alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Pemerintah Pusat Soroti Penanganan Sampah di Bali, Luhut Turun Tangan

DENPASAR – Masalah sampah di Bali menjadi sorotan pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga turun tangan.

Hal itu terungkap saat Luhut Binsar Panjaitan meninjau langsung percepatan penanganan sampah di TPST Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, Jumat (25/2). Dalam kunjungan tersebut, Luhut didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster, Walikota Denpasar, IGN. Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar, IB. Alit Wiradana serta unsur terkait lainya.

 

“Kita ini mau buat Bali ini bersih, di mana nanti kita akan buat 3 TPST di Denpasar yakni pertama di Desa Padangsambian Kaja,” ucap Luhut, Jumat (25/2). 

 

Selain Padangsambian Kaja, kata dia, TPST juga akan dibangun di Tahura Ngurah Rai dan Kesiman Kertalangu yang akan mampu menampung minimal 820 ton sampah perhari untuk diolah. Selain TPST dalam penanganan sampah saat juga sudah dibangun beberapa TPS3R. 

 

“Target selesai pada akhir bulan Juli 2022 ini. Target bulan Juli bisa tuntas dibangun sehingga bulan Agustus bisa beroprasi,” katanya.

 

Lebih lanjut dikatakan, terkait pengelolalan hasil produk sampah seperti pupuk kompos, daur ulang akan berdampak juga kepada penghasilan UMKM di Denpasar nantinya. Dan diharapkan jika ini berjalan dengan baik serta lancar maka bulan Oktober-Desember ini Bali termasuk Denpasar  akan jauh lebih bersih dari pada sebelumnya.

 

Kamis lalu dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Staf Khusus Menteri Dalam Negeri Bidang Keamanan dan Hukum, Sang Made Mahendra Jaya, saat ditemui di sela kunjungan kerjanya di Denpasar, Bali, Kamis (24/2) juga menyinggung masalah sampah.

 

 

Kata Sang Made Mahendra Jaya, Kemendagri melakukan pendampingan dalam rangka percepatan penanganan sampah di Bali. Langkah ini penting, mengingat Bali akan menjadi tuan rumah pelaksanaan puncak acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20) 2022.

 

“Sampah telah menjadi salah satu isu global, termasuk menjadi persoalan di Bali yang menjadi destinasi wisata dunia, dan tempat penyelenggaraan kegiatan internasional, pemerintah ingin menuntaskan persoalan sampah yang ada di Bali,” ujarnya. 

 

Sang Made Mahendra Jaya menuturkan, penanganan sampah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, pemerhati lingkungan dan pihak terkait lainnya.

 

Dalam kesempatan setelah berkunjung ke beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Kota Denpasar yang menerapkan sistem reuse, reduce, dan recycle (3R) dalam mengelola sampah. Menurutnya, keberadaan TPS3R bagus dan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam menuntaskan persoalan sampah.

 

Masyarakat telah melihat bahwa sampah merupakan sumber daya yang mempunyai nilai ekonomis. Untuk itu perlu terus dilakukan pendampingan untuk peningkatan pengelolaan dan produk yang dihasilkan sehingga TPS3R benar-benar dapat mandiri, selanjutnya yang bagus direplikasi di tempat lain, sehingga beban sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tak terlalu banyak.

 

Di lain sisi, Mahendra menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi dalam mengelola sampah. Kendala itu seperti paradigma masyarakat dalam melihat sampah, dan kesadaran masyarakat mulai di tingkat rumah.

 

“Idealnya sedari awal sudah melakukan pemilahan sampah sesuai katagorinya, misalnya organik dan nonorganik. Pemilahan itu dapat memudahkan pengelolaan sampah di TPS3R,” jelasnya.

 

Karena itu, Kemendagri mendorong agar pemerintah daerah (Pemda) dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Mahendra berharap, nantinya penanganan sampah di Bali dapat tuntas dan menjadi contoh penanganan sampah secara nasional.



DENPASAR – Masalah sampah di Bali menjadi sorotan pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga turun tangan.

Hal itu terungkap saat Luhut Binsar Panjaitan meninjau langsung percepatan penanganan sampah di TPST Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, Jumat (25/2). Dalam kunjungan tersebut, Luhut didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster, Walikota Denpasar, IGN. Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar, IB. Alit Wiradana serta unsur terkait lainya.

 

“Kita ini mau buat Bali ini bersih, di mana nanti kita akan buat 3 TPST di Denpasar yakni pertama di Desa Padangsambian Kaja,” ucap Luhut, Jumat (25/2). 

 

Selain Padangsambian Kaja, kata dia, TPST juga akan dibangun di Tahura Ngurah Rai dan Kesiman Kertalangu yang akan mampu menampung minimal 820 ton sampah perhari untuk diolah. Selain TPST dalam penanganan sampah saat juga sudah dibangun beberapa TPS3R. 

 

“Target selesai pada akhir bulan Juli 2022 ini. Target bulan Juli bisa tuntas dibangun sehingga bulan Agustus bisa beroprasi,” katanya.

 

Lebih lanjut dikatakan, terkait pengelolalan hasil produk sampah seperti pupuk kompos, daur ulang akan berdampak juga kepada penghasilan UMKM di Denpasar nantinya. Dan diharapkan jika ini berjalan dengan baik serta lancar maka bulan Oktober-Desember ini Bali termasuk Denpasar  akan jauh lebih bersih dari pada sebelumnya.

 

Kamis lalu dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Staf Khusus Menteri Dalam Negeri Bidang Keamanan dan Hukum, Sang Made Mahendra Jaya, saat ditemui di sela kunjungan kerjanya di Denpasar, Bali, Kamis (24/2) juga menyinggung masalah sampah.

 

 

Kata Sang Made Mahendra Jaya, Kemendagri melakukan pendampingan dalam rangka percepatan penanganan sampah di Bali. Langkah ini penting, mengingat Bali akan menjadi tuan rumah pelaksanaan puncak acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20) 2022.

 

“Sampah telah menjadi salah satu isu global, termasuk menjadi persoalan di Bali yang menjadi destinasi wisata dunia, dan tempat penyelenggaraan kegiatan internasional, pemerintah ingin menuntaskan persoalan sampah yang ada di Bali,” ujarnya. 

 

Sang Made Mahendra Jaya menuturkan, penanganan sampah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, pemerhati lingkungan dan pihak terkait lainnya.

 

Dalam kesempatan setelah berkunjung ke beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Kota Denpasar yang menerapkan sistem reuse, reduce, dan recycle (3R) dalam mengelola sampah. Menurutnya, keberadaan TPS3R bagus dan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam menuntaskan persoalan sampah.

 

Masyarakat telah melihat bahwa sampah merupakan sumber daya yang mempunyai nilai ekonomis. Untuk itu perlu terus dilakukan pendampingan untuk peningkatan pengelolaan dan produk yang dihasilkan sehingga TPS3R benar-benar dapat mandiri, selanjutnya yang bagus direplikasi di tempat lain, sehingga beban sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tak terlalu banyak.

 

Di lain sisi, Mahendra menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi dalam mengelola sampah. Kendala itu seperti paradigma masyarakat dalam melihat sampah, dan kesadaran masyarakat mulai di tingkat rumah.

 

“Idealnya sedari awal sudah melakukan pemilahan sampah sesuai katagorinya, misalnya organik dan nonorganik. Pemilahan itu dapat memudahkan pengelolaan sampah di TPS3R,” jelasnya.

 

Karena itu, Kemendagri mendorong agar pemerintah daerah (Pemda) dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Mahendra berharap, nantinya penanganan sampah di Bali dapat tuntas dan menjadi contoh penanganan sampah secara nasional.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/