alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Masker & Hand Sanitizer Langka, Pemprov Bali Minta Tak Ada Penimbunan

DENPASAR – Sejak kasus corona mencuat sekitar pertengahan Februari lalu, hingga kini Bali telah merawat 78 pasien dalam pengawasan (PDP) Covid – 19.

Berdasar data per 18 Maret 2020, dari 78 orang pasien, 59 pasien hasilnya negatif dan satu orang WNA positif Covid 19 dan telah meninggal dunia.

Sementara 18 orang lainnya, yakni terdiri dari 11 WNA dan 7 WNI masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Jakarta dan saat ini masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Bali.

Angka yang jumlahnya melonjak membuat warga di Bali cukup panik. Ini pun diakui oleh pemerintah Provinsi Bali. Dampaknya, warga pun berburu alat pencegahan.

Seperti masker, hand sanitizer dan sebagainya. Hal ini ternyata berdampak kepada para produsen yang bergerak dalam bidang ini, sebab barang kini menjadi langka.

Kholik Mawardi selaku bagian produksi di  Bali Natural Soap mengakui adanya pelonjakan minat warga, khususnya di produk hand sanitizer.

Pelonjakan minat warga tersebut tentu  berdampak pada bahan baku untuk produksi. Seperti bahan baku pembuatan handsanitizer berupa alkohol termasuk juga botol kemasan.

“Tiga hari ini bahan baku untuk handsanitizer, terutama alkohol susah dicari, bahkan dua hari ini toko-toko tidak ada alkohol,” ujar Kholik Mawardi.

Para pemilik toko, kata Kholik, memberikan alasan karena adanya keterlambatan pengiriman dari Jawa ke Bali. “Kata suplaier terlambat pengiriman dari Jawa,” tegasnya lagi.

Dari penelusuran Radarbali.id ke sejumlah suplaier di Bali juga mengaku tak memiliki alkohol. “Barang (alkohol) kosong bos. Dimana-mana kosong, nggak ada,” ujar salah satu suplaier di Bali.

Menanggapi hal ini, Dewa Made Indra Sekda Provinsi Bali yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid 19 Provinsi Bali juga membenarkan adanya kelangkaan bahan baku termasuk masker.

“Kami tadi pagi sudah mengumpulkan sejumlah suplaier untuk membahas ini. Memang ada kelangkaan secara nasional,” kata Dewa Made Indra.

Meski ia tak merinci dan memprediksi sampai kapan persoalan ini dapat diatasi, yang jelas pihaknya mengakui telah melakukan sejumlah langkah.

“Kami akan upayakan semaksimal mungkin agar suplai ke Bali bertambah. Agen-agen di Bali juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat asal tak melakukan penimbunan,”tuturnya. 



DENPASAR – Sejak kasus corona mencuat sekitar pertengahan Februari lalu, hingga kini Bali telah merawat 78 pasien dalam pengawasan (PDP) Covid – 19.

Berdasar data per 18 Maret 2020, dari 78 orang pasien, 59 pasien hasilnya negatif dan satu orang WNA positif Covid 19 dan telah meninggal dunia.

Sementara 18 orang lainnya, yakni terdiri dari 11 WNA dan 7 WNI masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Jakarta dan saat ini masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Bali.

Angka yang jumlahnya melonjak membuat warga di Bali cukup panik. Ini pun diakui oleh pemerintah Provinsi Bali. Dampaknya, warga pun berburu alat pencegahan.

Seperti masker, hand sanitizer dan sebagainya. Hal ini ternyata berdampak kepada para produsen yang bergerak dalam bidang ini, sebab barang kini menjadi langka.

Kholik Mawardi selaku bagian produksi di  Bali Natural Soap mengakui adanya pelonjakan minat warga, khususnya di produk hand sanitizer.

Pelonjakan minat warga tersebut tentu  berdampak pada bahan baku untuk produksi. Seperti bahan baku pembuatan handsanitizer berupa alkohol termasuk juga botol kemasan.

“Tiga hari ini bahan baku untuk handsanitizer, terutama alkohol susah dicari, bahkan dua hari ini toko-toko tidak ada alkohol,” ujar Kholik Mawardi.

Para pemilik toko, kata Kholik, memberikan alasan karena adanya keterlambatan pengiriman dari Jawa ke Bali. “Kata suplaier terlambat pengiriman dari Jawa,” tegasnya lagi.

Dari penelusuran Radarbali.id ke sejumlah suplaier di Bali juga mengaku tak memiliki alkohol. “Barang (alkohol) kosong bos. Dimana-mana kosong, nggak ada,” ujar salah satu suplaier di Bali.

Menanggapi hal ini, Dewa Made Indra Sekda Provinsi Bali yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid 19 Provinsi Bali juga membenarkan adanya kelangkaan bahan baku termasuk masker.

“Kami tadi pagi sudah mengumpulkan sejumlah suplaier untuk membahas ini. Memang ada kelangkaan secara nasional,” kata Dewa Made Indra.

Meski ia tak merinci dan memprediksi sampai kapan persoalan ini dapat diatasi, yang jelas pihaknya mengakui telah melakukan sejumlah langkah.

“Kami akan upayakan semaksimal mungkin agar suplai ke Bali bertambah. Agen-agen di Bali juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat asal tak melakukan penimbunan,”tuturnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/