasi dari BNPB dan BMKG.

BNPB memiliki InaRISK dan juga Katalog Desa Rawa Bencana yang dapat diakses semua pihak, kemudian BMKG memiliki aplikasi Info BMKG yang dapat menginformasikan kondisi cuaca hingga tingkat kecamatan.

Terakhir, masyarakat di tingkat kecamatan, kelurahan dan desa dapat melakukan simulasi mandiri sesuai rencana kontinjensi yang sudah dibuat. Ini tentunya dibantu oleh BPBD kabupaten maupun kota setempat.
Lilik juga mengimbau setiap keluarga untuk mengidentifikasi risiko bencana yang ada di sekitar. Kesiapsiagaan sejak dini dibutuhkan untuk memastikan tidak adanya korban jiwa apabila terjadi peristiwa ekstrem.

Diskusikan dengan anggota keluarga maupun komunitas di masyarakat terkait dengan potensi ancaman bahaya yang ada di sekitar sehingga risiko bencana dapat dihindari. 

Di samping kesiapsiagaan di tingkat administrasi desa dan kelurahan, Lilik menyampaikan langkah-langkah yang harus disiapkan dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota.

BNPB telah meminta pihak BPBD kabupaten dan kota untuk melakukan beberapa langkah strategi. Di antaranya:

Pertama, rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi La Nina membahas beberapa hal yang diharapkan untuk dibahas yaitu mengenai sosialisasi daerah rawan bencana,

Baca Juga:  Izin Lokasi Habis, ForBali Segera Temui Presiden

memastikan camat, lurah dan kepala desa untuk melakukan kesiapsiagaan di daerah masing-masing, memastikan organisasi

perangkat daerah mempersiapkan sumber daya dalam kesiapsiagaan serta operasional pusat pengendali operasi (pusdalops) di BPBD.

Kedua, pihak BPBD dan instansi terkait melakukan simulasi field training exercise sesuai dengan rencana kontinjensi yang ada.

Lilik tidak lupa menyampaikan rencana tersebut juga perlu memasukkan konteks ancaman bahaya lain, seperti Covid-19.

Ketiga, menghimpun dukungan sumber daya, khususnya sukarelawan dan dukungan lain. Keempat, susur sungai yang bertujuan untuk memastikan tidak ada potensi bahaya. Kelima, menetapkan tempat evakuasi berbasis protokol Kesehatan.

Demikin juga pada kesiapsiagaan di tingkat provinsi, Lilik meminta BPBD di tingkat provinsi untuk melakukan rapat koordinasi, khususnya menghadapi La Nina.

Ia meminta seluruh pemerintah provinsi untuk memastikan seluruh bupati dan walikota untuk melakukan kesiapsiagaan di setiap daerah.

“Memastikan seluruh organisasi perangkat daerah provinsi sudah mempersiapkan sumber daya dalam mendukung kesiapsiagaan,” pesan Lilik.

Kemudian, BPBD dan mitra terkait melakukan simulasi table top exercise sesuai dengan rencana kontinjensi yang sudah disiapkan serta menghimpun sukarelawan dan dukungan lain di tingkat provinsi.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, beberapa provinsi di Indonesia sudah memasuki musim hujan dan perlu mewaspadai hujan di atas normal.

Ia menyampaikan bahwa dampak intensitas  curah hujan di atas normal yang dipengaruhi fenomena La Nina tidak sama di setiap wilayah. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/