alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Rencana Krematorium di Setra Bugbugan Denpasar Ditolak Warga

DENPASAR – Rencana pembangunan krematorium di Setra Bugbugan atau sebelah bagian barat setra Agung Badung, Denpasar, mendapatkan penolakan dari sejumlah pihak.

 

Sejumlah prajuru banjar adat, desa adat Denpasar baik selaku banjar penyibeh Pura Dalem Kayangan maupun selaku anggota prajuru banjar adat desa adat Denpasar memberikan alasan penolakan yang bervariasi. 

 

AA Ngurah Alit Wirakesuma selaku Sekretaris Kertha Desa Adat Denpasar mengatakan alasan penolakan ini karena sebelumnya Bendesa Adat Denpasar sebelumnya tidak pernah melakukan sosialisasi.

 

“Yang pertama, untuk siapa dibuat, yang kedua, mengenai hari baik itu apakah akan melabrak hari baik yang sudah ditetapkan.  Yang ketiga berkaitan dengan lingkungan. Terutama lalu lintas. Bagaimana dengan dresta yang ada, bagaimana kekurangan dana yang diperuntukan tanggungjawabnya,” kata pria yang juga selaku salah satu penglingsir prajuru Pura Dalem Kahyangan, Badung, Jumat (20/8/2021). 

 

Padahal, kata dia sudah pernah ada rapat pengurus Kertha Desa pada 9 Agustus 2021. Yang hadir saat itu ada Teja Kumara, Agung Gede Wibawa, Pande Sudirta, I Wayan Sugita dan dia sendiri.

Baca Juga:  Umur 73 Tahun, Jualan Canang di Pingir Jalan karena Anak Dirumahkan

 

“Intinya agar Bendesa Adat Denpasar bisa memberikan kajian yang baik dan benar terkait krematorium dan tidak menutup-nutupi dan membuat keputusan yang sepihak,” ujarnya. 

 

Sementara itu, I Nyoman Nata selaku Kelian Adat Banjar Busung Yeh Kauh juga menyatakan keberatannya terhadap rencana pembangunan krematorium tersebut. Dijelaskannya bahwa pihak Bendesa Adat Denpasar sebelumnya memang tidak pernah melakukan sosialisasi.

 

Sebagaimana dalam paruman agung yang diadakan oleh Prajuru Desa Adat Denpasar dan dihadiri oleh sejebag prajuru Banjar adat pada 8 Mei 2021 di Wantilan Pura Dalem Kahyangan Badung, Bendesa Adat Denpasar menyampaikan adanya rencana pembangunan krematorium tersebut.

 

Namun dalam moment itu, tidak diberikan adanya sesi tanya jawab atau dharma tula. Dengan tidak adanya sosialisasi, para Kelian adat kebingungan bagaimana menjelaskan rencana itu kepada krama adat banjarnya masing-masing. 

Baca Juga:  Ayah Pelajar yang Disetrum Polisi Sempat Ditantang Lapor ke Polda Bali

 

 

“Sosialisasi memang tidak ada. Lalu untuk siapa. Dan dampak sosial budayanya ada. Yang pertama saya takut di kemudian hari saya punya adat budaya lambat laun akan musnah. Seperti ancaman terhadap tergerusnya dresta desa adat banjar berkaitan dengan pengabenan. Seperti dresta megebagan, dresta metektekan, dresta pengarakan meped wadah bade, dan dresta mejenukan,” ujarnya penuh tanya. 

 

Sementara itu, belum juga adanya kesepakatan dengan sejumlah kelian adat maupun Krama adat di masing-masing Banjar, pihak Desa Adat Denpasar lalu mengeluarkan undangan yang ditujukan kepada Kelian adat hingga penua prajuru Pura Kahyangan Badung diundang untuk mengikuti rapat sosialisasi dimulainya pembangunan krematorium tersebut.

 

Sosialisasi itu akan digelar pada Sabtu (21/8/2021) di Ruang Pertemuan Kantor Desa Adat Denpasar.

 

 

 

 


DENPASAR – Rencana pembangunan krematorium di Setra Bugbugan atau sebelah bagian barat setra Agung Badung, Denpasar, mendapatkan penolakan dari sejumlah pihak.

 

Sejumlah prajuru banjar adat, desa adat Denpasar baik selaku banjar penyibeh Pura Dalem Kayangan maupun selaku anggota prajuru banjar adat desa adat Denpasar memberikan alasan penolakan yang bervariasi. 

 

AA Ngurah Alit Wirakesuma selaku Sekretaris Kertha Desa Adat Denpasar mengatakan alasan penolakan ini karena sebelumnya Bendesa Adat Denpasar sebelumnya tidak pernah melakukan sosialisasi.

 

“Yang pertama, untuk siapa dibuat, yang kedua, mengenai hari baik itu apakah akan melabrak hari baik yang sudah ditetapkan.  Yang ketiga berkaitan dengan lingkungan. Terutama lalu lintas. Bagaimana dengan dresta yang ada, bagaimana kekurangan dana yang diperuntukan tanggungjawabnya,” kata pria yang juga selaku salah satu penglingsir prajuru Pura Dalem Kahyangan, Badung, Jumat (20/8/2021). 

 

Padahal, kata dia sudah pernah ada rapat pengurus Kertha Desa pada 9 Agustus 2021. Yang hadir saat itu ada Teja Kumara, Agung Gede Wibawa, Pande Sudirta, I Wayan Sugita dan dia sendiri.

Baca Juga:  Ayah Pelajar yang Disetrum Polisi Sempat Ditantang Lapor ke Polda Bali

 

“Intinya agar Bendesa Adat Denpasar bisa memberikan kajian yang baik dan benar terkait krematorium dan tidak menutup-nutupi dan membuat keputusan yang sepihak,” ujarnya. 

 

Sementara itu, I Nyoman Nata selaku Kelian Adat Banjar Busung Yeh Kauh juga menyatakan keberatannya terhadap rencana pembangunan krematorium tersebut. Dijelaskannya bahwa pihak Bendesa Adat Denpasar sebelumnya memang tidak pernah melakukan sosialisasi.

 

Sebagaimana dalam paruman agung yang diadakan oleh Prajuru Desa Adat Denpasar dan dihadiri oleh sejebag prajuru Banjar adat pada 8 Mei 2021 di Wantilan Pura Dalem Kahyangan Badung, Bendesa Adat Denpasar menyampaikan adanya rencana pembangunan krematorium tersebut.

 

Namun dalam moment itu, tidak diberikan adanya sesi tanya jawab atau dharma tula. Dengan tidak adanya sosialisasi, para Kelian adat kebingungan bagaimana menjelaskan rencana itu kepada krama adat banjarnya masing-masing. 

Baca Juga:  Dirlantas Polda Bali Bagi Ribuan Masker di Jalan Raya

 

 

“Sosialisasi memang tidak ada. Lalu untuk siapa. Dan dampak sosial budayanya ada. Yang pertama saya takut di kemudian hari saya punya adat budaya lambat laun akan musnah. Seperti ancaman terhadap tergerusnya dresta desa adat banjar berkaitan dengan pengabenan. Seperti dresta megebagan, dresta metektekan, dresta pengarakan meped wadah bade, dan dresta mejenukan,” ujarnya penuh tanya. 

 

Sementara itu, belum juga adanya kesepakatan dengan sejumlah kelian adat maupun Krama adat di masing-masing Banjar, pihak Desa Adat Denpasar lalu mengeluarkan undangan yang ditujukan kepada Kelian adat hingga penua prajuru Pura Kahyangan Badung diundang untuk mengikuti rapat sosialisasi dimulainya pembangunan krematorium tersebut.

 

Sosialisasi itu akan digelar pada Sabtu (21/8/2021) di Ruang Pertemuan Kantor Desa Adat Denpasar.

 

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/