alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Alat Olah Sampah Seharga Rp700 Juta di Desa Buduk Kini Mangkrak

MANGUPURA – Di Desa Buduk, Mengwi, Badung sempat melakukan pengolahan sampah dengan budidaya maggot atau ulat pemakan sampah. Sayangnya, TPS  berbasis maggot tersebut kini sudah tidak beroperasi lagi.

 

Hal ini terjadi disebabkan terkendala kontrak untuk lahan tersebut sudah berakhir. Namun pihak Desa setempat telah mengajukan permohonan ke Pemprov Bali untuk menggunakan aset Pemprov yang ada di Desa Buduk.

 

Perbekel Buduk Ketut Wira Adi Atmaja tidak menampik jika budidaya maggot di TPS tersebut sudah tidak lagi beroperasi. Bahkan berhenti  sebelum dirinya menjabat perbekel. Seperti diketahui pelantikan perbekel di Badung dilakukan secara serentak pada 26 Februari 2021.

 

Baca Juga:  Rektor Unud Klaim Pungutan Mahasiswa Jalur Mandiri Sah, Ini Dasarnya…

“Kontrak lokasi TPSnya sudah habis,” beber Atmaja dikonfirmasi, Selasa (22/6).

 

Kata dia, saat ini  masih melakukan penjajakan lokasi TPS untuk menjadikan Buduk mandiri dalam pengelolaan sampah. Selain itu juga telah mengajukan permohonan ke Pemerintah Provinsi Bali untuk dapat diberikan aset yang ada di Buduk untuk bisa dijadikan tempat pengelolaan sampah. “Kita sudah kirim permohonan itu ke Pemprov Bali,” terangnya.

 

Lokasi TPS nanti kalau bisa jauh dari pemukiman sehingga keberadaannya tidak mengganggu warga. “Kalau TPS dulu (yang ada maggotnya) selain kontraknya sudah habis, lokasinya di sekitar merupakan permukiman,” beber Sekretaris Desa Buduk Wayan Sudarsana.

 

Lebih lanjut, untuk membuat TPS yang mampu memilah dan mengolah sampah perlu dilakukan musyawarah dengan berbagai pihak, mulai dari BPD hingga pihak terkait.

Baca Juga:  Parwata Tegur Giri Prasta Minta Jangan Buru-Buru Turunkan Target PAD

 

“Yang jelas penanganan sampah di Buduk menjadi prioritas Pemerintah desa Buduk,” ujarnya. 

 

Seperti diketahui, pengelolaan sampah dengan maggot ini di era kepemimpinan Perbekel Desa Buduk   Ketut Sudarsana, pemerintah desa mengadakan mesin pemilahan sampah senilai Rp700 juta rupiah yang dianggarkan dari APBDes tahun 2019. Sayangnya, kini mesin tersebut tidak digunakan dan masih tersimpan di TPS yang masa kontraknya sudah habis itu. Budidaya maggot tersebut juga menggandeng rekanan dari Koloni BSF Indonesia, yang kini masa kerja sama sudah selesai.


MANGUPURA – Di Desa Buduk, Mengwi, Badung sempat melakukan pengolahan sampah dengan budidaya maggot atau ulat pemakan sampah. Sayangnya, TPS  berbasis maggot tersebut kini sudah tidak beroperasi lagi.

 

Hal ini terjadi disebabkan terkendala kontrak untuk lahan tersebut sudah berakhir. Namun pihak Desa setempat telah mengajukan permohonan ke Pemprov Bali untuk menggunakan aset Pemprov yang ada di Desa Buduk.

 

Perbekel Buduk Ketut Wira Adi Atmaja tidak menampik jika budidaya maggot di TPS tersebut sudah tidak lagi beroperasi. Bahkan berhenti  sebelum dirinya menjabat perbekel. Seperti diketahui pelantikan perbekel di Badung dilakukan secara serentak pada 26 Februari 2021.

 

Baca Juga:  Kelab Malam dan Tempat Karaoke Diobok-Obok Polisi, Ini Yang Dicari 

“Kontrak lokasi TPSnya sudah habis,” beber Atmaja dikonfirmasi, Selasa (22/6).

 

Kata dia, saat ini  masih melakukan penjajakan lokasi TPS untuk menjadikan Buduk mandiri dalam pengelolaan sampah. Selain itu juga telah mengajukan permohonan ke Pemerintah Provinsi Bali untuk dapat diberikan aset yang ada di Buduk untuk bisa dijadikan tempat pengelolaan sampah. “Kita sudah kirim permohonan itu ke Pemprov Bali,” terangnya.

 

Lokasi TPS nanti kalau bisa jauh dari pemukiman sehingga keberadaannya tidak mengganggu warga. “Kalau TPS dulu (yang ada maggotnya) selain kontraknya sudah habis, lokasinya di sekitar merupakan permukiman,” beber Sekretaris Desa Buduk Wayan Sudarsana.

 

Lebih lanjut, untuk membuat TPS yang mampu memilah dan mengolah sampah perlu dilakukan musyawarah dengan berbagai pihak, mulai dari BPD hingga pihak terkait.

Baca Juga:  Lestarikan Ekosistem Air Tawar, Tebar 10.000 Benih Ikan Nila di Mengwi

 

“Yang jelas penanganan sampah di Buduk menjadi prioritas Pemerintah desa Buduk,” ujarnya. 

 

Seperti diketahui, pengelolaan sampah dengan maggot ini di era kepemimpinan Perbekel Desa Buduk   Ketut Sudarsana, pemerintah desa mengadakan mesin pemilahan sampah senilai Rp700 juta rupiah yang dianggarkan dari APBDes tahun 2019. Sayangnya, kini mesin tersebut tidak digunakan dan masih tersimpan di TPS yang masa kontraknya sudah habis itu. Budidaya maggot tersebut juga menggandeng rekanan dari Koloni BSF Indonesia, yang kini masa kerja sama sudah selesai.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/