alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Pasien Covid-19 Berguguran, Wajib Taat Prokes Meski Sudah Divaksin

Selama dua hari berturut-turut pada 18 dan 19 Agustus 2021, banyak pasien Covid-19 di Bali berguguran. Dalam dua hari itu, sebanyak 128 orang meninggal dunia. Paling banyak terjadi di Denpasar.

 

YOYO RAHARYO, Denpasar

 

KOTA Denpasar memang menjadi episentrum Bali. Bukan hanya karena ibu kota provinsi belaka, Denpasar juga pusat kasus Covid-19 di Bali.

 

Dalam dua hari berturut-turut, pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2021 contohnya, sebanyak 45 orang meninggal dunia. Yakni pada 18 Agustus sebanyak 21 orang, dan 19 Agustus sebanyak 24 orang.

 

Total, sejak pandemi Covid-19 melanda Bali, ada 33.716 kasus terkonfirmasi Covid-19 di Denpasar. Itu 33,8 persen dari jumlah kasus terkonfirmasi di Provinsi Bali yang sebanyak 99.669 orang.

 

Jumlah kematian dengan diagnosis Covid-19 di Denpasar juga tertinggi di Bali. Secara akumulatif mencapai 678 orang, dari total kematian di Bali 2.933 orang per 19 Agustus 2021.

 

Yang membingungkan, Kota Denpasar adalah daerah yang cakupan vaksinasinya sangat tinggi. Bahkan sudah lebih dari 100 persen dari target vaksinasi.

 

Dengan vaksinasi yang tinggi, namun kasus penularan juga masih tinggi. Bahkan, yang tertular adalah orang yang sudah divaksin juga.

 

Misalnya pada tanggal 18 Agustus 2021, dari penambahan sebanyak 176 orang terkonfirmasi positif Covid-19, sebanyak 85 orang atau 48 persennya adalah warga yang sudah divaksin.

 

Yang mirisnya lagi, pada hari yang sama, ada 21 pasien yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, 1 orang yang meninggal dunia sudah divaksin. Atau 20 orang meninggal dalam kondisi belum divaksin.

 

Berikutnya, pada tanggal 19 Agustus 2021, juga ada penambahan kasus terkonfirasi Covid-19 sebanyak 287 orang. Dari jumlah orang yang tertular Covid-19 tersebut sebanyak 100 orang atau 34,8 persen sudah divaksin, sedangkan sisanya sebanyak 187 orang diketahui belum mengikuti vaksinasi.

 

Pada tanggal 19 Agustus itu juga, sebanyak 24 orang meninggal dunia. Dengan 1 orang meninggal dunia dalam kondisi sudah divaksin. Sedangkan 23 orang belum divaksin.

Baca Juga:  Unud Butuh Rektor yang Paham Spirit Bali

 

 

Hal ini mengindikasikan bahwa vaksinasi tak menjamin seseorang kebal dari penularan Covid-19. Apalagi bagi warga yang belum divaksin, potensi fatalitas (kematian) justru tinggi.

 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai saat dikonfirmasi Jumat (20/8) mengakui, tingginya jumlah kematian karena penularan masih tinggi baik pada yang sudah divaksin maupun belum divaksin.

 

“Denpasar daerah heterogen. Mobilitas masih tinggi,” aku Dewa Rai.

 

Ketika ditanya mengapa banyak orang yang belum divaksin dan meninggal dunia, dia mengakui, itu lantaran sebagian besar memiliki penyakit bawaan atau komorbit.

 

Diakui, warga yang memiliki penyakit bawaan dan lansia harus mendapat perlindungan. Masalahnya, banyak yang tidak bisa divaksin. Seperti mereka yang memiliki sakit jantung, hipertensi, dan lainnya.

 

“90 persen yang meninggal dunia (dengan diagnosis Covid-19) adalah komorbit,” terangnya.

 

Data kasus kematian warga karena komorbit di Denpasar ini memang berbeda dengan skup Provinsi Bali. Sebelumnya Gubernur Bali Wayan Koster menyebut kasus kematian terkonfirmasi Covid-19, hanya 60-an persen yang komorbit.

 

Untuk itu, Dewa Rai mengakui, vaksinasi bukan satu-satunya upaya terhindar dari penularan Covid-19. Sebab, data telah membuktikan bahwa yang sudah divaksin juga bisa tertular Covid-19.

 

“Saran kami adalah tetap jalankan prokes (protokol kesehatan) prokes walau sudah divaksin,” kata Dewa Rai.

 

Vaksinasi, kata Dewa Rai, tidak hanya untuk melindungi diri dari tertular Covid-19. Vaksinasi juga dapat melindungi warga yang berisiko tinggi bila tertular Covid-19. Terutama bagi kalangan lansia dan warga yang memiliki komorbit (penyakit bawaan).

 

Ketaatan terhadap prokes, lanjutnya, juga bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melindungi warga yang rentan tadi manakala vaksinasi tidak berhasil menimbulkan kekebalan.

 

“Yang muda-muda harus melindungi (yang tua dan komorbit),” katanya.

 

Apalagi, Dewa Rai mengakui, efikasi (kemanjuran) dari vaksin yang paling banyak digunakan di Indonesia hanya pada kisaran 60-an persen. Yakni Sinovac dan AstraZeneca.

 

Dengan demikian, Dewa Rai mengakui, capaian vaksinasi di Kota Denpasar sebesar 100 persen dari target, atau 70 persen dari jumlah penduduk itu sebetulnya semu. Seperti balon. Terlihat besar, tapi ada rongga di dalamnya.

Baca Juga:  Pemerintah Evaluasi Vaksinasi Booster Program┬ádan Booster Mandiri

  

Ini mengingat efikasi yang hanya 60-an persen pada dua merek vaksin yang banyak digunakan itu, memberikan informasi bahwa ada 30 sampai 40 persen warga yang sudah divaksin sebetulnya tidak kebal. 

 

Nah, soal vaksinasi yang belum menjamin herd immunity (kekebalan kelompok) karena jenis vaksinnya memiliki efikasi yang di bawah 70 persen, Dewa Rai tak bisa berbuat banyak. Dia juga belum bisa memastikan apakah akan ada vaksin booster (penguat) atau vaksin ketiga bagi warga yang sudah divaksin Sinovac atau AstraZeneca.

 

Ini mengingat penularan pada warga yang sudah divaksin masih tinggi, sampai-sampai tenaga kesehatan pun harus diberi vaksin booster menggunakan Moderna yang memiliki efikasi 94 persen.

 

“Kami di Satgas (penangangan Covid-19) linier. Hirarki dari pusat. Vaksin dari pusat, tentu dari pusat mungkin sudah melakukan evaluasi. Nakes memang sudah diberikan vaksin booster. Kalau untuk masyarak tugggu (kebijakan) dari pusat. Itu ranah pusat,” kata Dewa Rai.  

 

Soal vaksinasi di Denpasar, Dewa Rai mengatakan sebetulnya saat ini sedang menuntaskan vaksin kedua. Sebab, vaksin pertama sudah mencapai 100 persen lebih.

 

Namun demikian, masih banyak warga yang berdomisili tapi tak ber-KTP di Denpasar yang belum divaksin. Apalagi, dari data yang tersedia, sampai saat ini ada banyak warga KTP luar Denpasar yang berdomisili di Denpasar tertular Covid-19. Sebagai contoh pada 18 Agustus 2021 lalu, dar 178 yang terkonfirmasi Covid-19, 35 orang merupakan warga ber-KTP luar Denpasar namun domisili di Denpasar.

 

“Untuk warga pendatang ini memang menjadi tantangan kami. Kami minta agar mereka dating vaksinasi. Cotohnya pekerja proyek, kami minta pemipin proyeknya mengyuruh pekerjanya vaksinasi,” katanya.

 

Dia pun menegaskan agar warga dari mana saja yang berdomisili di Denpasar melakukan vaksinasi. Dikatakan, di Denpasar ada 40 puskesmas dan RS yang melayani vaksinasi.


Selama dua hari berturut-turut pada 18 dan 19 Agustus 2021, banyak pasien Covid-19 di Bali berguguran. Dalam dua hari itu, sebanyak 128 orang meninggal dunia. Paling banyak terjadi di Denpasar.

 

YOYO RAHARYO, Denpasar

 

KOTA Denpasar memang menjadi episentrum Bali. Bukan hanya karena ibu kota provinsi belaka, Denpasar juga pusat kasus Covid-19 di Bali.

 

Dalam dua hari berturut-turut, pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2021 contohnya, sebanyak 45 orang meninggal dunia. Yakni pada 18 Agustus sebanyak 21 orang, dan 19 Agustus sebanyak 24 orang.

 

Total, sejak pandemi Covid-19 melanda Bali, ada 33.716 kasus terkonfirmasi Covid-19 di Denpasar. Itu 33,8 persen dari jumlah kasus terkonfirmasi di Provinsi Bali yang sebanyak 99.669 orang.

 

Jumlah kematian dengan diagnosis Covid-19 di Denpasar juga tertinggi di Bali. Secara akumulatif mencapai 678 orang, dari total kematian di Bali 2.933 orang per 19 Agustus 2021.

 

Yang membingungkan, Kota Denpasar adalah daerah yang cakupan vaksinasinya sangat tinggi. Bahkan sudah lebih dari 100 persen dari target vaksinasi.

 

Dengan vaksinasi yang tinggi, namun kasus penularan juga masih tinggi. Bahkan, yang tertular adalah orang yang sudah divaksin juga.

 

Misalnya pada tanggal 18 Agustus 2021, dari penambahan sebanyak 176 orang terkonfirmasi positif Covid-19, sebanyak 85 orang atau 48 persennya adalah warga yang sudah divaksin.

 

Yang mirisnya lagi, pada hari yang sama, ada 21 pasien yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, 1 orang yang meninggal dunia sudah divaksin. Atau 20 orang meninggal dalam kondisi belum divaksin.

 

Berikutnya, pada tanggal 19 Agustus 2021, juga ada penambahan kasus terkonfirasi Covid-19 sebanyak 287 orang. Dari jumlah orang yang tertular Covid-19 tersebut sebanyak 100 orang atau 34,8 persen sudah divaksin, sedangkan sisanya sebanyak 187 orang diketahui belum mengikuti vaksinasi.

 

Pada tanggal 19 Agustus itu juga, sebanyak 24 orang meninggal dunia. Dengan 1 orang meninggal dunia dalam kondisi sudah divaksin. Sedangkan 23 orang belum divaksin.

Baca Juga:  Lamban! Vaksinasi Warga Denpasar Belum Capai 10 Persen Target

 

 

Hal ini mengindikasikan bahwa vaksinasi tak menjamin seseorang kebal dari penularan Covid-19. Apalagi bagi warga yang belum divaksin, potensi fatalitas (kematian) justru tinggi.

 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai saat dikonfirmasi Jumat (20/8) mengakui, tingginya jumlah kematian karena penularan masih tinggi baik pada yang sudah divaksin maupun belum divaksin.

 

“Denpasar daerah heterogen. Mobilitas masih tinggi,” aku Dewa Rai.

 

Ketika ditanya mengapa banyak orang yang belum divaksin dan meninggal dunia, dia mengakui, itu lantaran sebagian besar memiliki penyakit bawaan atau komorbit.

 

Diakui, warga yang memiliki penyakit bawaan dan lansia harus mendapat perlindungan. Masalahnya, banyak yang tidak bisa divaksin. Seperti mereka yang memiliki sakit jantung, hipertensi, dan lainnya.

 

“90 persen yang meninggal dunia (dengan diagnosis Covid-19) adalah komorbit,” terangnya.

 

Data kasus kematian warga karena komorbit di Denpasar ini memang berbeda dengan skup Provinsi Bali. Sebelumnya Gubernur Bali Wayan Koster menyebut kasus kematian terkonfirmasi Covid-19, hanya 60-an persen yang komorbit.

 

Untuk itu, Dewa Rai mengakui, vaksinasi bukan satu-satunya upaya terhindar dari penularan Covid-19. Sebab, data telah membuktikan bahwa yang sudah divaksin juga bisa tertular Covid-19.

 

“Saran kami adalah tetap jalankan prokes (protokol kesehatan) prokes walau sudah divaksin,” kata Dewa Rai.

 

Vaksinasi, kata Dewa Rai, tidak hanya untuk melindungi diri dari tertular Covid-19. Vaksinasi juga dapat melindungi warga yang berisiko tinggi bila tertular Covid-19. Terutama bagi kalangan lansia dan warga yang memiliki komorbit (penyakit bawaan).

 

Ketaatan terhadap prokes, lanjutnya, juga bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melindungi warga yang rentan tadi manakala vaksinasi tidak berhasil menimbulkan kekebalan.

 

“Yang muda-muda harus melindungi (yang tua dan komorbit),” katanya.

 

Apalagi, Dewa Rai mengakui, efikasi (kemanjuran) dari vaksin yang paling banyak digunakan di Indonesia hanya pada kisaran 60-an persen. Yakni Sinovac dan AstraZeneca.

 

Dengan demikian, Dewa Rai mengakui, capaian vaksinasi di Kota Denpasar sebesar 100 persen dari target, atau 70 persen dari jumlah penduduk itu sebetulnya semu. Seperti balon. Terlihat besar, tapi ada rongga di dalamnya.

Baca Juga:  Pemerintah Evaluasi Vaksinasi Booster Program┬ádan Booster Mandiri

  

Ini mengingat efikasi yang hanya 60-an persen pada dua merek vaksin yang banyak digunakan itu, memberikan informasi bahwa ada 30 sampai 40 persen warga yang sudah divaksin sebetulnya tidak kebal. 

 

Nah, soal vaksinasi yang belum menjamin herd immunity (kekebalan kelompok) karena jenis vaksinnya memiliki efikasi yang di bawah 70 persen, Dewa Rai tak bisa berbuat banyak. Dia juga belum bisa memastikan apakah akan ada vaksin booster (penguat) atau vaksin ketiga bagi warga yang sudah divaksin Sinovac atau AstraZeneca.

 

Ini mengingat penularan pada warga yang sudah divaksin masih tinggi, sampai-sampai tenaga kesehatan pun harus diberi vaksin booster menggunakan Moderna yang memiliki efikasi 94 persen.

 

“Kami di Satgas (penangangan Covid-19) linier. Hirarki dari pusat. Vaksin dari pusat, tentu dari pusat mungkin sudah melakukan evaluasi. Nakes memang sudah diberikan vaksin booster. Kalau untuk masyarak tugggu (kebijakan) dari pusat. Itu ranah pusat,” kata Dewa Rai.  

 

Soal vaksinasi di Denpasar, Dewa Rai mengatakan sebetulnya saat ini sedang menuntaskan vaksin kedua. Sebab, vaksin pertama sudah mencapai 100 persen lebih.

 

Namun demikian, masih banyak warga yang berdomisili tapi tak ber-KTP di Denpasar yang belum divaksin. Apalagi, dari data yang tersedia, sampai saat ini ada banyak warga KTP luar Denpasar yang berdomisili di Denpasar tertular Covid-19. Sebagai contoh pada 18 Agustus 2021 lalu, dar 178 yang terkonfirmasi Covid-19, 35 orang merupakan warga ber-KTP luar Denpasar namun domisili di Denpasar.

 

“Untuk warga pendatang ini memang menjadi tantangan kami. Kami minta agar mereka dating vaksinasi. Cotohnya pekerja proyek, kami minta pemipin proyeknya mengyuruh pekerjanya vaksinasi,” katanya.

 

Dia pun menegaskan agar warga dari mana saja yang berdomisili di Denpasar melakukan vaksinasi. Dikatakan, di Denpasar ada 40 puskesmas dan RS yang melayani vaksinasi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/