alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Tugu Simpang Enam Denpasar Akan Diganti Patung Sita Kepandung

DENPASAR –  Tugu simpang enam Kota Denpasar (simpang Jalan Teuku Umar, Nusakambangan, Pulau Misol, Pulau Tarakan, Pulau Kawe) yang sudah lama berdiri dan menjadi ikon Kota Denpasar akan diganti dengan patung Sita Kepandung. Ini setelah Patung Tri Semaya yang didirikan di Kawasan Gajah Mada didirikan.  

 

Sekadar diketahui, Patung Tri Semaya yang berada di Jalan Gajah Mada dibuat perupa Putu Marmar Herayukti yang dikenal sebagai pembuat ogoh-ogoh dari Banjar Gemeh, Desa Dauh Puri Kangin.

Kini patung “Sita Kapandung” merupakan karya Nyoman Gede Sentana Putra yang akrab disapa dengan panggilan Kedux.

Kedux juga perupa pembuat ogoh-ogoh asal Banjar Tainsiat, Desa Dauh Puri Kaja, sekaligus motor builder yang karyanya kerap menjuarai berbagai kompetisi internasional. Rancangan tersebut kemudian diwujudkan sebagai bangunan oleh arsitek kenamaan Bali, I Ketut Siandana.

“Sita Kepandung” yang menjadi tajuk monumen yang akan dibangun di Kawasan Simpang Enam, Desa Dauh Puri, Kecamatan Denpasar Barat, itu adalah nukilan dari Aranyaka Kanda, bab ketiga dari Epos Ramayana yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Bali.  

Monumen itu akan memiliki tinggi 12 meter yang terdiri dari patung setinggi delapan meter yang disangga dengan pedestal setinggi empat meter. Material dan teknik patung menggunakan beton sedangkan pondasinya menggunakan gaya pasangan bata Bebadungan.

Baca Juga:  HORE! 364 Peserta Lulus CPNS Kota Denpasar, SK Terbit Desember

Pembiayaanya digalang dari dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan atau Coorporate Social Responsibility (CSR). Mekanisme ini dipilih sebagai perwujudan dari semangat Vasudhaiva Kutumbakam (gotong royong) yang diusung Pemkot Denpasar dalam memajukan warganya.

Hal itu terungkap saat Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara menerima tim gabungan pembangunan Monumen “Sita Kepandung”, di Ruang Rapat Kantor Wali Kota Denpasar, beberapa waktu lalu.

Jaya Negara menjelaskan, pembangunan monumen “Sita Kepandung” selain untuk mempercantik wajah kota yang secara artistik menyehatkan warga, juga memberi vibrasi positif bagi setiap orang yang melintas atau berada di sekitarnya melalui simbol, filosofi, dan makna yang dikandungnya. Vibrasi tersebut akan turut mendorong siapa saja yang melintas atau berada di sekitarnya untuk bertindak lebih produktif dan konstruktif.

“Yang terpenting, pembangunan monumen ini dilakukan secara gotong-royong sesuai semangat Vasudhaiva Kutumbakam. Semangat ini relevan dengan semangat kolaborasi yang sangat kuat di era milenial, juga relevan diterapkan dalam berbagai kondisi di tengah masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Adapun pemilihan mekanisme blockchain, kata Jaya Negara, adalah implementasi dari spirit Denpasar Maju yang responsif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Baca Juga:  YLPK Bali Ingatkan Bank dan Nonbank Patuhi Imbauan Presiden Jokowi

Ketua Yayasan Kepeng Artha Semesta, IGP Rahman Desyanta, memaparkan bahwa untuk penggalangan dana bagi pembangunan Monumen “Sita Kepandung” pihaknya akan menerbitkan empat jenis NFT. Jenis pertama adalah Blue Mark NFT diberikan kepada para kolaborator yang ikut serta dalam pengembangan monumen dari tahap ide hingga eksekusi.

Jenis kedua adalah Red Mark NFT, diterbitkan untuk institusi atau komunitas dengan nilai donasi besar. Jumlah NFT jenis ini diterbikan sangat terbatas yakni sekitar empat sampai tujuh NFT. Institusi atau komunitas yang memegang NFT ini identitasnya akan diabadikan dalam lempeng logam yang dipajang pada dinding pedestal monumen.

Jenis ketiga dan keempat adalah Purple Mark NFT dan Yellow Mark NFT yang diterbitkan untuk perseorangan dengan nilai donasi Rp5 juta dan Rp1 juta. Nama-nama pemegang NFT ini akan ditulis dalam prasasti logam yang diletakkan di area strategis di sekitar monumen.

“Dari dana yang terkumpul itulah pembangunan monumen “Sita Kepandung” ini dilaksanakan. Setelah tuntas, barulah Yayasan Kepeng atas nama publik menyerahkan monumen tersebut kepada Pemkot Denpasar,” papar Anta.

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR –  Tugu simpang enam Kota Denpasar (simpang Jalan Teuku Umar, Nusakambangan, Pulau Misol, Pulau Tarakan, Pulau Kawe) yang sudah lama berdiri dan menjadi ikon Kota Denpasar akan diganti dengan patung Sita Kepandung. Ini setelah Patung Tri Semaya yang didirikan di Kawasan Gajah Mada didirikan.  

 

Sekadar diketahui, Patung Tri Semaya yang berada di Jalan Gajah Mada dibuat perupa Putu Marmar Herayukti yang dikenal sebagai pembuat ogoh-ogoh dari Banjar Gemeh, Desa Dauh Puri Kangin.


Kini patung “Sita Kapandung” merupakan karya Nyoman Gede Sentana Putra yang akrab disapa dengan panggilan Kedux.

Kedux juga perupa pembuat ogoh-ogoh asal Banjar Tainsiat, Desa Dauh Puri Kaja, sekaligus motor builder yang karyanya kerap menjuarai berbagai kompetisi internasional. Rancangan tersebut kemudian diwujudkan sebagai bangunan oleh arsitek kenamaan Bali, I Ketut Siandana.

“Sita Kepandung” yang menjadi tajuk monumen yang akan dibangun di Kawasan Simpang Enam, Desa Dauh Puri, Kecamatan Denpasar Barat, itu adalah nukilan dari Aranyaka Kanda, bab ketiga dari Epos Ramayana yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Bali.  

Monumen itu akan memiliki tinggi 12 meter yang terdiri dari patung setinggi delapan meter yang disangga dengan pedestal setinggi empat meter. Material dan teknik patung menggunakan beton sedangkan pondasinya menggunakan gaya pasangan bata Bebadungan.

Baca Juga:  Nakes “Uzur” di RSUP Sanglah Mulai Divaksinasi, Ini Targetnya

Pembiayaanya digalang dari dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan atau Coorporate Social Responsibility (CSR). Mekanisme ini dipilih sebagai perwujudan dari semangat Vasudhaiva Kutumbakam (gotong royong) yang diusung Pemkot Denpasar dalam memajukan warganya.

Hal itu terungkap saat Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara menerima tim gabungan pembangunan Monumen “Sita Kepandung”, di Ruang Rapat Kantor Wali Kota Denpasar, beberapa waktu lalu.

Jaya Negara menjelaskan, pembangunan monumen “Sita Kepandung” selain untuk mempercantik wajah kota yang secara artistik menyehatkan warga, juga memberi vibrasi positif bagi setiap orang yang melintas atau berada di sekitarnya melalui simbol, filosofi, dan makna yang dikandungnya. Vibrasi tersebut akan turut mendorong siapa saja yang melintas atau berada di sekitarnya untuk bertindak lebih produktif dan konstruktif.

“Yang terpenting, pembangunan monumen ini dilakukan secara gotong-royong sesuai semangat Vasudhaiva Kutumbakam. Semangat ini relevan dengan semangat kolaborasi yang sangat kuat di era milenial, juga relevan diterapkan dalam berbagai kondisi di tengah masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Adapun pemilihan mekanisme blockchain, kata Jaya Negara, adalah implementasi dari spirit Denpasar Maju yang responsif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Baca Juga:  Dirancang untuk Denpasar Heritage City Tour, Gratis Bagi Wisatawan

Ketua Yayasan Kepeng Artha Semesta, IGP Rahman Desyanta, memaparkan bahwa untuk penggalangan dana bagi pembangunan Monumen “Sita Kepandung” pihaknya akan menerbitkan empat jenis NFT. Jenis pertama adalah Blue Mark NFT diberikan kepada para kolaborator yang ikut serta dalam pengembangan monumen dari tahap ide hingga eksekusi.

Jenis kedua adalah Red Mark NFT, diterbitkan untuk institusi atau komunitas dengan nilai donasi besar. Jumlah NFT jenis ini diterbikan sangat terbatas yakni sekitar empat sampai tujuh NFT. Institusi atau komunitas yang memegang NFT ini identitasnya akan diabadikan dalam lempeng logam yang dipajang pada dinding pedestal monumen.

Jenis ketiga dan keempat adalah Purple Mark NFT dan Yellow Mark NFT yang diterbitkan untuk perseorangan dengan nilai donasi Rp5 juta dan Rp1 juta. Nama-nama pemegang NFT ini akan ditulis dalam prasasti logam yang diletakkan di area strategis di sekitar monumen.

“Dari dana yang terkumpul itulah pembangunan monumen “Sita Kepandung” ini dilaksanakan. Setelah tuntas, barulah Yayasan Kepeng atas nama publik menyerahkan monumen tersebut kepada Pemkot Denpasar,” papar Anta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/