alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Meski Tak Bikin Ogoh-Ogoh, STT di Badung Tetap Dapat Bantuan Rp10 Juta

MANGUPURA – Meski sejumlah desa adat meniadakan pawai ogoh-ogoh, Pemkab Badung bakal tetap memberikan bantuan sebesar Rp10 juta bagi sekaha teruna-teruni (STT). Bantuan tersebut bisa digunakan membuat kegiatan kreativitas seni budaya lainnya.

 

“Pengajuan proposalnya tidak dalam rangka pembuatan ogoh-ogoh, namun kegiatan lain seperti dharma shanti, atau kegiatan lain yang berhubungan dengan adat, seni, agama dan budaya Bali,” tutur Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Eka Sudarwitha, kemarin (21/1).

 

Menurut Sudarwitha, hal tersebut tidak melanggar aturan karena dana bantuan diberikan sesuai nomenklatur atau penamaan kegiatan. Selama bentuk kegiatan mengandung unsur seni, budaya, adat, dan tradisi Bali.

 

Karena itu bantuan yang diberikan pun berdasar proposal yang diajukan oleh STT.  “Jadi tergantung proposal yang diajukan. Intinya tidak melenceng dari kreativitas kegiatan seni, adat, tradisi, dan budaya,” jelas mantan Camat Petang itu.

Baca Juga:  Dokter & Perawat Terpapar Corona, UGD RS Puri Raharja Tutup Sementara

 

Sudarwitha menambahkan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Biasanya proposal bisa diterima pada awal Februari mendatang.

 

“Awal Februari STT di Badung sudah boleh mengajukan proposal untuk dana kreativitas,” tandas pria yang juga Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kabupaten Badung itu.

 

Di sisi lain, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung, AA Putu Sutarja menyebut jadi atau tidaknya pawai ogoh-ogoh digelar diserahkan pada putusan masing-masing desa adat.

 

Sutarja mengungkapkan, MDA sudah mendapatkan beberapa laporan dari sejumlah majelis desa adat tingkat kecamatan. Sebagian besar desa adat tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh, karena ada kekhawatiran tidak ada jaminan memenuhi standarisasi protokol kesehatan Covid-19.

Baca Juga:  Dinkes Bali Mulai Vaksinasi Warga Zona Hijau, Ini Data Warganya

Selain itu juga dikhawatirkan akan kembali meningkatkan kasus baru Covid-19 di wilayah desa adat masing-masing.

 

“Untuk di Kerobokan sudah pasti tidak melakukan pengarakan ogoh-ogoh,” terang pria yang juga Bendesa Adat Kerobokan itu.

 

Sedangkan untuk kegiatan melasti, Desa Adat Kerobokan serta desa adat se-Kabupaten Badung akan melaksanakan pemelastian ngubeng atau sama seperti tahun lalu. 


MANGUPURA – Meski sejumlah desa adat meniadakan pawai ogoh-ogoh, Pemkab Badung bakal tetap memberikan bantuan sebesar Rp10 juta bagi sekaha teruna-teruni (STT). Bantuan tersebut bisa digunakan membuat kegiatan kreativitas seni budaya lainnya.

 

“Pengajuan proposalnya tidak dalam rangka pembuatan ogoh-ogoh, namun kegiatan lain seperti dharma shanti, atau kegiatan lain yang berhubungan dengan adat, seni, agama dan budaya Bali,” tutur Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Eka Sudarwitha, kemarin (21/1).

 

Menurut Sudarwitha, hal tersebut tidak melanggar aturan karena dana bantuan diberikan sesuai nomenklatur atau penamaan kegiatan. Selama bentuk kegiatan mengandung unsur seni, budaya, adat, dan tradisi Bali.

 

Karena itu bantuan yang diberikan pun berdasar proposal yang diajukan oleh STT.  “Jadi tergantung proposal yang diajukan. Intinya tidak melenceng dari kreativitas kegiatan seni, adat, tradisi, dan budaya,” jelas mantan Camat Petang itu.

Baca Juga:  Dinkes Bali Mulai Vaksinasi Warga Zona Hijau, Ini Data Warganya

 

Sudarwitha menambahkan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Biasanya proposal bisa diterima pada awal Februari mendatang.

 

“Awal Februari STT di Badung sudah boleh mengajukan proposal untuk dana kreativitas,” tandas pria yang juga Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kabupaten Badung itu.

 

Di sisi lain, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung, AA Putu Sutarja menyebut jadi atau tidaknya pawai ogoh-ogoh digelar diserahkan pada putusan masing-masing desa adat.

 

Sutarja mengungkapkan, MDA sudah mendapatkan beberapa laporan dari sejumlah majelis desa adat tingkat kecamatan. Sebagian besar desa adat tidak melaksanakan pengarakan ogoh-ogoh, karena ada kekhawatiran tidak ada jaminan memenuhi standarisasi protokol kesehatan Covid-19.

Baca Juga:  Waspada! Marak Produk Bahaya di Situs Online

Selain itu juga dikhawatirkan akan kembali meningkatkan kasus baru Covid-19 di wilayah desa adat masing-masing.

 

“Untuk di Kerobokan sudah pasti tidak melakukan pengarakan ogoh-ogoh,” terang pria yang juga Bendesa Adat Kerobokan itu.

 

Sedangkan untuk kegiatan melasti, Desa Adat Kerobokan serta desa adat se-Kabupaten Badung akan melaksanakan pemelastian ngubeng atau sama seperti tahun lalu. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/