alexametrics
27.6 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Duh, PLN Catat 74 Kali Pemadaman Selama Bulan Juli Akibat Layangan

DENPASAR – Langit yang cerah di Bali kini dihiasi dengan layangan. Bahkan, hingga malam pun, layangan ini dapat dilihat karena si pemilik layangan memasang lampu di layangannya.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG di Bali, Iman Fatchurochman memprediksi masyarakat masih tetap bermain layangan hingga angin tak mendukung lagi.

Dan angin untuk bermain layangan diprediksi masih ada hingga bulan Agustus nanti. “Biasanya selama musim kemarau angin lebih kencang. Jadi diperkirakan sampai Agustus masih seperti ini,” ujar Iman Fatchurochman.

Namun siapa sangka, dibalik keasyikan warga bermain layangan membuat pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedikit pusing.

Bagaimana tidak, salah satu gangguan akibat layangan pun ternyata pada Minggu lalu (19/7). Dimana, PLN Pesanggaran mengalami kerusakan pada gardu listriknya.

Baca Juga:  Juli, Atlet Perkemi Bali Siap Jajal Kekuatan Tim Papua dan Kaltim

Gardu induk bagian Bus Bar 150 KV tersebut tertimpa layangan berukuran dua meter lebih. Gardu pun meledak dan terbakar.

Dampaknya, aliran listrik yang mengalir ke wilayah Denpasar timur dan selatan termasuk ke Kuta pun padam sekitar lima jam.

Gangguan akibat layangan ini pun ditanggapi I Made Arya selaku Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Provinsi Bali.

Ia tak menampik gangguan listrik akibat layangan begitu tinggi di bulan Juni ini. “Iya, benar, sejak Juni kita sudah mencatat sampai hari ini sudah menurunkan layang-layang sebanyak 500 kali dari transmisi (Sutet) di seluruh Bali,” ujar I Made Arya, Rabu (22/7)

Selain itu, pihaknya juga mencatat pemadaman listrik akibat layangan dengan durasi 10 sampai 30 menit di bulan Juni – Juli 2020 sudah terjadi sebanyak 74 kali di wilayah Bali Selatan saja.

Baca Juga:  Daya Listrik Disederhanakan, YLPK: Jangan Jadi Kedok Naikkan Tarif

Sedangkan wilayah Bali Utara, timur maupun barat tak terlalu banyak. 



DENPASAR – Langit yang cerah di Bali kini dihiasi dengan layangan. Bahkan, hingga malam pun, layangan ini dapat dilihat karena si pemilik layangan memasang lampu di layangannya.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG di Bali, Iman Fatchurochman memprediksi masyarakat masih tetap bermain layangan hingga angin tak mendukung lagi.

Dan angin untuk bermain layangan diprediksi masih ada hingga bulan Agustus nanti. “Biasanya selama musim kemarau angin lebih kencang. Jadi diperkirakan sampai Agustus masih seperti ini,” ujar Iman Fatchurochman.

Namun siapa sangka, dibalik keasyikan warga bermain layangan membuat pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedikit pusing.

Bagaimana tidak, salah satu gangguan akibat layangan pun ternyata pada Minggu lalu (19/7). Dimana, PLN Pesanggaran mengalami kerusakan pada gardu listriknya.

Baca Juga:  Warga Desa Sulangai Badung Tewas Gantung Diri di Pohon Buni

Gardu induk bagian Bus Bar 150 KV tersebut tertimpa layangan berukuran dua meter lebih. Gardu pun meledak dan terbakar.

Dampaknya, aliran listrik yang mengalir ke wilayah Denpasar timur dan selatan termasuk ke Kuta pun padam sekitar lima jam.

Gangguan akibat layangan ini pun ditanggapi I Made Arya selaku Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Provinsi Bali.

Ia tak menampik gangguan listrik akibat layangan begitu tinggi di bulan Juni ini. “Iya, benar, sejak Juni kita sudah mencatat sampai hari ini sudah menurunkan layang-layang sebanyak 500 kali dari transmisi (Sutet) di seluruh Bali,” ujar I Made Arya, Rabu (22/7)

Selain itu, pihaknya juga mencatat pemadaman listrik akibat layangan dengan durasi 10 sampai 30 menit di bulan Juni – Juli 2020 sudah terjadi sebanyak 74 kali di wilayah Bali Selatan saja.

Baca Juga:  Mimih, Masih Ada Warga Denpasar yang Tak Patuh Protokol Kesehatan

Sedangkan wilayah Bali Utara, timur maupun barat tak terlalu banyak. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/