alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Trauma Mengungsi saat Gunung Meletus 1963, Pengungsi Lansia Meninggal

RadarBali.com  – Bertambah lagi jumlah pengungsi yang meninggal di kamp pengungsian. Seorang dadong asal Desa Temega, Abang, Karangasem, dilaporkan meninggal dunia.

Ni Nengah Rijek meninggal dunia saat dievakuasi dalam perjalanan menuju IGD Sanglah, Rabu, (27/9) sore kemarin.

Nenek berusia 69 tahun saat diturunkan dari mobil carry angkutan kota dalam kondisi tubuhnya kaku dan seluruh kulitnya berwarna kuning.

Menurut cucu kandungnya Made Sudiarsa, 25, dirinya tak percaya jika dadong meninggal dunia. Karena tak ada riwayat penyakit apapun yang dialami oleh dadongnya.

Sebelum diungsikan ke Banjar Kancil, Kerobokan, Denpasar Barat, awalnya dadong dalam kondisi sehat bugar. Saat itu sedang berada di rumah.

Pekerjaannya menjarit dan membuat banten. Namun, sejak Gunung Agung ditetapkan menjadi level awas dan informasinya akan meletus, Nengah Rijek langsung ngedrop dan lemah.

Baca Juga:  UPDATE! Gunung Agung Karangasem Bali Meletus Dua Kali

“Dadong shock dan panik ketika mendengar berita itu,” ucap pria yang mengenakan baju merah di ruangan IGD RS Sanglah.

Menurut Sudiarsa, ketika diajak untuk mengungsi ke Denpasar, dadong tak mau untuk ikut. Dia hanya ingin berdiam dan menetap di rumah.

Namun karena kondisi yang sudah tua keluarga pun memaksa dan membawanya ke lokasi pengungsian.

“Memang dadong saya sempat cerita keadaan Gunung Agung yang meletus di tahun 1963. Karena dadong lahir tahun 1948. Saat itu dia berlari mengungsi ke gunung bersama warga lainnya. Kemudian trauma dengan letusan Gunung Agung di tahun 1963 dan dia ingat betul hal tersebut,” ungkapnya.

Menurut Sudiarsa, neneknya sudah tiga hari berada di lokasi pengungsian. Selama di pengungsian, nafsu makan berkurang, jarang makan, selalu terbayang dengan kondisi rumah dan ingin saja pulang ke kampung.

Baca Juga:  Krama Desa Adat Intaran Kompak Tolak Terminal LNG, Geruduk Kantor Gubernur

Karena kondiisnya lemah, neneknya kemudian dibawa ke rumah sakit. “Akhirnya saya dan keluarga membawa ke rumah sakit. Sayangnya nyawa dadong saya tidak tertolong ketika dalam perjalanan menuju IGD RS Sanglah. Sudah dilakukan di cek denyut nadi dan nafas di ruangan tindakan oleh petugas IGD. Namun dinyatakan sudah meninggal,” ujarnya.

Untuk jenazah sementara dititip di kamar jenazah RS Sanglah. Belum tahu kapan akan disemayamkan menunggu keputusan dari keluarga.

Apalagi saat ini krama dari Desa Temega, Abang menyebar di sejumlah posko pengungsian di Denpasar dan di Klungkung.

“Untuk keluarga sendiri kami sendiri masih ada mengungsi di Kelurahan Semarapura Klod, Klungkung dan belum dikabarkan dengan musibah ini,” tuturnya.



RadarBali.com  – Bertambah lagi jumlah pengungsi yang meninggal di kamp pengungsian. Seorang dadong asal Desa Temega, Abang, Karangasem, dilaporkan meninggal dunia.

Ni Nengah Rijek meninggal dunia saat dievakuasi dalam perjalanan menuju IGD Sanglah, Rabu, (27/9) sore kemarin.

Nenek berusia 69 tahun saat diturunkan dari mobil carry angkutan kota dalam kondisi tubuhnya kaku dan seluruh kulitnya berwarna kuning.

Menurut cucu kandungnya Made Sudiarsa, 25, dirinya tak percaya jika dadong meninggal dunia. Karena tak ada riwayat penyakit apapun yang dialami oleh dadongnya.

Sebelum diungsikan ke Banjar Kancil, Kerobokan, Denpasar Barat, awalnya dadong dalam kondisi sehat bugar. Saat itu sedang berada di rumah.

Pekerjaannya menjarit dan membuat banten. Namun, sejak Gunung Agung ditetapkan menjadi level awas dan informasinya akan meletus, Nengah Rijek langsung ngedrop dan lemah.

Baca Juga:  Sosiolog: Jangan Hanya Bikin Larangan, Itu Lebih Bahaya dari Covid-19

“Dadong shock dan panik ketika mendengar berita itu,” ucap pria yang mengenakan baju merah di ruangan IGD RS Sanglah.

Menurut Sudiarsa, ketika diajak untuk mengungsi ke Denpasar, dadong tak mau untuk ikut. Dia hanya ingin berdiam dan menetap di rumah.

Namun karena kondisi yang sudah tua keluarga pun memaksa dan membawanya ke lokasi pengungsian.

“Memang dadong saya sempat cerita keadaan Gunung Agung yang meletus di tahun 1963. Karena dadong lahir tahun 1948. Saat itu dia berlari mengungsi ke gunung bersama warga lainnya. Kemudian trauma dengan letusan Gunung Agung di tahun 1963 dan dia ingat betul hal tersebut,” ungkapnya.

Menurut Sudiarsa, neneknya sudah tiga hari berada di lokasi pengungsian. Selama di pengungsian, nafsu makan berkurang, jarang makan, selalu terbayang dengan kondisi rumah dan ingin saja pulang ke kampung.

Baca Juga:  Wooow…Penunggu Pasien RS Mangusada Bakal Terima Santunan

Karena kondiisnya lemah, neneknya kemudian dibawa ke rumah sakit. “Akhirnya saya dan keluarga membawa ke rumah sakit. Sayangnya nyawa dadong saya tidak tertolong ketika dalam perjalanan menuju IGD RS Sanglah. Sudah dilakukan di cek denyut nadi dan nafas di ruangan tindakan oleh petugas IGD. Namun dinyatakan sudah meninggal,” ujarnya.

Untuk jenazah sementara dititip di kamar jenazah RS Sanglah. Belum tahu kapan akan disemayamkan menunggu keputusan dari keluarga.

Apalagi saat ini krama dari Desa Temega, Abang menyebar di sejumlah posko pengungsian di Denpasar dan di Klungkung.

“Untuk keluarga sendiri kami sendiri masih ada mengungsi di Kelurahan Semarapura Klod, Klungkung dan belum dikabarkan dengan musibah ini,” tuturnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/