alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Potensi Hujan Lebat Masih Tinggi di Bali saat Kemarau, Ini Penyebabnya

DENPASAR – Cuaca di Bali memang tak menentu. Bahkan, dari pengamatan dan prediksi yang dilakukan pihak BMKG Wilayah III Denpasar, cuaca ekstrem berpotensi masih terjadi.

Wilayah yang berpotensi dengan peringatan dini cuaca ekstrem di Bali ada di wilayah Buleleng, tepatnya di Sukasada, Kubutambahan dan Sawan.

Hujan lebat juga diprediksi meluas ke Kabupaten Jembrana dan Tabanan. “Ya, musim kemarau tahun ini masih berpotensi hujan,” ujar Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG di Bali, Iman Fatchurochman, Minggu (19/7).

Iman Fatchurochman menyebut, hal ini tak lepas dari faktor global dan regional yang mendukung terjadinya hujan di Bali.

Untuk faktor global misalnya terjadinya ENSO (El Nino Southern Oscillation), lebih gampangnya disebut dengan fenomena Elnino (Kering) dan Lanina (basah).

Baca Juga:  Kenapa Bali Mendadak Diguyur Hujan, Ini Jawaban BMKG Denpasar

“Jadi tahun ini range ENSO mulai netral sampe Lanina lemah,” jelasnya. Sedang faktor regionalnya adalah suhu muka laut yang cukup hangat dan kelembaban yang cukup tinggi.

“Masih berpotensi membentuk awan-awan konvektif,” sambungnya lagi. Untuk itulah, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menjalani hari. Meski bulan ini sudah masuk musim kemarau. 



DENPASAR – Cuaca di Bali memang tak menentu. Bahkan, dari pengamatan dan prediksi yang dilakukan pihak BMKG Wilayah III Denpasar, cuaca ekstrem berpotensi masih terjadi.

Wilayah yang berpotensi dengan peringatan dini cuaca ekstrem di Bali ada di wilayah Buleleng, tepatnya di Sukasada, Kubutambahan dan Sawan.

Hujan lebat juga diprediksi meluas ke Kabupaten Jembrana dan Tabanan. “Ya, musim kemarau tahun ini masih berpotensi hujan,” ujar Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG di Bali, Iman Fatchurochman, Minggu (19/7).

Iman Fatchurochman menyebut, hal ini tak lepas dari faktor global dan regional yang mendukung terjadinya hujan di Bali.

Untuk faktor global misalnya terjadinya ENSO (El Nino Southern Oscillation), lebih gampangnya disebut dengan fenomena Elnino (Kering) dan Lanina (basah).

Baca Juga:  Masih Nekat Terbangkan Layang-layang Dekat Bandara, Ini Sanksinya

“Jadi tahun ini range ENSO mulai netral sampe Lanina lemah,” jelasnya. Sedang faktor regionalnya adalah suhu muka laut yang cukup hangat dan kelembaban yang cukup tinggi.

“Masih berpotensi membentuk awan-awan konvektif,” sambungnya lagi. Untuk itulah, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam menjalani hari. Meski bulan ini sudah masuk musim kemarau. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/