alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Puting Beliung Terjang Selat Bali, Fenomena Alam yang Perlu Anda Tahu

GILIMANUK – Ditengah padatnya arus penumpang yang hendak merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Sabtu (22/12) petang penyeberangan di Selat Bali sempat terganggu.

Akibat hujan deras dan angin ngelinus (puting beliung) penyeberangan terpaksa ditutup. Sekitar pukul 17.00 mendung tebal terjadi diatas perairan Selat Bali.

Pelabuhan Gilimanuk kembali tutup kemarin saat kabut tebal menutup jalur penyeberangan di Selat Bali.

Yang mengerikan pada hari Sabtu lalu adalah munculnya puting beliung. Angin yang berawal dari Lingkungan Asri, Gilimanuk itu mendadak membesar menuju ke arah Selat Bali membentuk pusaran.

Beruntung pusaran angin itu ada di tengah laut, bukan di perkampungan padat penduduk. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika terjadi di daratan.

Yup, pada musim hujan seperti ini, tidak hanya banjir dan longsor yang perlu diwaspadai. Puting beliung juga harus diwaspadai.

Lalu apa itu puting beliung? Berdasar sejumlah literatur, puting beliung merupakan angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60 hingga 90 km/jam yang berlangsung

selama 5 hingga 10 menit karena perbedaan tekanan yang sangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).

Puting beliung terjadi biasanya bermula dari udara terasa panas dan gerah, munculnya awan putih yang bergerombol dan berlapis-lapis di langit di mana di antara awan tersebut

ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual mirip kembang kol.

Lalu berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat yang biasa disebut awan Cumulonimbus.

Biasanya lama fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat harus waspada selama periode ini.

Puting beliung adalah dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa yang tumbuh selama periode musim hujan.

Munculnya puting beliung belum dapat diprediksi, hadir secara mendadak sekitar 5 hingga 10 menit pada area skala sangat lokal.

Pusaran puting beliung mirip belalai gajah selang vacuum cleaner. Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan.

Puting beliung lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah dataran rendah.

 



GILIMANUK – Ditengah padatnya arus penumpang yang hendak merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Sabtu (22/12) petang penyeberangan di Selat Bali sempat terganggu.

Akibat hujan deras dan angin ngelinus (puting beliung) penyeberangan terpaksa ditutup. Sekitar pukul 17.00 mendung tebal terjadi diatas perairan Selat Bali.

Pelabuhan Gilimanuk kembali tutup kemarin saat kabut tebal menutup jalur penyeberangan di Selat Bali.

Yang mengerikan pada hari Sabtu lalu adalah munculnya puting beliung. Angin yang berawal dari Lingkungan Asri, Gilimanuk itu mendadak membesar menuju ke arah Selat Bali membentuk pusaran.

Beruntung pusaran angin itu ada di tengah laut, bukan di perkampungan padat penduduk. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika terjadi di daratan.

Yup, pada musim hujan seperti ini, tidak hanya banjir dan longsor yang perlu diwaspadai. Puting beliung juga harus diwaspadai.

Lalu apa itu puting beliung? Berdasar sejumlah literatur, puting beliung merupakan angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60 hingga 90 km/jam yang berlangsung

selama 5 hingga 10 menit karena perbedaan tekanan yang sangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).

Puting beliung terjadi biasanya bermula dari udara terasa panas dan gerah, munculnya awan putih yang bergerombol dan berlapis-lapis di langit di mana di antara awan tersebut

ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual mirip kembang kol.

Lalu berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat yang biasa disebut awan Cumulonimbus.

Biasanya lama fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat harus waspada selama periode ini.

Puting beliung adalah dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa yang tumbuh selama periode musim hujan.

Munculnya puting beliung belum dapat diprediksi, hadir secara mendadak sekitar 5 hingga 10 menit pada area skala sangat lokal.

Pusaran puting beliung mirip belalai gajah selang vacuum cleaner. Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan.

Puting beliung lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah dataran rendah.

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/