alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Pariwisata Lesu, Pelaku Wisata Kecewa Tiongkok Larang Warganya ke Bali

DENPASAR – Menurunnya kunjungan turis asing ke Bali akibat erupsi Gunung Agung membuat puluhan pelaku pariwisata kelimpungan.

Kemarin (12/12) bertempat di Kantor Disparda Provinsi Bali, asosiasi hotel bintang empat dan lima, asosiasi vila, agen perjalanan online hingga perwakilan maskapai dalam dan luar negeri, berkeluh kesah kepada Gubernur Pastika.

Mereka mengeluhkan lesunya pariwisata selama dua bulan terakhir. Mereka kecewa dengan sikap sejumlah negara luar seperti Tiongkok yang mengeluarkan larangan pergi ke Bali.

Ada kesan seolah-olah Bali sangat berbahaya untuk dikunjungi. Padahal, kondisi di Bali sejatinya sangat aman.

Salah satu perwakilan peserta rapat mengatakan, banyak karyawan sudah mulai menanyakan kapan kondisi sepi ini berakhir.

Baca Juga:  Bentuk Banjar Sendiri, Pengungsi Menolak Pindah dari Tenda Ulakan

Karyawan hotel dan vila mengaku mulai berat membayar cicilan motor, rumah dan biaya anak sekolah.

Lucunya lagi, ada peserta rapat yang secara blak-blakan minta status Awas Gunung Agung diturunkan agar pariwisata Bali bisa segera ramai.

Menanggapi curhat tersebut, Pastika menyebut ada kesalahpahaman informasi. “Ada salah paham di dalam dan luar negeri.

Mereka pikir seluruh Bali dalam keadaan bahaya. Padahal, yang tidak boleh ada aktivitas hanya radius 8 km dari puncak Gunung Agung. Selebihnya aman,” tegas Pastika. 

Di seluruh Bali, lanjut Pastika, ada 716 desa. Sementara status Awas (level IV) Gunung Agung juga hanya berlaku untuk 22 desa di Karangasem yang jaraknya 8 km dari puncak.

Baca Juga:  Darurat Gunung Agung, ASDP Siapkan Semua Kapal Jika Terjadi Eksodus

Selebihnya, yakni 56 desa di Karangasem statusnya normal. Bahkan, sejumlah tempat wisata favorit seperti Pantai Amed dipastikan aman.

“Ini (Bali aman) supaya jelas agar tidak salah. Yang status Awas itu Gunung Agung , bukan Pulau Bali. Kalau Bali aman-aman saja,” imbuh gubernur dua periode itu. (



DENPASAR – Menurunnya kunjungan turis asing ke Bali akibat erupsi Gunung Agung membuat puluhan pelaku pariwisata kelimpungan.

Kemarin (12/12) bertempat di Kantor Disparda Provinsi Bali, asosiasi hotel bintang empat dan lima, asosiasi vila, agen perjalanan online hingga perwakilan maskapai dalam dan luar negeri, berkeluh kesah kepada Gubernur Pastika.

Mereka mengeluhkan lesunya pariwisata selama dua bulan terakhir. Mereka kecewa dengan sikap sejumlah negara luar seperti Tiongkok yang mengeluarkan larangan pergi ke Bali.

Ada kesan seolah-olah Bali sangat berbahaya untuk dikunjungi. Padahal, kondisi di Bali sejatinya sangat aman.

Salah satu perwakilan peserta rapat mengatakan, banyak karyawan sudah mulai menanyakan kapan kondisi sepi ini berakhir.

Baca Juga:  Duh, Enggan Tinggal di Kamp, Pengungsi Pilih Tidur Dekat Jembatan

Karyawan hotel dan vila mengaku mulai berat membayar cicilan motor, rumah dan biaya anak sekolah.

Lucunya lagi, ada peserta rapat yang secara blak-blakan minta status Awas Gunung Agung diturunkan agar pariwisata Bali bisa segera ramai.

Menanggapi curhat tersebut, Pastika menyebut ada kesalahpahaman informasi. “Ada salah paham di dalam dan luar negeri.

Mereka pikir seluruh Bali dalam keadaan bahaya. Padahal, yang tidak boleh ada aktivitas hanya radius 8 km dari puncak Gunung Agung. Selebihnya aman,” tegas Pastika. 

Di seluruh Bali, lanjut Pastika, ada 716 desa. Sementara status Awas (level IV) Gunung Agung juga hanya berlaku untuk 22 desa di Karangasem yang jaraknya 8 km dari puncak.

Baca Juga:  Bandara Beroperasi Normal, Tamu Hotel Tak Terpengaruh Erupsi

Selebihnya, yakni 56 desa di Karangasem statusnya normal. Bahkan, sejumlah tempat wisata favorit seperti Pantai Amed dipastikan aman.

“Ini (Bali aman) supaya jelas agar tidak salah. Yang status Awas itu Gunung Agung , bukan Pulau Bali. Kalau Bali aman-aman saja,” imbuh gubernur dua periode itu. (


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/