alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Stop Bullying dan Alkohol, SMASHED Project Sasar Sekolah di Bali

DENPASAR – Sebuah program di bidang pendidikan bernama SMASHED Project digelar oleh lembaga pendidikan Collingwood dari Inggris.

Program ini bekerjasama dengan Dapoer Dongeng Noesantara. Dalam misinya project ini membantu memberikan aksi kreatif-edukatif membantu dan mendampingi remaja menghadapi

tantangan dan tanggung jawab dengan fokus pada persoalan seperti perundungan atau bullying, penyebaran berita palsu dan bahaya minum  minuman beralkohol di bawah umur.

Program ini telah dimulai pada tanggal 5 Agustus hingga awal September mendatang dan menjangkau kurang lebih 6.000 siswa.

Aksi digelar di SMPN 3 Denpasar, Selasa (20/8). “Program ini membantu para siswa usia 12 hingga15 tahun membangun ketrampilan hidup atau life skills dalam menghadapi persoalan

remaja seperti perundungan (bullying), penyebaran berita palsu, dan bahaya minum minuman beralkohol di bawah umur,” ujar produser sekaligus kurator program SMASHED Project, Yudhi Soerjoatmodjo.

Pelaksanaan SMASHED Project di Bali, kata dia, adalah upaya melanjutkan keberhasilan pelaksanaan program yang berlangsung pada tahun 2017-2018.

Program ini menunjukkan perubahan positif pada 5,860 siswa kelas 7 dan kelas 8 di 20 SMP Negeri, Swasta dan Madrasah di Jabodetabek.

Berdasar hasil survei pra dan pasca kegiatan terhadap siswa, terjadi perubahan pengetahuan dan sikap yang signifikan antara lain,

66 % siswa semakin memahami tentang bahaya perundungan (naik 26% dibanding sebelum mengikuti pelatihan);

77% menjadi lebih tahu ke mana mereka harus bertanya bila menghadapi persoalan, termasuk ke guru BP (naik 28%).

Pengetahuan siswa terkait usia legal minum alkohol diatas 21 tahun berdasar peraturan pemerintah naik sebesar 50%. 

Dalam penyampaian pesannya, SMASHED Project menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan melalui pertunjukan teater serta kegiatan dialog dan workshop membuat poster.

Pertunjukan teater diperankan oleh tiga aktor yang kerap tampil bersama Teater Koma dan Teater Bulungan.

Menurut Yudhi, pertunjukkan teater digunakan untuk memberikan pengalaman belajar melalui cerita yang kuat dan menggerakkan emosi.

Para siswa akan dibawa ke narasi cerita yang akan menantang mereka untuk memikirkan ulang keputusan-keputusan yang dibuat oleh para karakter tersebut termasuk konsekuensinya. 

Selain itu, aktivitas workshop juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Setelah menonton pertunjukkan teater,

workshop memberikan transisi dari pola pembelajaran didaktik menjadi pelibatan yang lebih interaktif.

Dipandu oleh tim pakar perkembangan anak atau fasilitator dari Program Studi Psikolog Universitas Udayana, para siswa yang mengikuti program dapat mengidentifikasi capaian

pembelajaran yang relevan bagi diri masing-masing, yaitu keterampilan dan informasi yang diperlukan agar dapat membuat pilihan bijak dan mencapai tujuan. 

“Untuk pertama kalinya, SMASHED Project berlangsung di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. pilihan untuk memulai pelaksanaan SMASHED Project di dua daerah ini berdasar pada 

pertimbangan perkembangan pariwisata di Bali yang memungkinkan remaja terpapar oleh dan mengadaptasi budaya yang dibawa oleh turis domestik maupun mancanegara.

Proses adaptasi budaya ini perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan yang layak,” tambah Yudhi.



DENPASAR – Sebuah program di bidang pendidikan bernama SMASHED Project digelar oleh lembaga pendidikan Collingwood dari Inggris.

Program ini bekerjasama dengan Dapoer Dongeng Noesantara. Dalam misinya project ini membantu memberikan aksi kreatif-edukatif membantu dan mendampingi remaja menghadapi

tantangan dan tanggung jawab dengan fokus pada persoalan seperti perundungan atau bullying, penyebaran berita palsu dan bahaya minum  minuman beralkohol di bawah umur.

Program ini telah dimulai pada tanggal 5 Agustus hingga awal September mendatang dan menjangkau kurang lebih 6.000 siswa.

Aksi digelar di SMPN 3 Denpasar, Selasa (20/8). “Program ini membantu para siswa usia 12 hingga15 tahun membangun ketrampilan hidup atau life skills dalam menghadapi persoalan

remaja seperti perundungan (bullying), penyebaran berita palsu, dan bahaya minum minuman beralkohol di bawah umur,” ujar produser sekaligus kurator program SMASHED Project, Yudhi Soerjoatmodjo.

Pelaksanaan SMASHED Project di Bali, kata dia, adalah upaya melanjutkan keberhasilan pelaksanaan program yang berlangsung pada tahun 2017-2018.

Program ini menunjukkan perubahan positif pada 5,860 siswa kelas 7 dan kelas 8 di 20 SMP Negeri, Swasta dan Madrasah di Jabodetabek.

Berdasar hasil survei pra dan pasca kegiatan terhadap siswa, terjadi perubahan pengetahuan dan sikap yang signifikan antara lain,

66 % siswa semakin memahami tentang bahaya perundungan (naik 26% dibanding sebelum mengikuti pelatihan);

77% menjadi lebih tahu ke mana mereka harus bertanya bila menghadapi persoalan, termasuk ke guru BP (naik 28%).

Pengetahuan siswa terkait usia legal minum alkohol diatas 21 tahun berdasar peraturan pemerintah naik sebesar 50%. 

Dalam penyampaian pesannya, SMASHED Project menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan melalui pertunjukan teater serta kegiatan dialog dan workshop membuat poster.

Pertunjukan teater diperankan oleh tiga aktor yang kerap tampil bersama Teater Koma dan Teater Bulungan.

Menurut Yudhi, pertunjukkan teater digunakan untuk memberikan pengalaman belajar melalui cerita yang kuat dan menggerakkan emosi.

Para siswa akan dibawa ke narasi cerita yang akan menantang mereka untuk memikirkan ulang keputusan-keputusan yang dibuat oleh para karakter tersebut termasuk konsekuensinya. 

Selain itu, aktivitas workshop juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Setelah menonton pertunjukkan teater,

workshop memberikan transisi dari pola pembelajaran didaktik menjadi pelibatan yang lebih interaktif.

Dipandu oleh tim pakar perkembangan anak atau fasilitator dari Program Studi Psikolog Universitas Udayana, para siswa yang mengikuti program dapat mengidentifikasi capaian

pembelajaran yang relevan bagi diri masing-masing, yaitu keterampilan dan informasi yang diperlukan agar dapat membuat pilihan bijak dan mencapai tujuan. 

“Untuk pertama kalinya, SMASHED Project berlangsung di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. pilihan untuk memulai pelaksanaan SMASHED Project di dua daerah ini berdasar pada 

pertimbangan perkembangan pariwisata di Bali yang memungkinkan remaja terpapar oleh dan mengadaptasi budaya yang dibawa oleh turis domestik maupun mancanegara.

Proses adaptasi budaya ini perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan yang layak,” tambah Yudhi.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/