alexametrics
26.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

BTID Tersudut, Keterangan Bendesa Serangan dan Dishut Untungkan Ipung

DENPASAR – PT BTID yang diduga menyerobot tanah milik Siti Sapurah alias Ipung di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, makin tersudut. Sebab keterangan Bendesa Adat Serangan dan Kepala Dinas Kehutanan Bali menguntungkan pihak Ipung.

 

Jero Bendesa Desa Pakraman Serangan, Denpasar Selatan, I Made Sedana menjelaskan, berdasarkan data yang diperoleh dari prajuru baga palemahan Desa Adat Serangan, jalan yang dibangun saat ini sesuai dengan posisi tanah dengan pipil nomor 2, persil nomor 15a memiliki luas 1,12 hektare adalah milik Daeng Abdul Kadir, ayah Ipung

 

“Itu berdasarkan data yang kami peroleh dari prajuru baga palemahan,” tutur I Made Sedana didampingi I Wayan Sukeratha, selaku prajuru baga palemahan, Sabtu (12/3/2022).

 

Sedana juga mengaku menerima surat dari pihak PT BTID yang ditujukan kepada desa serangan pada tanggal 10 Maret 2022. Dalam isi suratnya, pihak PT BTID menanyakan terkait statmen Kasatgas Polhut Tahura Agus Santoso dan perwakilan BPN Kota Denpasar. 

 

“Ini untuk menghindari kesimpangsiuran informasi, serta dijadikan data oleh pihak BTID,” jelasnya.

 

Sementara itu, Prajuru Baga Palemahan Desa Adat Serangan, I Wayan Sukeratha menambahkan, sebelumnya Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali telah mengeluarkan surat, bahwa tanah yang dibangun jalan bukan berada di kawasan hutan.

 

“Jadi surat dari Dinas Kehutanan Provinsi Bali ini yang ditanyakan oleh pihak BTID,” kata I Wayan Sukeratha.

Sebelumnya pihak BTID mengklaim membangun jalan di atas tanah yang disengketakan dengan Ipung, sebagai tanah hutan. Sedangkan Ipung mengklaim itu tanah miliknya.

 

Jro Bendesa Serangan, I Made Sedana juga tidak menampik pernah menerima uang dari Siti Sapurah alias Ipung. Di mana sebelumnya, kepada media Ipung mengatakan pernah memberikan uang miliaran kepada Jero Bendesa desa Pakraman Serangan.

 

Menurutnya uang diterimanya dari Ipung adalah dana punia kepada desa. Tak ada sangkut pautnya dengan persoalan penutupan jalan atau Maslaah tanah antara Ipung dan PT BTID. 

 

“Uang itu memang benar diberikan oleh Ibu Ipung sebagai bentuk dana punia, dan uang tersebut sudah masuk ke kas desa. Ada laporan pertanggungjawabannya kok,” tuturnya yang juga  diamini Bendahara Desa Adat Serangan, I Made Dastra, Sabtu (12/3/2022).

 

Made Sedana juga mengklarifikasi ucapannya ke media sebelumnya terkait tanah milik Ipung yang dimana beberapa waktu lalu sempat viral dan heboh karena Ipung menutup jalan di atas tanahnya itu pakai batako. 

 

“Yang saya maksud adalah, bahwa saya tidak tahu kenapa tanah tersebut sampai dibangun jalan. Bukan tanah itu milik siapa,” tambahnya.



DENPASAR – PT BTID yang diduga menyerobot tanah milik Siti Sapurah alias Ipung di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, makin tersudut. Sebab keterangan Bendesa Adat Serangan dan Kepala Dinas Kehutanan Bali menguntungkan pihak Ipung.

 

Jero Bendesa Desa Pakraman Serangan, Denpasar Selatan, I Made Sedana menjelaskan, berdasarkan data yang diperoleh dari prajuru baga palemahan Desa Adat Serangan, jalan yang dibangun saat ini sesuai dengan posisi tanah dengan pipil nomor 2, persil nomor 15a memiliki luas 1,12 hektare adalah milik Daeng Abdul Kadir, ayah Ipung

 

“Itu berdasarkan data yang kami peroleh dari prajuru baga palemahan,” tutur I Made Sedana didampingi I Wayan Sukeratha, selaku prajuru baga palemahan, Sabtu (12/3/2022).

 

Sedana juga mengaku menerima surat dari pihak PT BTID yang ditujukan kepada desa serangan pada tanggal 10 Maret 2022. Dalam isi suratnya, pihak PT BTID menanyakan terkait statmen Kasatgas Polhut Tahura Agus Santoso dan perwakilan BPN Kota Denpasar. 

 

“Ini untuk menghindari kesimpangsiuran informasi, serta dijadikan data oleh pihak BTID,” jelasnya.

 

Sementara itu, Prajuru Baga Palemahan Desa Adat Serangan, I Wayan Sukeratha menambahkan, sebelumnya Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali telah mengeluarkan surat, bahwa tanah yang dibangun jalan bukan berada di kawasan hutan.

 

“Jadi surat dari Dinas Kehutanan Provinsi Bali ini yang ditanyakan oleh pihak BTID,” kata I Wayan Sukeratha.

Sebelumnya pihak BTID mengklaim membangun jalan di atas tanah yang disengketakan dengan Ipung, sebagai tanah hutan. Sedangkan Ipung mengklaim itu tanah miliknya.

 

Jro Bendesa Serangan, I Made Sedana juga tidak menampik pernah menerima uang dari Siti Sapurah alias Ipung. Di mana sebelumnya, kepada media Ipung mengatakan pernah memberikan uang miliaran kepada Jero Bendesa desa Pakraman Serangan.

 

Menurutnya uang diterimanya dari Ipung adalah dana punia kepada desa. Tak ada sangkut pautnya dengan persoalan penutupan jalan atau Maslaah tanah antara Ipung dan PT BTID. 

 

“Uang itu memang benar diberikan oleh Ibu Ipung sebagai bentuk dana punia, dan uang tersebut sudah masuk ke kas desa. Ada laporan pertanggungjawabannya kok,” tuturnya yang juga  diamini Bendahara Desa Adat Serangan, I Made Dastra, Sabtu (12/3/2022).

 

Made Sedana juga mengklarifikasi ucapannya ke media sebelumnya terkait tanah milik Ipung yang dimana beberapa waktu lalu sempat viral dan heboh karena Ipung menutup jalan di atas tanahnya itu pakai batako. 

 

“Yang saya maksud adalah, bahwa saya tidak tahu kenapa tanah tersebut sampai dibangun jalan. Bukan tanah itu milik siapa,” tambahnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/