alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Kusir Dokar pun Meraup Rezeki dari Jasa Naik Kuda, Tapi Melelahkan

Jasa naik kuda yang dijalani Muhammad Hanafi dan kawan-kawan di Taman Pancing ternyata menghasilkan pendapatan yang lumayan. Daripada tidak ada pemasukan sama sekali dari dokar di tengan pandemi Covid-19.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

MEMBUKA jasa naik kuda bukan pekerjaan enteng. Bagi Hanafi, ini betul-betul melelahkan. Maklum saja, dia harus ikut jalan kaki mendampingi kudanya ketika ada anak yang naik.

 

“Lumayan capek,” kata Hanafi.

 

Agar tak sampai kelelahan, Hanafi membatasi hanya dua jam saja. Dan memang, jam operasionalnya pada sore hari dari Pukul 16.00 hingga 18.00.

 

Kadang kala saking lelahnya Hanafi menolak rezeki karena capai dia harus ikut mendampingi kudanya berjalan.

Baca Juga:  Diduga Serangan Jantung, Pria Banyuwangi Tewas saat Naik Motor

 

Hanafi menyebutkan, tarif sekali naik kuda untuk anak-anak Rp 10 ribu dan dewasa Rp 20 ribu sekali jalan. “Bolak-balik lah segitu tarifnya,” ujarnya.

 

Rata-rata, penghasilan yang dikantongi Hanafi dari Rp 50 ribu sampai 150 ribu per hari. Kata dia, ari Minggu yang paling ramai, yakni bisa dapat Rp150 ribu.

 

“Lumayan digunakan membeli rumput  untuk kuda,” jelasnya.

 

Meski dapat rezeki nomplok di tengah susahnya mencari rezeki di tengah pandemi Covid-19, Hanafi menyebut hasil yang didapat ini jauh di bawah dibandingkan menjadi kusir dokar pariwisata di seputaran Kuta.  

“Jauh penghasilan dokar pariwisata. Kalau masih normal, dokar pariwisata Rp 300 ribu, kadang lebih,” ucapnya.

Baca Juga:  Percepat Proyek Strategis Nasional, PLN Audiensi ke Gubernur Bali

 

Dan tentu saja, menjadi kusir dokar bagi Hanafi tak selelah membuka usaha jasa naik kuda. Dengan dokar, dia tak perlu ikut berjalan Bersama kudanya. Tinggal naik dan mengendalikan tali kuda.

 

Beruntungnya, penghasilan mereka ini bersih masih kantong. Sebab, untuk pemakaian lahan masih gratis. Namun, dia menyebut ada rencana pemungutan. Sebab, saat ini masih melihat kondisi. 

 

Kendati demikian, Hanafi tidak berharap terus menjalani jasa naik kuda. Ia lebih berharap pariwisata segera pulih sehingga dia bisa bekerja seperti dulu menarik dokar di Kuta. Yang lebih besar penghasilan dan tak melelahkan. (habis)

- Advertisement -

- Advertisement -

Jasa naik kuda yang dijalani Muhammad Hanafi dan kawan-kawan di Taman Pancing ternyata menghasilkan pendapatan yang lumayan. Daripada tidak ada pemasukan sama sekali dari dokar di tengan pandemi Covid-19.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar


 

MEMBUKA jasa naik kuda bukan pekerjaan enteng. Bagi Hanafi, ini betul-betul melelahkan. Maklum saja, dia harus ikut jalan kaki mendampingi kudanya ketika ada anak yang naik.

 

“Lumayan capek,” kata Hanafi.

 

Agar tak sampai kelelahan, Hanafi membatasi hanya dua jam saja. Dan memang, jam operasionalnya pada sore hari dari Pukul 16.00 hingga 18.00.

 

Kadang kala saking lelahnya Hanafi menolak rezeki karena capai dia harus ikut mendampingi kudanya berjalan.

Baca Juga:  Dua Bulan Target Vaksin JE 95 Persen, Sekarang Baru 39,61 Persen

 

Hanafi menyebutkan, tarif sekali naik kuda untuk anak-anak Rp 10 ribu dan dewasa Rp 20 ribu sekali jalan. “Bolak-balik lah segitu tarifnya,” ujarnya.

 

Rata-rata, penghasilan yang dikantongi Hanafi dari Rp 50 ribu sampai 150 ribu per hari. Kata dia, ari Minggu yang paling ramai, yakni bisa dapat Rp150 ribu.

 

“Lumayan digunakan membeli rumput  untuk kuda,” jelasnya.

 

Meski dapat rezeki nomplok di tengah susahnya mencari rezeki di tengah pandemi Covid-19, Hanafi menyebut hasil yang didapat ini jauh di bawah dibandingkan menjadi kusir dokar pariwisata di seputaran Kuta.  

“Jauh penghasilan dokar pariwisata. Kalau masih normal, dokar pariwisata Rp 300 ribu, kadang lebih,” ucapnya.

Baca Juga:  Percepat Proyek Strategis Nasional, PLN Audiensi ke Gubernur Bali

 

Dan tentu saja, menjadi kusir dokar bagi Hanafi tak selelah membuka usaha jasa naik kuda. Dengan dokar, dia tak perlu ikut berjalan Bersama kudanya. Tinggal naik dan mengendalikan tali kuda.

 

Beruntungnya, penghasilan mereka ini bersih masih kantong. Sebab, untuk pemakaian lahan masih gratis. Namun, dia menyebut ada rencana pemungutan. Sebab, saat ini masih melihat kondisi. 

 

Kendati demikian, Hanafi tidak berharap terus menjalani jasa naik kuda. Ia lebih berharap pariwisata segera pulih sehingga dia bisa bekerja seperti dulu menarik dokar di Kuta. Yang lebih besar penghasilan dan tak melelahkan. (habis)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/