alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Awas! Virus JE di Bali Meningkat, 8,5 Persen Penderita Meninggal Dunia

DENPASAR – Kasus penyebaran virus Japanese Encephalitis (JE) di Bali terus meningkat dari tahun ke tahun.

Padahal, virus yang pertama kali ditemukan di Jepang pertama 1871 itu sangat berbahaya. 8,5 persen penderitanya meninggal dunia.

Kalaupun sembuh penderitanya mengalami gejala sisa seperti tuli, ayan bahkan idiot. Kasus manusia terserang virus JE di Indonesia pada 2016 mencapai 326.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 226 kasus terjadi di Bali. Daerah yang paling banyak menyumbang kasus penderita virus JE yakni Jembrana dan Buleleng.

“Jadi, virus JE ini sangat serius. Gejala orang yang terserang virus JE ini mirip dengan demam berdarah.

Penderitanya panas hingga kejang-kejang,” papar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali, dr. I Ketut Suarjaya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Baca Juga:  Warga Serangan Was-was, Penolakan Proyek Kanal Berlanjut

Menurut Suarjaya, kasus penderita virus JE belakangan menunjukkan trend peningkatan. Sebelum 2016 angka kasus JE di bawah 200.

Sementara untuk kasus 2017 masih direkap. Suarjaya meyakini 226 kasus yang terjadi di Bali pada 2016 itu hanya yang dilaporkan saja.

Artinya, masih banyak kasus yang tidak diketahui dan tidak dilaporkan oleh masyarakat. “226 kasus itu yang terlapor, yang belum terlapor banyak,” tandasnya.



DENPASAR – Kasus penyebaran virus Japanese Encephalitis (JE) di Bali terus meningkat dari tahun ke tahun.

Padahal, virus yang pertama kali ditemukan di Jepang pertama 1871 itu sangat berbahaya. 8,5 persen penderitanya meninggal dunia.

Kalaupun sembuh penderitanya mengalami gejala sisa seperti tuli, ayan bahkan idiot. Kasus manusia terserang virus JE di Indonesia pada 2016 mencapai 326.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 226 kasus terjadi di Bali. Daerah yang paling banyak menyumbang kasus penderita virus JE yakni Jembrana dan Buleleng.

“Jadi, virus JE ini sangat serius. Gejala orang yang terserang virus JE ini mirip dengan demam berdarah.

Penderitanya panas hingga kejang-kejang,” papar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali, dr. I Ketut Suarjaya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Baca Juga:  Rektor Unud Ngaku Bikin Asrama untuk Kemajuan, Mahasiswa Cari Utang

Menurut Suarjaya, kasus penderita virus JE belakangan menunjukkan trend peningkatan. Sebelum 2016 angka kasus JE di bawah 200.

Sementara untuk kasus 2017 masih direkap. Suarjaya meyakini 226 kasus yang terjadi di Bali pada 2016 itu hanya yang dilaporkan saja.

Artinya, masih banyak kasus yang tidak diketahui dan tidak dilaporkan oleh masyarakat. “226 kasus itu yang terlapor, yang belum terlapor banyak,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/