alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Awas, Ombak Capai 6 Meter, BMKG: Dipicu Dinamika di Barat Australia

MANGUPURA – Cuaca ekstrem di laut berupa ombak tinggi dan angin kencang diprediksi masih terus berlanjut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, memprakirakan ombak di perairan selatan Bali hingga 26 Juli mendatang.

Yang perlu diwaspadai, ketinggian ombak bisa mencapai 6 meter. Dampak dari cuaca ekstrem ini bisa dilihat di Pantai Matahari Terbit, Sanur, diserbu sampah.

Dampak lain yakni pelabuhan penyeberangan di berbagai tempat melakukan sistem buka tutup.

“Ombak tinggi ini sebenarnya tidak hanya di perairan selatan Bali. Tapi, juga Jawa dan Lombok,” terang Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, Taufik Gunawan.

Karena itu, Taufik meminta masyarakat terutama yang beraktivitas di pesisir selalu berhati-hati. Saat berwisata di pantai diimbau agar tidak memaskakan diri berenang di pantai jika ombak tinggi.

Apalagi anak-anak. Semua wajib mengikuti saran dan peringatan dari petugas setempat. Sebab, musibah seringkali terjadi saat kita lengah dan gegabah.

Baca Juga:  Tewas Usai Jukung Dihantam Ombak, Polair Imbau Waspadai Cuaca Buruk

“Ombak tinggi ini tidak hanya disebabkan angin kencang. Tapi juga ada sebab lain yang disebut alun,” imbuhnya.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah III Denpasar, Decky Irmawan menjelaskan, alun adalah dinamika di suatu perairan sehingga menyebabkan penjalaran atau perambatan gelombang.

Misalkan untuk saat ini terjadi dinamika di perairan barat Australia. Dampak dari dinamika itu ombak besar yang menjalar atau merambat hingga ribuan kilometer sampai ke perairan Indonesia.

“Itulah kenapa lokasi (alun) terjadi di barat Australia, tapi efeknya dirasakan hingga ke Indonesia. Salah satunya Jawa, Lombok, dan Bali,” jelasnya.   

Ditanya berapa lama ombak tinggi ini akan bertahan, Decky mengungkapkan ketinggian ombak sejatinya bersifat fluktuatif atau berubah setiap saat.

Ketika ombak setinggi 3 meter, tapi bisa berubah menjadi 4 meter bahkan lebih. Tentu tinggi ombak juga salah satunya disebabkan arah dan kecepatan angin.

Baca Juga:  Hadiri Melaspas di Klungkung, Bupati Giri Haturkan Punia Rp 400 Juta

Lebih lanjut, sebenarnya kecepatan angin saat ini termasuk normal, yakni 15 – 20 knot atau sekitar 27 km/jam.

Namun, karena kecepatan angin tersebut stabil dan kontinu, maka ombak menjadi besar. Kembali ditanya apakah ombak besar seperti ini lazim di musim kemarau, Decky menyebut tidak ada patokan hubungan musim dengan ombak.

“Makanya, kalau dari sisi metreologi yang perlu diingat juga sifat air laut serta atmosfer yang dinamis. Itulah mengapa BMKG selalu memutakhirkan informasi,” ungkap pria asal kelahiran Jakarta itu.

 

Prakiraan tinggi gelombang laut menurut BMKG:

21 Juli 2018: 3.0 – 3.5 meter

22 Juli 2018: 2.5 – 3.0 meter

23 Juli 2018: 3.0 – 4.0 meter

24 Juli 2018: 4.0 – 6.0 meter

25 Juli 2018: 4.0 – 6.0 meter

26 Juli 2018: 4.0 – 5.0 meter

 

 



MANGUPURA – Cuaca ekstrem di laut berupa ombak tinggi dan angin kencang diprediksi masih terus berlanjut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, memprakirakan ombak di perairan selatan Bali hingga 26 Juli mendatang.

Yang perlu diwaspadai, ketinggian ombak bisa mencapai 6 meter. Dampak dari cuaca ekstrem ini bisa dilihat di Pantai Matahari Terbit, Sanur, diserbu sampah.

Dampak lain yakni pelabuhan penyeberangan di berbagai tempat melakukan sistem buka tutup.

“Ombak tinggi ini sebenarnya tidak hanya di perairan selatan Bali. Tapi, juga Jawa dan Lombok,” terang Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, Taufik Gunawan.

Karena itu, Taufik meminta masyarakat terutama yang beraktivitas di pesisir selalu berhati-hati. Saat berwisata di pantai diimbau agar tidak memaskakan diri berenang di pantai jika ombak tinggi.

Apalagi anak-anak. Semua wajib mengikuti saran dan peringatan dari petugas setempat. Sebab, musibah seringkali terjadi saat kita lengah dan gegabah.

Baca Juga:  Pesisir Pebuahan Dihajar Gelombang, Desa Tawarkan Solusi Relokasi

“Ombak tinggi ini tidak hanya disebabkan angin kencang. Tapi juga ada sebab lain yang disebut alun,” imbuhnya.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah III Denpasar, Decky Irmawan menjelaskan, alun adalah dinamika di suatu perairan sehingga menyebabkan penjalaran atau perambatan gelombang.

Misalkan untuk saat ini terjadi dinamika di perairan barat Australia. Dampak dari dinamika itu ombak besar yang menjalar atau merambat hingga ribuan kilometer sampai ke perairan Indonesia.

“Itulah kenapa lokasi (alun) terjadi di barat Australia, tapi efeknya dirasakan hingga ke Indonesia. Salah satunya Jawa, Lombok, dan Bali,” jelasnya.   

Ditanya berapa lama ombak tinggi ini akan bertahan, Decky mengungkapkan ketinggian ombak sejatinya bersifat fluktuatif atau berubah setiap saat.

Ketika ombak setinggi 3 meter, tapi bisa berubah menjadi 4 meter bahkan lebih. Tentu tinggi ombak juga salah satunya disebabkan arah dan kecepatan angin.

Baca Juga:  SDN 3 Munduk Disapu Banjir Bandang, Disdik Tawarkan Dua Opsi

Lebih lanjut, sebenarnya kecepatan angin saat ini termasuk normal, yakni 15 – 20 knot atau sekitar 27 km/jam.

Namun, karena kecepatan angin tersebut stabil dan kontinu, maka ombak menjadi besar. Kembali ditanya apakah ombak besar seperti ini lazim di musim kemarau, Decky menyebut tidak ada patokan hubungan musim dengan ombak.

“Makanya, kalau dari sisi metreologi yang perlu diingat juga sifat air laut serta atmosfer yang dinamis. Itulah mengapa BMKG selalu memutakhirkan informasi,” ungkap pria asal kelahiran Jakarta itu.

 

Prakiraan tinggi gelombang laut menurut BMKG:

21 Juli 2018: 3.0 – 3.5 meter

22 Juli 2018: 2.5 – 3.0 meter

23 Juli 2018: 3.0 – 4.0 meter

24 Juli 2018: 4.0 – 6.0 meter

25 Juli 2018: 4.0 – 6.0 meter

26 Juli 2018: 4.0 – 5.0 meter

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/