alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Optimistis Eco Park Terwujud, TPA Suwung Bakal Jadi RTH

MESKI pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelontor dana sebesar Rp 250 miliar untuk revitalisasi, pemerintah masih ragu dan tidak yakin bisa menjamin polusi udara di TPA Suwung

Seperti ditegaskan Kepala Satker Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman PSPLP Bali, Ida Bagus Lanang Suardana, Selasa (13/11).

Menurutnya, bau sampah bisa hilang jika proyek Pembangkit Listrik Tanaga Sampah (PLTSa) terwujud.

Luas keseluruhan TPA Suwung sendiri 32, 4 hektare.

Rencanananya lahan yang akan digunakan PLTSa seluas 5 hektare, 5 hektare dibuatkan blok cell sanitary landfill, dan sisanya 22,4 hektare dibuat eco park atau ruang terbuka hijau (RTH).

Dijelaskan Lanang, untuk sanitary landfill dan eco park saat ini proyeknya sedang berjalan. “Eco park dan sanitary landfill ini satu paket. Pekerjaan inilah yang dianggarkan Rp 250 miliar.

Kontrak kami berjalan hingga Oktober 2019,” ungkap pria asal Gulingan, Mengwi, Badung, itu.

Pihaknya optimistis eco park bisa terlaksana sesuai target.

Perkembangan proyek saat ini sudah mencapai 50 persen.

Dengan eco park, nantinya TPA Suwung dihijaukan dibuat seperti hutan yang dipenuhi pepohonan dan rumput hijau.

Jenis pohon yang ditanam antara lain pohon bambu, pohon jepun, dan pohon bintaro. Dipilihnya tanaman tersebut sudah melalui uji coba. Khusus jepun sudah terbukti tahan cuaca ekstrem.

Untuk mewujudkan itu, sampah yang menumpuk saat ini dibentuk terasering dengan ketinggian masing-masing terasering 2 – 3 meter.

Pengurukan ini untuk mengilangkan bakteri dan lalat. Kemudian diuruk dengan tanah subur dari Desa Keramas, Gianyar. Kemudian sampah diuruk dengan tanah setebal 1 meter.

Setelah itu baru ditanami rumput dan pohon.

Pembuatan eco park ini selain mengurangi bau juga untuk menambah RTH di wilayah Kota Denpasar. Selain itu, nantinya eco park juga dikelilingi jogging track untuk berolaharaga.

Disinggung keamanan jogging track, Lanang menyebut akan dikelola dengan baik dengan dipasangi rambu-rambu.

“Setelah TPA Suwung dihutankan dan PLTSA terwujud, harusnya bau sampah sudah hilang.

Tapi, kalau PLTSA belum terwujud, mungkin baunya berkurang saja karena pengelolaan sampahnya masih,” tuturnya.

Kendati demikian, penanganan sampah harus dimulai dari hulu. Sebelum dibawa ke TPA sampah harus dipilah terlebih dahulu. Saat ini sampah ke TPA Suwung rata-rata 1.400 ton per hari.

Sampah tersebut berasal dari daerah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan).

Namun, tegas Lanang, sampah paling banyak berasal dari Denpasar dan Badung. Dari Denpasar saja diperkirakan 900 ton setiap harinya



MESKI pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelontor dana sebesar Rp 250 miliar untuk revitalisasi, pemerintah masih ragu dan tidak yakin bisa menjamin polusi udara di TPA Suwung

Seperti ditegaskan Kepala Satker Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman PSPLP Bali, Ida Bagus Lanang Suardana, Selasa (13/11).

Menurutnya, bau sampah bisa hilang jika proyek Pembangkit Listrik Tanaga Sampah (PLTSa) terwujud.

Luas keseluruhan TPA Suwung sendiri 32, 4 hektare.

Rencanananya lahan yang akan digunakan PLTSa seluas 5 hektare, 5 hektare dibuatkan blok cell sanitary landfill, dan sisanya 22,4 hektare dibuat eco park atau ruang terbuka hijau (RTH).

Dijelaskan Lanang, untuk sanitary landfill dan eco park saat ini proyeknya sedang berjalan. “Eco park dan sanitary landfill ini satu paket. Pekerjaan inilah yang dianggarkan Rp 250 miliar.

Kontrak kami berjalan hingga Oktober 2019,” ungkap pria asal Gulingan, Mengwi, Badung, itu.

Pihaknya optimistis eco park bisa terlaksana sesuai target.

Perkembangan proyek saat ini sudah mencapai 50 persen.

Dengan eco park, nantinya TPA Suwung dihijaukan dibuat seperti hutan yang dipenuhi pepohonan dan rumput hijau.

Jenis pohon yang ditanam antara lain pohon bambu, pohon jepun, dan pohon bintaro. Dipilihnya tanaman tersebut sudah melalui uji coba. Khusus jepun sudah terbukti tahan cuaca ekstrem.

Untuk mewujudkan itu, sampah yang menumpuk saat ini dibentuk terasering dengan ketinggian masing-masing terasering 2 – 3 meter.

Pengurukan ini untuk mengilangkan bakteri dan lalat. Kemudian diuruk dengan tanah subur dari Desa Keramas, Gianyar. Kemudian sampah diuruk dengan tanah setebal 1 meter.

Setelah itu baru ditanami rumput dan pohon.

Pembuatan eco park ini selain mengurangi bau juga untuk menambah RTH di wilayah Kota Denpasar. Selain itu, nantinya eco park juga dikelilingi jogging track untuk berolaharaga.

Disinggung keamanan jogging track, Lanang menyebut akan dikelola dengan baik dengan dipasangi rambu-rambu.

“Setelah TPA Suwung dihutankan dan PLTSA terwujud, harusnya bau sampah sudah hilang.

Tapi, kalau PLTSA belum terwujud, mungkin baunya berkurang saja karena pengelolaan sampahnya masih,” tuturnya.

Kendati demikian, penanganan sampah harus dimulai dari hulu. Sebelum dibawa ke TPA sampah harus dipilah terlebih dahulu. Saat ini sampah ke TPA Suwung rata-rata 1.400 ton per hari.

Sampah tersebut berasal dari daerah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan).

Namun, tegas Lanang, sampah paling banyak berasal dari Denpasar dan Badung. Dari Denpasar saja diperkirakan 900 ton setiap harinya



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/