alexametrics
27.6 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Hasil Survei BNPT Ungkap Penurunan Paham Radikal di Indonesia

NUSA DUA – Sepanjang tahun 2020, terjadi kenaikan angka indeks penguatan kebhinekaan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal itu berdasarkan survei Nasional yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). 

Hasil survey tersebut juga memperlihatkan penyebaran paham radikalisme terus menurun dari tahun 2017 yang bertengger pada angka lebih dari 50% dan menurun drastis hingga tersisa 14% lebih pada tahun 2020. 

Hasil survey BNPT tersebut mengambil sampel secara acak di 32 provinsi, bekerja sama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan BNPT di provinsi seluruh Indonesia. Untuk mempertahankan angka ini, perlu terus dilakukan penguatan kebhinnekaan dan literasi digital dalam upaya menangkal radikalisme di 32 Provinsi di seluruh Indonesia. 

Hal ini diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Dr Boy Raffi Amar, SH,MH, dalam kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan tangan dari BNPT, di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.

Dijelaskannya, pengaruh kebhinnekaan sebagai pemahaman dan bentuk sikap masyarakat menjadi fokus penelitian tahun 2020. Mengingat hasil survey penelitian di tahun 2019 menemukan, dimensi pendidikan kebhinnekaan pada anak memiliki skor rendah dibanding dimensi lainnya.

Sementara itu dampak persebaran literasi digital serta pengaruhnya sebagai penangkal potensi radikalisme juga menjadi perhatian utama penelitian mengingat pertumbuhan pengguna internet atau warga internet (warganet) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Penelitian yang bertujuan untuk memetakan potensi radikalisme dan menemukan daya tangkal yang efektif untuk menangkal paparan paham radikalisme di tengah masyarakat dihimpun dari wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur kepada 13.700 responden terhimpun dari 32 provinsi. 

Boy Raffi juga memaparkan beberapa temuan penting survey nasional BNPT 2020 yakni, indeks potensi radikalisme mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya,sedangkan potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan,generasi muda (gen Z dan milenial), serta masyarkat yang aktif mencari dan menyebarkan konten keagamaan di internet dan media sosial.

“Trend ini jangan membuat BNPT, pemerintah, dan semua elemen menjadi lengah dalam menangkal radikalisme di masyarakat,” tegas Boy Raffi.



NUSA DUA – Sepanjang tahun 2020, terjadi kenaikan angka indeks penguatan kebhinekaan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal itu berdasarkan survei Nasional yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). 

Hasil survey tersebut juga memperlihatkan penyebaran paham radikalisme terus menurun dari tahun 2017 yang bertengger pada angka lebih dari 50% dan menurun drastis hingga tersisa 14% lebih pada tahun 2020. 

Hasil survey BNPT tersebut mengambil sampel secara acak di 32 provinsi, bekerja sama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan BNPT di provinsi seluruh Indonesia. Untuk mempertahankan angka ini, perlu terus dilakukan penguatan kebhinnekaan dan literasi digital dalam upaya menangkal radikalisme di 32 Provinsi di seluruh Indonesia. 

Hal ini diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Dr Boy Raffi Amar, SH,MH, dalam kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan tangan dari BNPT, di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.

Dijelaskannya, pengaruh kebhinnekaan sebagai pemahaman dan bentuk sikap masyarakat menjadi fokus penelitian tahun 2020. Mengingat hasil survey penelitian di tahun 2019 menemukan, dimensi pendidikan kebhinnekaan pada anak memiliki skor rendah dibanding dimensi lainnya.

Sementara itu dampak persebaran literasi digital serta pengaruhnya sebagai penangkal potensi radikalisme juga menjadi perhatian utama penelitian mengingat pertumbuhan pengguna internet atau warga internet (warganet) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Penelitian yang bertujuan untuk memetakan potensi radikalisme dan menemukan daya tangkal yang efektif untuk menangkal paparan paham radikalisme di tengah masyarakat dihimpun dari wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur kepada 13.700 responden terhimpun dari 32 provinsi. 

Boy Raffi juga memaparkan beberapa temuan penting survey nasional BNPT 2020 yakni, indeks potensi radikalisme mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya,sedangkan potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan,generasi muda (gen Z dan milenial), serta masyarkat yang aktif mencari dan menyebarkan konten keagamaan di internet dan media sosial.

“Trend ini jangan membuat BNPT, pemerintah, dan semua elemen menjadi lengah dalam menangkal radikalisme di masyarakat,” tegas Boy Raffi.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/