alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Rata-Rata Sisa Makanan di Rumah Tangga di Denpasar 0,34 Kg per Hari

DENPASAR – Koordinator Riset  Plastik dalam Rantai Pangan yang dilakukan PPLH Bali, Indra Wahyuni menyampaikan bahwa hasil riset menyatakan rata-rata rumah tangga menghasilkan sisa makanan 0,34/hari, rumah makan/café dihasilkan 2,93 Kg/hari, pasar Pasar Induk 108,2 Kg per harinya, pasar tradisional sebanyak 64,05 Kg/hari.

 

PPLH Bali juga memberikan rekomendasi atas hasil riset yang disponsori oleh Plastic Solution Fund, Aliansi Zero Waste Indonesia ini di antaranya pengurangan sisa makanan, pemanfaatan food waste untuk budidaya maggot, kompos, ecoenzim.

 

“Selain itu sebelum jadi sisa makanan hendak bisa berbagai dengan yang lain dari pada jadi sampah,” ujarnya pada Minggu (13/2/2022).

 

Indra Wahyuni menjelaskan, riset yang digelar pihaknya bertujuan mengkaji timbulan sampah terutama “Food Waste” yang dihasilkan di tingkat rumah tangga, pasar tradisional, rumah makan dan retail/supermarket.

 

Survey dilaksanakan selama 6 kali yang terdiri dari weekdays, weekend, dan rahinan. Responden survei melibatkan 23 KK di 7 Desa (Denpasar Utara dan Denpasar Timur) 3 pasar induk 3 pasar tradisional, 3 pasar modern/ritel dan 3 café/warung makan.

 

Tahapan Survey dilakukan selama 2 bulan mulai November – Desember 2021. Metode Survey : Pengisian Kuesioner APP & Volume Food Waste, Observasi, Wawancara.

  

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan PPKLH – DKLH Provinsi, Dwi Arbani mengapresiasi kerja PPLH Bali dalam penelitian “Food Waste” di Kota Denpasar. 

 

Oleh karena itu sejak awal riset ini bekerjasama dengan DKLH Provinsi Bali. Mengingat TPA Suwung sudah semakin sempit dan lahan yang tersisa hanya tinggal 5 hektar.

 

“Angka 5 hektare untuk sebuah TPA tidak luas karena dalam sekejap langsung menggunung. Peraturan Gubernur 47 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber menjawab kondisi ini sehingga setiap desa didesak untuk segera memiliki TPST 3R,” ujarnya.

Baca Juga:  167 Kapal Berpotensi Mangkrak, Minta Pelindo III Perdalam Dermaga

 

Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar yang diwakili oleh Ami sangat terkejut mendengar paparan hasil riset PPLH Bali terkait dengan food waste yang ternyata begitu tinggi.

 

“Kami menyadari Kota Denpasar ini sangat bergantung dengan desa-desa lain soal ketersediaan pangan. Karena Denpasar tidak memiliki lahan yang cukup untuk bertani. Oleh karena itu ada beberapa upaya yang sudah lakukan diantaranya Sosialisasi dan pelatihan pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman), Pemanfaatan pekarangan rumah untuk P2L atau KRPL (Urban Farming), Pengawasan keamanan mutu pangan segar di klpk P2L/KRPL maupun produk segar yang ada di pasaran,” katanya.

 

Sementara itu, Bayu Wirawan adalah salah satu pendamping Program P2L di Denpasar Utara termasuk di Banjar Tegeh Sari pada kesempatan sarasehan Sabtu (12/2/2022) menyampaikan teknik mengatasi food waste dengan membuat tong kompos.

 

Ada 2 model yang dikenalkan yaitu model tumpuk dan model menggunakan 1 tong. Kedua model ini diberikan lubang sebagai saringan untuk menamping cairan lindinya.

“Saya sudah mencoba metode ini selama 2 tahun, dan sangat menguntungkan selain dapat magot, kompos juga dapat pupuk cair,” katanya.

 

Lain dengan Ana Rohana Salamah, seorang pembudidaya magot dari Pemogan. Sudah hampir 12 tahun bergulat dengan sampah dan 5 tahun menekuni budidaya magot. Sampah organik terutama food waste dikumpulkan mulai di rumahnya dan kadang disumbang oleh tetangga atau toko buah.

Baca Juga:  Pol PP Badung "Buru" Bule Mengais Sisa Makanan di Sesajen di Kuta

 

Nilai ekonomi yang didapat dari usaha ini, Ana bisa menjual magot, telur maggot dan memberikan suplemen untuk ayam di rumahnya.

 

”Rumah saya sempit dan tempat budidaya magot juga tidak besar. Saya hanya ingin food waste tidak terbuang dan menimbulkan bau oleh itu budidaya magot adalah cara yang tepat. Saya tidak pernah menyerah meskipun ketika sosialisasi tidak ada yang langsung meniru. Karena saya meyakini lambat laun jika tahu untungnya pasti akan meniru. Ikhlas saja” tutur Ana.

 

Berbicara soal loose waste dan food waste erat kaitannya dengan Pakta Milan yaitu perjanjian internasional yang ditandatangani oleh 205 kota, yang mewakili lebih dari 450 juta penduduk.

 

Pakta tersebut mencakup kerangka kerja kegiatan yang menyentuh 6 tema, yakni tata kelola, pola makan dan gizi berkelanjutan, keadilan sosial dan ekonomi, produksi pangan, pasokan dan distribusi pangan, dan sampah pangan.

 

Fani mewakili Yayasan Gita Pertiwi Solo adalah lembaga swadaya masyarakat yang turut menghantarkan pemerintahan Surakarta menjadi kota kedua setelah Bandung yang turut mendatangani Pacta Milan/Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP).

 

“Surakarta memiliki komitmen pengembangan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan yang mampu mengakses makanan bernutrisi baik, melindungi keanekaragaman hayati dan mengatasi sampah pangan. Selain itu Surakarta juga menjadi kota pertama di Indonesia yang menandatangani Glasgow Food and Climate Declaration. Komitmennya, sistem pangan yang memperhatikan perubahan iklim dan kesiapsiagaan ketahanan pangan. Kapan Denpasar akan menyusul Kota Bandung dan Surakarta ya?,” tanyanya. 



DENPASAR – Koordinator Riset  Plastik dalam Rantai Pangan yang dilakukan PPLH Bali, Indra Wahyuni menyampaikan bahwa hasil riset menyatakan rata-rata rumah tangga menghasilkan sisa makanan 0,34/hari, rumah makan/café dihasilkan 2,93 Kg/hari, pasar Pasar Induk 108,2 Kg per harinya, pasar tradisional sebanyak 64,05 Kg/hari.

 

PPLH Bali juga memberikan rekomendasi atas hasil riset yang disponsori oleh Plastic Solution Fund, Aliansi Zero Waste Indonesia ini di antaranya pengurangan sisa makanan, pemanfaatan food waste untuk budidaya maggot, kompos, ecoenzim.

 

“Selain itu sebelum jadi sisa makanan hendak bisa berbagai dengan yang lain dari pada jadi sampah,” ujarnya pada Minggu (13/2/2022).

 

Indra Wahyuni menjelaskan, riset yang digelar pihaknya bertujuan mengkaji timbulan sampah terutama “Food Waste” yang dihasilkan di tingkat rumah tangga, pasar tradisional, rumah makan dan retail/supermarket.

 

Survey dilaksanakan selama 6 kali yang terdiri dari weekdays, weekend, dan rahinan. Responden survei melibatkan 23 KK di 7 Desa (Denpasar Utara dan Denpasar Timur) 3 pasar induk 3 pasar tradisional, 3 pasar modern/ritel dan 3 café/warung makan.

 

Tahapan Survey dilakukan selama 2 bulan mulai November – Desember 2021. Metode Survey : Pengisian Kuesioner APP & Volume Food Waste, Observasi, Wawancara.

  

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan PPKLH – DKLH Provinsi, Dwi Arbani mengapresiasi kerja PPLH Bali dalam penelitian “Food Waste” di Kota Denpasar. 

 

Oleh karena itu sejak awal riset ini bekerjasama dengan DKLH Provinsi Bali. Mengingat TPA Suwung sudah semakin sempit dan lahan yang tersisa hanya tinggal 5 hektar.

 

“Angka 5 hektare untuk sebuah TPA tidak luas karena dalam sekejap langsung menggunung. Peraturan Gubernur 47 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber menjawab kondisi ini sehingga setiap desa didesak untuk segera memiliki TPST 3R,” ujarnya.

Baca Juga:  Rekor, Kasus Positif hanya Tambah 8 Orang

 

Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar yang diwakili oleh Ami sangat terkejut mendengar paparan hasil riset PPLH Bali terkait dengan food waste yang ternyata begitu tinggi.

 

“Kami menyadari Kota Denpasar ini sangat bergantung dengan desa-desa lain soal ketersediaan pangan. Karena Denpasar tidak memiliki lahan yang cukup untuk bertani. Oleh karena itu ada beberapa upaya yang sudah lakukan diantaranya Sosialisasi dan pelatihan pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman), Pemanfaatan pekarangan rumah untuk P2L atau KRPL (Urban Farming), Pengawasan keamanan mutu pangan segar di klpk P2L/KRPL maupun produk segar yang ada di pasaran,” katanya.

 

Sementara itu, Bayu Wirawan adalah salah satu pendamping Program P2L di Denpasar Utara termasuk di Banjar Tegeh Sari pada kesempatan sarasehan Sabtu (12/2/2022) menyampaikan teknik mengatasi food waste dengan membuat tong kompos.

 

Ada 2 model yang dikenalkan yaitu model tumpuk dan model menggunakan 1 tong. Kedua model ini diberikan lubang sebagai saringan untuk menamping cairan lindinya.

“Saya sudah mencoba metode ini selama 2 tahun, dan sangat menguntungkan selain dapat magot, kompos juga dapat pupuk cair,” katanya.

 

Lain dengan Ana Rohana Salamah, seorang pembudidaya magot dari Pemogan. Sudah hampir 12 tahun bergulat dengan sampah dan 5 tahun menekuni budidaya magot. Sampah organik terutama food waste dikumpulkan mulai di rumahnya dan kadang disumbang oleh tetangga atau toko buah.

Baca Juga:  Pasien Covid-19 di Jatim Melonjak, Disel: Masuk Bali Wajib Test Swab!

 

Nilai ekonomi yang didapat dari usaha ini, Ana bisa menjual magot, telur maggot dan memberikan suplemen untuk ayam di rumahnya.

 

”Rumah saya sempit dan tempat budidaya magot juga tidak besar. Saya hanya ingin food waste tidak terbuang dan menimbulkan bau oleh itu budidaya magot adalah cara yang tepat. Saya tidak pernah menyerah meskipun ketika sosialisasi tidak ada yang langsung meniru. Karena saya meyakini lambat laun jika tahu untungnya pasti akan meniru. Ikhlas saja” tutur Ana.

 

Berbicara soal loose waste dan food waste erat kaitannya dengan Pakta Milan yaitu perjanjian internasional yang ditandatangani oleh 205 kota, yang mewakili lebih dari 450 juta penduduk.

 

Pakta tersebut mencakup kerangka kerja kegiatan yang menyentuh 6 tema, yakni tata kelola, pola makan dan gizi berkelanjutan, keadilan sosial dan ekonomi, produksi pangan, pasokan dan distribusi pangan, dan sampah pangan.

 

Fani mewakili Yayasan Gita Pertiwi Solo adalah lembaga swadaya masyarakat yang turut menghantarkan pemerintahan Surakarta menjadi kota kedua setelah Bandung yang turut mendatangani Pacta Milan/Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP).

 

“Surakarta memiliki komitmen pengembangan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan yang mampu mengakses makanan bernutrisi baik, melindungi keanekaragaman hayati dan mengatasi sampah pangan. Selain itu Surakarta juga menjadi kota pertama di Indonesia yang menandatangani Glasgow Food and Climate Declaration. Komitmennya, sistem pangan yang memperhatikan perubahan iklim dan kesiapsiagaan ketahanan pangan. Kapan Denpasar akan menyusul Kota Bandung dan Surakarta ya?,” tanyanya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/