alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Di-PHK Sewenang-wenang, Ini Kata Dua Pimpinan Serikat Pekerja Hotel Ayana

MANGUPURA – Dugaan ada union busting atau pemberangusan serikat pekerja mencuat di Hotel Ayana, Jimbaran. Dua pimpinan, yakni ketua dan sekretaris serikat pekerja Hotel Ayana tiba-tiba di-PHK. Apalagi, sebelum ada pemecatan, pihak manajemen sempat mempersoalkan keberadaan serikat pekerja ke Disnaker Badung. Dua pimpinan serikat pekerja yang di-PHK pun angkat bicara.

Dua karyawan yang di-PHK itu adalah Kepada Ketua Umum Serikat Pekerja Mandiri Ayana Resort & Spa Bali, Wahyu Pramana Dwi Putra  dan Sekretaris Angger Eka Rizky. Pemecatan keduanya tanpa adanya alasan hukum. Wahyu Pramana Dwi Putra  di-PHK pada tanggal 22 Maret 2022 dengan alasan dianggap mangkir, sedangkan Angger Eka Rizky di PHK pada 18 Maret 2022 alasannya di bulan November 2021 melakukan pelanggaran.

“Apa yang dilakukan oknum manajemen ini menghalangi kebebasan berserikat di Ayana Bali. Setelah kita membaca surat PHK, itu PHK terlucu. PHK yang sangat dibuat-buat, pihak manajemen tidak ada alasan hukum yang jelas. Buat kami Serikat Pekerja Mandiri yang afiliasi resmi dengan kawan-kawan di Serikat Pekerja Mandiri di Ayana akan melakukan perlawan terhadap oknum manajemen,” kata Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana saat berdemo dengan puluhan anggotanya di Hotel Ayana Jimbaran, Sabtu (14/5) pagi.

Wahyu Pramana Dwi Putra  mengatakan, awal tindakan dilakukan manajemen itu dari kebijakan yang diambil di masa pandemi Covid-19. “Artinya tidak ada keadilan kepada karyawan. Banyak hal, termasuk THR kita juga dipotong menjadi 75 persen, sedangkan SE Gubernur Bali menyatakan tidak boleh ada pemotongan THR,” terangnya yang didampingi sekretaris serikat, Angger Eka Rizky.

Atas kekecewaan tersebut, mereka bersama teman-teman di Ayana ingin menyampaikan keluh kesah yang diwadahi Serikat Pekerja Mandiri. Serikat Pekerja Mandiri Ayana melakukan pencatatan serikat pekerja pada 18 Januari 2022 dan sudah disahkan oleh Disperinaker Badung.

“Kami menerima bukti pencatatan. Selama menerima bukti pencatatan, pihak Ayana Bali mencari tahu, dengan hal itu mereka melakukan intimidasi dengan teman-teman kami yang sudah mendirikan serikat ini,” terangnya.

Kata dia, ada teman-teman yang tergabung di Serikat Pekerja dipulangkan tanpa ada alasan yang jelas. Kemudian malamnya mereka dihubungi kembali. Selain itu, karyawan yang tergabung di serikat pekerja jadwalnya juga dikosongkan, alasannya efisiensi.

“Setelah itu, Sekretaris Umum saya diberikan surat panggilan ke manajemen dan  ada pertemuan. Dia diberhentikan sepihak atas pelanggaran interdisiplin pada bulan November 2021. Mekanisme dalam pemecatan ini tidak sesuai dengan undang-undang, harusnya ada SP 1, 2, dan baru kemudian SP 3. Tetapi langsung dilakukan pemecatan,” bebernya.

Pada tanggal 21 Maret ia menyampaikan bahwa sudah terbentuk Serikat Pekerja Mandiri Ayana.  Malah pada tanggal 22 Maret dia dikirimi surat pemanggilan oleh manajemen mengenai tugas dan tanggung jawab.

“Saya ladeni dan saya dikatakan mangkir,” bebernya.

Menurutnya, tugas yang dikatakan mangkir ini berkaitan ketika dia diperbantukan di Ayana Jakarta. Padahal yang ia ketahui aturan mutasi tidak boleh dilakukan oleh dua PT yang berbeda. Namun ia bersedia ke Ayana Jakarta atas persetujuan dia sendiri. Dua minggu kontraknya hendak mau selesai, ia menanyakan kembali ke manajemen dan ternyata kontraknya diperpanjang di Ayana Jakarta.

Namun  orang tua Wahyu dalam kondisi sakit. Hal ini juga disampaikan kepada manajemen Ayana  Jakarta dengan memberikan hasil diagnosa sakit orang tuanya serta surat pernyataan. Sebagai kompensasinya dia memberikan temannya untuk menggantikan posisinya di Ayana Jakarta.

“Kontrak kedua saya tidak tanda tangan, tetapi  kontrak ketiga saya diberikan tugas wajib dilakukan dua minggu perpanjangan. Padahal saya menyampaikan bahwa tidak bisa perpanjang di Ayana Jakarta karena orang tua sakit. Dengan alasan tersebut saya dinyatakan mangkir. Yang saya tahu mangkir, lima hari tidak kerja dipanggil pertama, selanjutnya tidak bekerja dipanggil kembali. Untuk itu saya menilai Ayana terlalu berani melakukan tindakan yang arogansi terhadap hak karyawan, ” tandasnya.

Dewa Rai menuding alasan manajemen Hotel Ayana memecat keduanya tidak berdasar. Bahkan mengada-ada. Sebaliknya, pemecatan ini hanyalah dalih untuk memberangus serikat pekerja yang baru didirikan.

Menurutnya diduga ada oknum manajemen yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang nomor 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja/ serikat buruh dan Permenaker nomor 21 tahun 2021.  Karena adanya dugaan menghalang-halangi kebebasan berserikat dan berkumpul, dengan cara melakukan PHK.

Karena sebelum pemecatan sepihak, ada oknum manajemen Ayana Bali komplain ke Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disperinaker) Badung dan mereka protes kepada pemerintah terkait adanya serikat pekerja di Ayana tanpa memberitahukan kepada manajemen. Setelah itu, oknum manajemen mengambil tindakan untuk PHK dua karyawannya merupakan warga Jimbaran. (dwi)



MANGUPURA – Dugaan ada union busting atau pemberangusan serikat pekerja mencuat di Hotel Ayana, Jimbaran. Dua pimpinan, yakni ketua dan sekretaris serikat pekerja Hotel Ayana tiba-tiba di-PHK. Apalagi, sebelum ada pemecatan, pihak manajemen sempat mempersoalkan keberadaan serikat pekerja ke Disnaker Badung. Dua pimpinan serikat pekerja yang di-PHK pun angkat bicara.

Dua karyawan yang di-PHK itu adalah Kepada Ketua Umum Serikat Pekerja Mandiri Ayana Resort & Spa Bali, Wahyu Pramana Dwi Putra  dan Sekretaris Angger Eka Rizky. Pemecatan keduanya tanpa adanya alasan hukum. Wahyu Pramana Dwi Putra  di-PHK pada tanggal 22 Maret 2022 dengan alasan dianggap mangkir, sedangkan Angger Eka Rizky di PHK pada 18 Maret 2022 alasannya di bulan November 2021 melakukan pelanggaran.

“Apa yang dilakukan oknum manajemen ini menghalangi kebebasan berserikat di Ayana Bali. Setelah kita membaca surat PHK, itu PHK terlucu. PHK yang sangat dibuat-buat, pihak manajemen tidak ada alasan hukum yang jelas. Buat kami Serikat Pekerja Mandiri yang afiliasi resmi dengan kawan-kawan di Serikat Pekerja Mandiri di Ayana akan melakukan perlawan terhadap oknum manajemen,” kata Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana saat berdemo dengan puluhan anggotanya di Hotel Ayana Jimbaran, Sabtu (14/5) pagi.

Wahyu Pramana Dwi Putra  mengatakan, awal tindakan dilakukan manajemen itu dari kebijakan yang diambil di masa pandemi Covid-19. “Artinya tidak ada keadilan kepada karyawan. Banyak hal, termasuk THR kita juga dipotong menjadi 75 persen, sedangkan SE Gubernur Bali menyatakan tidak boleh ada pemotongan THR,” terangnya yang didampingi sekretaris serikat, Angger Eka Rizky.

Atas kekecewaan tersebut, mereka bersama teman-teman di Ayana ingin menyampaikan keluh kesah yang diwadahi Serikat Pekerja Mandiri. Serikat Pekerja Mandiri Ayana melakukan pencatatan serikat pekerja pada 18 Januari 2022 dan sudah disahkan oleh Disperinaker Badung.

“Kami menerima bukti pencatatan. Selama menerima bukti pencatatan, pihak Ayana Bali mencari tahu, dengan hal itu mereka melakukan intimidasi dengan teman-teman kami yang sudah mendirikan serikat ini,” terangnya.

Kata dia, ada teman-teman yang tergabung di Serikat Pekerja dipulangkan tanpa ada alasan yang jelas. Kemudian malamnya mereka dihubungi kembali. Selain itu, karyawan yang tergabung di serikat pekerja jadwalnya juga dikosongkan, alasannya efisiensi.

“Setelah itu, Sekretaris Umum saya diberikan surat panggilan ke manajemen dan  ada pertemuan. Dia diberhentikan sepihak atas pelanggaran interdisiplin pada bulan November 2021. Mekanisme dalam pemecatan ini tidak sesuai dengan undang-undang, harusnya ada SP 1, 2, dan baru kemudian SP 3. Tetapi langsung dilakukan pemecatan,” bebernya.

Pada tanggal 21 Maret ia menyampaikan bahwa sudah terbentuk Serikat Pekerja Mandiri Ayana.  Malah pada tanggal 22 Maret dia dikirimi surat pemanggilan oleh manajemen mengenai tugas dan tanggung jawab.

“Saya ladeni dan saya dikatakan mangkir,” bebernya.

Menurutnya, tugas yang dikatakan mangkir ini berkaitan ketika dia diperbantukan di Ayana Jakarta. Padahal yang ia ketahui aturan mutasi tidak boleh dilakukan oleh dua PT yang berbeda. Namun ia bersedia ke Ayana Jakarta atas persetujuan dia sendiri. Dua minggu kontraknya hendak mau selesai, ia menanyakan kembali ke manajemen dan ternyata kontraknya diperpanjang di Ayana Jakarta.

Namun  orang tua Wahyu dalam kondisi sakit. Hal ini juga disampaikan kepada manajemen Ayana  Jakarta dengan memberikan hasil diagnosa sakit orang tuanya serta surat pernyataan. Sebagai kompensasinya dia memberikan temannya untuk menggantikan posisinya di Ayana Jakarta.

“Kontrak kedua saya tidak tanda tangan, tetapi  kontrak ketiga saya diberikan tugas wajib dilakukan dua minggu perpanjangan. Padahal saya menyampaikan bahwa tidak bisa perpanjang di Ayana Jakarta karena orang tua sakit. Dengan alasan tersebut saya dinyatakan mangkir. Yang saya tahu mangkir, lima hari tidak kerja dipanggil pertama, selanjutnya tidak bekerja dipanggil kembali. Untuk itu saya menilai Ayana terlalu berani melakukan tindakan yang arogansi terhadap hak karyawan, ” tandasnya.

Dewa Rai menuding alasan manajemen Hotel Ayana memecat keduanya tidak berdasar. Bahkan mengada-ada. Sebaliknya, pemecatan ini hanyalah dalih untuk memberangus serikat pekerja yang baru didirikan.

Menurutnya diduga ada oknum manajemen yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang nomor 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja/ serikat buruh dan Permenaker nomor 21 tahun 2021.  Karena adanya dugaan menghalang-halangi kebebasan berserikat dan berkumpul, dengan cara melakukan PHK.

Karena sebelum pemecatan sepihak, ada oknum manajemen Ayana Bali komplain ke Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disperinaker) Badung dan mereka protes kepada pemerintah terkait adanya serikat pekerja di Ayana tanpa memberitahukan kepada manajemen. Setelah itu, oknum manajemen mengambil tindakan untuk PHK dua karyawannya merupakan warga Jimbaran. (dwi)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/