alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

CATAT! Dana Aci dan Insentif tetap Diberikan

 

MANGUPURA–Kendati keuangan Pemerintah Kabupaten Badung mengalami penurunan di masa pandemi ini, tetapi tetap memberikan dana aci keagamaan. Selain itu intensif beberapa pimpinan bidang adat dan agama seperti sulinggih, pemangku, bendesa, pekaseh serta pangliman juga masih diberikan. Bahkan tahun 2022 ini Pemkab Badung memasang anggaran sebesar Rp 88 Miliar.

 

Kepala Dinas Kebudayaan, I Gede Eka Sudarwitha menerangkan dana aci keagamaan dianggarkan dengan peruntukan untuk Sad Kahyangan, Dang Kahyangan, Kahyangan Jagat, Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa yang ada di Gumi Keris. Termasuk upacara naimitika yadnya atau upacara yang bersifat insidentil seperti upacara atiwa-tiwa, ngenteg linggih dan sebagainya.

 

“Terkait anggaran yang kami pasang Rp 88 miliar, angka ini masih bergerak. Kalau pagunya itu Rp 95 miliar, rinciannya ada. Tapi tentu angka ini masih bergerak sesuai arahan pimpinan,” kata Eka Sudarwitha saat mengikuti rapat kerja Komisi IV dengan pembahasan program atau kegiatan tahun anggaran 2022 di Gedung DPRD Badung belum lama ini.

Baca Juga:  Tambah 4 Pasien Positif, Mayoritas Imported Case, Indra: Masih Bandel

 

Mantan Camat Petang ini menambahkan, karena dana aci serta intensif pimpinan bidang adat dan agama juga mengalami rasionalisasi anggaran, maka pemberian dana aci keagamaan saat ini bersifat motivasi. Maksudnya, dana aci yang diberikan mencukupi untuk upakara tingkat paling sederhana.

 

“Kalau sebelumnya itu (pemberian dana aci) bersifat membebaskan atau menggratiskan. Kalau sekarang sifatnya motivasi. Artinya dana yang diberikan mencukupi untuk upacara dengan tingkatan alit (paling sederhana). Dan artinya masih ada perhatian dan punia bhakti dari Pemda kepada masyarakat atau pelaksana upacara,” jelasnya.

 

Sementara itu, untuk insentif sulinggih, pemangku, bendesa, pekaseh, kelian banjar, serta pangliman juga mengalami rasionalisasi anggaran. Baik dana aci keagamaan maupun intensif mengalami rasionalisasi sejak Juni 2021. Insentif yang diberikan untuk sulinggih Rp 750.000, Pemangku sad kahyangan Rp 600.000, Pemangku kahyangan 3/prajapati Rp 500.000, Bandesa Rp 1.250.000, Rp Klian Br adat 1.000.000. Untuk pekaseh Rp 1.500.000, Pangliman Rp 750.000.

Baca Juga:  Karyawan PHK dan Dirumahkan Naik Tajam, Bupati Giri Siapkan Insentif

Namun, untuk realisasi pemberian dana aci maupun intensif hingga saat ini masih berjalan meskipun terkena rasionalisasi. Jika sebelumnya per bulan realisasi dana aci mencapai lebih dari Rp 2 miliar, namun kini realisasinya Rp 1,25 miliar. Sedangkan realisasi intensif saat ini sebesar Rp 1,8 miliar. “Untuk hibah dana aci, kita tidak ada yang tidak cair. Tetapi jumlahnya memang terdapat realokasi dan refocusing,” pungkasnya.


 

MANGUPURA–Kendati keuangan Pemerintah Kabupaten Badung mengalami penurunan di masa pandemi ini, tetapi tetap memberikan dana aci keagamaan. Selain itu intensif beberapa pimpinan bidang adat dan agama seperti sulinggih, pemangku, bendesa, pekaseh serta pangliman juga masih diberikan. Bahkan tahun 2022 ini Pemkab Badung memasang anggaran sebesar Rp 88 Miliar.

 

Kepala Dinas Kebudayaan, I Gede Eka Sudarwitha menerangkan dana aci keagamaan dianggarkan dengan peruntukan untuk Sad Kahyangan, Dang Kahyangan, Kahyangan Jagat, Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa yang ada di Gumi Keris. Termasuk upacara naimitika yadnya atau upacara yang bersifat insidentil seperti upacara atiwa-tiwa, ngenteg linggih dan sebagainya.

 

“Terkait anggaran yang kami pasang Rp 88 miliar, angka ini masih bergerak. Kalau pagunya itu Rp 95 miliar, rinciannya ada. Tapi tentu angka ini masih bergerak sesuai arahan pimpinan,” kata Eka Sudarwitha saat mengikuti rapat kerja Komisi IV dengan pembahasan program atau kegiatan tahun anggaran 2022 di Gedung DPRD Badung belum lama ini.

Baca Juga:  Disebut Mendagri Belum Cairkan Insentif Nakes, Sekda Bali Membantah

 

Mantan Camat Petang ini menambahkan, karena dana aci serta intensif pimpinan bidang adat dan agama juga mengalami rasionalisasi anggaran, maka pemberian dana aci keagamaan saat ini bersifat motivasi. Maksudnya, dana aci yang diberikan mencukupi untuk upakara tingkat paling sederhana.

 

“Kalau sebelumnya itu (pemberian dana aci) bersifat membebaskan atau menggratiskan. Kalau sekarang sifatnya motivasi. Artinya dana yang diberikan mencukupi untuk upacara dengan tingkatan alit (paling sederhana). Dan artinya masih ada perhatian dan punia bhakti dari Pemda kepada masyarakat atau pelaksana upacara,” jelasnya.

 

Sementara itu, untuk insentif sulinggih, pemangku, bendesa, pekaseh, kelian banjar, serta pangliman juga mengalami rasionalisasi anggaran. Baik dana aci keagamaan maupun intensif mengalami rasionalisasi sejak Juni 2021. Insentif yang diberikan untuk sulinggih Rp 750.000, Pemangku sad kahyangan Rp 600.000, Pemangku kahyangan 3/prajapati Rp 500.000, Bandesa Rp 1.250.000, Rp Klian Br adat 1.000.000. Untuk pekaseh Rp 1.500.000, Pangliman Rp 750.000.

Baca Juga:  Bersih Pantai, Simpatisan Sebut JRX Lebih Berguna di Luar Penjara

Namun, untuk realisasi pemberian dana aci maupun intensif hingga saat ini masih berjalan meskipun terkena rasionalisasi. Jika sebelumnya per bulan realisasi dana aci mencapai lebih dari Rp 2 miliar, namun kini realisasinya Rp 1,25 miliar. Sedangkan realisasi intensif saat ini sebesar Rp 1,8 miliar. “Untuk hibah dana aci, kita tidak ada yang tidak cair. Tetapi jumlahnya memang terdapat realokasi dan refocusing,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/