alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Kematian Babi Mendadak Meluas, Virus Pemicu Kematian Belum Jelas

DENPASAR – Kejadian tewasnya ratusan babi mendadak di Bali, sejak Desember – Januari, hingga Minggu kemarin (26/1) belum juga ada kepastian jenis virusnya. 

Pengumuman hasil uji laboratorium sampel babi yang mati meskipun sudah seminggu lebih belum ada. 

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali pun masih menunggu. Ini karena dugaan adanya virus penyakit African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika belum ada kejelasan.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali  I Ketut Gede Nata Kesuma 

mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu. “Belum. Sabar, ya. Saya juga menunggu,” ucapnya. 

Sebagai catatan, pada minggu keempat di bulan Januari kematian babi terus bertambah. Terdiri dari Denpasar yang mati 4 ekor, Gianyar 7   ekor, dan Tabanan 2 ekor, Karangasem 1 ekor. 

Mulai Senin hari ini dilakukan sosialisasi secara bertahap di 15 lokasi di  Tabanan, Badung, Gianyar, dan Bangli.  

Diungkapkan, merebaknya kasus kematian ternak babi dalam satu bulan Desember 2019 sampai Januari 2020 ada beberapa lokasi peternakan wilayah Kota Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. 

Dengan tingkat kematian mortalitas mencapai 100 persen dan populasi terancam menimbulkan kerugian ekonomis dan berdampak psikologis pada peternak. 

Peningkatan kasus kematian akhir bulan Desember sampai minggu ketiga Januari 2020 dengan jumlah kematian sebanyak 606 ekor, 

dengan tingkat penyebaran kasus dalam waktu singkat menunjukkan adanya patogenitas kuman yang disebabkan oleh virus. 

“Dengan pemeliharaan kurang intensif terutama pemberian pakan antara lain sumber dari limbah hotel dan limbah roti dan bahan lain yang berisiko tinggi tanpa pengolahan sebelumnya,” terangnya. 

Kendati demikian, Natha mengaku perkembangan kematian tampak menurun. Apalagi, langkah Dinas Pertanian  Provinsi Bali 

membentuk tim respons cepat (TRC) yang melibatkan instansi terkait untuk melakukan langkah-langkah cepat, 

secara simultan melakukan investigasi lebih intensif secara terpadu (unsur dinas provinsi, kabupaten/kota, Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, serta melaporkan secara cepat dan tepat waktu, membuahkan hasil.

Guru besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof Dr Drh IGN Mahardika mengatakan pengujian biasanya membutuhkan waktu 24 jam. “Maksimal 24 jam,” terangnya. 

Mengenai vaksin ASF, dia mengatakan bahwa pembuatan vaksin ASF sangat kompleks, karena saat ini penelitian dasar mengenai itu belum mencukupi.

Dia mengatakan  bahwa karakteristik biologis virus ASF sangat kompleks. Begitu pula dengan mekanisme perlindungan terhadap ASF yang belum banyak diketahui. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa kendala pengembangan vaksin ASF yang selama ini berjalan karena penelitian tentang virus hidup ASF dibatasi 

hanya di laboratorium dengan tingkat biosekuriti tinggi, kurangnya model hewan kecil yang tepat dan ekonomis untuk percobaan, serta beberapa kendala teknis lainnya. 

“Oleh karena itu, kami mengembangkan vaksin ASF berbasis teknologi DNA rekombinan pada prokariota dengan sistem chaperone kombinasi 

protein struktural dan non-struktural yang aman dan dapat diproduksi cepat. Prosesnya sudah kita laksanakan dan saat ini master seed sudah siap untuk dibuatkan prototipenya di Pusvetma,”  terangnya. 

Di Tabanan, penyebab kematian puluhan babi di Desa Jegu, Penebel bahwa dua sampel darah babi positif terjangkit virus ASF dibantah. 

Meskipun sebelumnya pada Selasa (21/1) lalu di hadapan peternak Dinas Pertanian melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Tabanan 

sendiri yang mengumumkan hasil uji laboratorium BBVET Denpasar dua dari tiga sampel darah babi yang diambil positif terjangkit ASF.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian Tabanan, I Wayan Suamba, berdalih bahwa dua sampel yang positif ASF tersebut masih diragukan. 

Dengan alasan karena alat dari BBVet Denpasar kurang canggih. Sehingga untuk memastikannya sampel darah diuji kembali di BBVet Medan.

 “Jadi masih dibawa ke Medan untuk memastikan tunggu dulu, ya hasilnya,” saat dihubungi. 



DENPASAR – Kejadian tewasnya ratusan babi mendadak di Bali, sejak Desember – Januari, hingga Minggu kemarin (26/1) belum juga ada kepastian jenis virusnya. 

Pengumuman hasil uji laboratorium sampel babi yang mati meskipun sudah seminggu lebih belum ada. 

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali pun masih menunggu. Ini karena dugaan adanya virus penyakit African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika belum ada kejelasan.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali  I Ketut Gede Nata Kesuma 

mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu. “Belum. Sabar, ya. Saya juga menunggu,” ucapnya. 

Sebagai catatan, pada minggu keempat di bulan Januari kematian babi terus bertambah. Terdiri dari Denpasar yang mati 4 ekor, Gianyar 7   ekor, dan Tabanan 2 ekor, Karangasem 1 ekor. 

Mulai Senin hari ini dilakukan sosialisasi secara bertahap di 15 lokasi di  Tabanan, Badung, Gianyar, dan Bangli.  

Diungkapkan, merebaknya kasus kematian ternak babi dalam satu bulan Desember 2019 sampai Januari 2020 ada beberapa lokasi peternakan wilayah Kota Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. 

Dengan tingkat kematian mortalitas mencapai 100 persen dan populasi terancam menimbulkan kerugian ekonomis dan berdampak psikologis pada peternak. 

Peningkatan kasus kematian akhir bulan Desember sampai minggu ketiga Januari 2020 dengan jumlah kematian sebanyak 606 ekor, 

dengan tingkat penyebaran kasus dalam waktu singkat menunjukkan adanya patogenitas kuman yang disebabkan oleh virus. 

“Dengan pemeliharaan kurang intensif terutama pemberian pakan antara lain sumber dari limbah hotel dan limbah roti dan bahan lain yang berisiko tinggi tanpa pengolahan sebelumnya,” terangnya. 

Kendati demikian, Natha mengaku perkembangan kematian tampak menurun. Apalagi, langkah Dinas Pertanian  Provinsi Bali 

membentuk tim respons cepat (TRC) yang melibatkan instansi terkait untuk melakukan langkah-langkah cepat, 

secara simultan melakukan investigasi lebih intensif secara terpadu (unsur dinas provinsi, kabupaten/kota, Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, serta melaporkan secara cepat dan tepat waktu, membuahkan hasil.

Guru besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof Dr Drh IGN Mahardika mengatakan pengujian biasanya membutuhkan waktu 24 jam. “Maksimal 24 jam,” terangnya. 

Mengenai vaksin ASF, dia mengatakan bahwa pembuatan vaksin ASF sangat kompleks, karena saat ini penelitian dasar mengenai itu belum mencukupi.

Dia mengatakan  bahwa karakteristik biologis virus ASF sangat kompleks. Begitu pula dengan mekanisme perlindungan terhadap ASF yang belum banyak diketahui. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa kendala pengembangan vaksin ASF yang selama ini berjalan karena penelitian tentang virus hidup ASF dibatasi 

hanya di laboratorium dengan tingkat biosekuriti tinggi, kurangnya model hewan kecil yang tepat dan ekonomis untuk percobaan, serta beberapa kendala teknis lainnya. 

“Oleh karena itu, kami mengembangkan vaksin ASF berbasis teknologi DNA rekombinan pada prokariota dengan sistem chaperone kombinasi 

protein struktural dan non-struktural yang aman dan dapat diproduksi cepat. Prosesnya sudah kita laksanakan dan saat ini master seed sudah siap untuk dibuatkan prototipenya di Pusvetma,”  terangnya. 

Di Tabanan, penyebab kematian puluhan babi di Desa Jegu, Penebel bahwa dua sampel darah babi positif terjangkit virus ASF dibantah. 

Meskipun sebelumnya pada Selasa (21/1) lalu di hadapan peternak Dinas Pertanian melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Tabanan 

sendiri yang mengumumkan hasil uji laboratorium BBVET Denpasar dua dari tiga sampel darah babi yang diambil positif terjangkit ASF.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian Tabanan, I Wayan Suamba, berdalih bahwa dua sampel yang positif ASF tersebut masih diragukan. 

Dengan alasan karena alat dari BBVet Denpasar kurang canggih. Sehingga untuk memastikannya sampel darah diuji kembali di BBVet Medan.

 “Jadi masih dibawa ke Medan untuk memastikan tunggu dulu, ya hasilnya,” saat dihubungi. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/