alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Dinas Kesehatan Provinsi Bali Mengklaim Sudah Cairkan Insentif Nakes

DENPASAR – Informasi bahwa insentif para relawan dan tenaga kontrak dalam penanganan Covid-19 belum cair ditampik pihak Pemerintah Provinsi Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya mengatakan bahwa sebetulnya sudah dicairkan.

 

 

Suarjaya tidak memberikan penjelasan secara rinci. Namun, dia menyebutkan, insentif nakes sudah dibayar Januari sampai April. Sedangkan untuk insentif bulan Mei dan Juni akan segera dicairkan. 

 

“Insentif nakes sudah dibayar Januari sampai April. Mei Juni segera dicairkan,” jawabnya singkat. 

 

Suarjaya enggan meladeni lebih lanjut soal pengakuan sejumlah relawan dan tenaga kontrak yang mengaku insentifnya belum cair.

 

 

Sebelumnya, radarbali.id mendapat informasi dari pegawai kontrak dalam penanganan Covid-19 yang belum mendapat haknya sejak awal 2021. Sementara para relawan tidak menerima insentif sejak Maret 2021.

 

Sumber terpercaya radarbali.id menyebutkan, pegawai kontrak direkrut Pemprov Bali pada Maret 2020 atau awal meletusnya Covid-19.

 

“Tenaga kontrak yang direkrut jumlahnya puluhan. Sekitar 50-an orang,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan Minggu (11/7).

Baca Juga:  Disebut Mendagri Belum Cairkan Insentif Nakes, Sekda Bali Membantah

 

Menurut sumber, awal Covid-19, insentif pegawai kontrak berjalan lancar. Pegawai kontrak ini ditugaskan di tempat karantina.

 

Insentif mulai ngadat pada Januari – Februari 2021. Seharusnya selama dua bulan tersebut pegawai kontrak masih menerima insentif karantina.

 

“Menurut Dinas Kesehatan Provinsi, insentif pegawai kontrak tidak cair karena terjadi kesalahan teknis, ada administrasi yang tidak terdaftar di pusat,” beber sumber yang juga tenaga kesehatan itu.

 

Meski tidak lagi mendapat insentif, pegawai kontrak tetap mengabdi. Pegawai kontrak yang memiliki latar belakang perawat itu masih memiliki rasa kemanusiaan.

 

Lebih lanjut dijelaskan, pada Desember 2020, diadakan perekrutan relawan. Ada sekitar 15 orang yang mendaftar menjadi relawan.

 

“Relawan ini ada yang perawat, ada juga bidan. Mereka tidak digaji, tapi mendapat insentif sesuai kemampuan keuangan daerah,” jelas sumber koran ini.

Baca Juga:  Persiapan Vaksinasi, Dinas Kesehatan Bali Latih 120 Vaksinator

 

Saat itu, para relawan mendapat informasi bakal mendapat insentif Rp 5 juta/ bulan. Mereka pun mulai bekerja. Salah satu tugasnya membantu vaksinasi. Seiring berjalannya waktu, insentif pada Maret 2021 tak cair.

 

Bahkan, hingga Juni berakhir mereka tak mendapat insentif dari pemerintah. Para relawan mulai resah. Maklum, mereka memiliki tanggungan keluarga yang harus dihidupi.

 

“Sekarang ini ada sekitar lima orang yang berhenti menjadi relawan karena tidak mendapat insentif. Sementara mereka punya istri dan anak yang butuh hidup,” tandas sumber.

 

Di sisi lain, per Juli ini ada surat tugas baru yang meminta pegawai kontrak dan relawan menjadi vaksinator. Ini seiring dengan kejar target vaksinasi di Bali. Apesnya, kemungkinan besar insentif beberapa bulan sebelumnya yang ngadat tidak dibayar.

 

“Kami tenaga kesehatan permintaan kami sederhana, hak kami diberikan, mengingat kewajiban dan tanggungjawab sudah kami lakukan. Kami juga punya keluarga yang harus dihidupi,” pungkasnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR – Informasi bahwa insentif para relawan dan tenaga kontrak dalam penanganan Covid-19 belum cair ditampik pihak Pemerintah Provinsi Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya mengatakan bahwa sebetulnya sudah dicairkan.

 

 


Suarjaya tidak memberikan penjelasan secara rinci. Namun, dia menyebutkan, insentif nakes sudah dibayar Januari sampai April. Sedangkan untuk insentif bulan Mei dan Juni akan segera dicairkan. 

 

“Insentif nakes sudah dibayar Januari sampai April. Mei Juni segera dicairkan,” jawabnya singkat. 

 

Suarjaya enggan meladeni lebih lanjut soal pengakuan sejumlah relawan dan tenaga kontrak yang mengaku insentifnya belum cair.

 

 

Sebelumnya, radarbali.id mendapat informasi dari pegawai kontrak dalam penanganan Covid-19 yang belum mendapat haknya sejak awal 2021. Sementara para relawan tidak menerima insentif sejak Maret 2021.

 

Sumber terpercaya radarbali.id menyebutkan, pegawai kontrak direkrut Pemprov Bali pada Maret 2020 atau awal meletusnya Covid-19.

 

“Tenaga kontrak yang direkrut jumlahnya puluhan. Sekitar 50-an orang,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan Minggu (11/7).

Baca Juga:  Vaksin Booster di Bali Tunggu Pemerintah Pusat

 

Menurut sumber, awal Covid-19, insentif pegawai kontrak berjalan lancar. Pegawai kontrak ini ditugaskan di tempat karantina.

 

Insentif mulai ngadat pada Januari – Februari 2021. Seharusnya selama dua bulan tersebut pegawai kontrak masih menerima insentif karantina.

 

“Menurut Dinas Kesehatan Provinsi, insentif pegawai kontrak tidak cair karena terjadi kesalahan teknis, ada administrasi yang tidak terdaftar di pusat,” beber sumber yang juga tenaga kesehatan itu.

 

Meski tidak lagi mendapat insentif, pegawai kontrak tetap mengabdi. Pegawai kontrak yang memiliki latar belakang perawat itu masih memiliki rasa kemanusiaan.

 

Lebih lanjut dijelaskan, pada Desember 2020, diadakan perekrutan relawan. Ada sekitar 15 orang yang mendaftar menjadi relawan.

 

“Relawan ini ada yang perawat, ada juga bidan. Mereka tidak digaji, tapi mendapat insentif sesuai kemampuan keuangan daerah,” jelas sumber koran ini.

Baca Juga:  DPRD Ngaku Guru Mengeluh TPP Belum Cair 2 Bulan, Eksekutif "Diadili"

 

Saat itu, para relawan mendapat informasi bakal mendapat insentif Rp 5 juta/ bulan. Mereka pun mulai bekerja. Salah satu tugasnya membantu vaksinasi. Seiring berjalannya waktu, insentif pada Maret 2021 tak cair.

 

Bahkan, hingga Juni berakhir mereka tak mendapat insentif dari pemerintah. Para relawan mulai resah. Maklum, mereka memiliki tanggungan keluarga yang harus dihidupi.

 

“Sekarang ini ada sekitar lima orang yang berhenti menjadi relawan karena tidak mendapat insentif. Sementara mereka punya istri dan anak yang butuh hidup,” tandas sumber.

 

Di sisi lain, per Juli ini ada surat tugas baru yang meminta pegawai kontrak dan relawan menjadi vaksinator. Ini seiring dengan kejar target vaksinasi di Bali. Apesnya, kemungkinan besar insentif beberapa bulan sebelumnya yang ngadat tidak dibayar.

 

“Kami tenaga kesehatan permintaan kami sederhana, hak kami diberikan, mengingat kewajiban dan tanggungjawab sudah kami lakukan. Kami juga punya keluarga yang harus dihidupi,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/