alexametrics
26.7 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Heboh Jaspel Dokter Disunat, Manajemen RSD Mangusada Buka Fakta Baru

DENPASAR – RSD Mangusada di Kapal, Mengwi, Badung yang terlihat megah dari luar ternyata menyimpan gejolak di dalamnya.

Para dokter di rumah sakit pelat merah itu gaduh lantaran uang tunjangan jasa pelayanan (jaspel) diduga disunat manajemen.

“Ada 106 dokter di RSD Mangusada. Hampir separonya dokter spesialis. Hampir semuanya mengalami pemotongan jaspel,” ujar sumber Jawa Pos Radar Bali kemarin.

Ada tiga jaspel yang diduga dipotong manajemen. Yakni jaspel yang bersumber dari pasien BPJS, pasien umum, dan pengguna Kartu Badung Sehat (KBS).

Yang menarik, sumber Jawa Pos Radar Bali ini menyebut para dokter tersebut baru mengetahui jaspelnya dipotong setelah dipanggil penyidik Polda Bali.

Kabid pengendalian dan operasional RSD Mangusada dr. Arya Widiana Pasek yang dikonfirmasi tak menampik jika ada laporan dari masyarakat tentang pemotongan jaspel.

Baca Juga:  Kanker Serviks Jadi Penyakit Paling Mematikan di Bali, Setelah Itu...

Namun, pihaknya tidak bisa mengomentari materi laporan karena hal itu menjadi ranah polisi. Penyidik Polda Bali sudah meminta dokumen terkait dugaan jaspel ini pada September 2019 lalu.

“Intinya, kami dari manajemen sangat terbuka memfasilitasi semua proses di kepolisian. Polisi meminta data kami berikan. Sekitar lima dus dokumen hard copy dan soft copy kami serahkan,” jelas Arya. 

Ditanya apakah benar kabar penyunatan jaspel, Arya mengatakan tidak bisa mengomentari benar atau salah.

Dia menyebut benar dan salah sudah menjadi kewenangan melakukan proses penyelidikan. 

Menurut Arya, ada pemotongan jaspel tapi pemotongan yang dilakukan manajemen berdasar kesepakatan dengan pegawai dan manajemen.

“Memang ada pemotongan jaspel, tapi itu digunakan untuk suka dan duka. Dan, itu berdasar kesepakatan pegawai tertanggal 23 Desember 2014,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk kegiatan suka duka misalnya memberikan santunan menikah dan kematian pada pegawai dan keluarganya.  Setiap mendapat jaspel dipotong Rp 1.500. 

Baca Juga:  Jual Anak Di Bawah Umur Ke Pria Hidung Belang, Dua Mucikari Ditangkap

Kembali ditanya pemotongan yang terjadi di luar kesepakatan, Arya kembali mengaku tidak bisa mengomentari hal itu, karena semua sudah diserahkan ke Polda Bali.

“Pemotongan (jaspel) selain yang berdasar kesepakatan kami tidak bisa mengklarifikasi. Saya tidak tahu ada atau tidak

pemotongan di luar kesepakatan pegawai. Kami tidak ada memotong jaspel selain yang sudah disepakati,” tuturnya. 

Ia kembali menyerahkan proses hukuma pada polisi. Dari awal proses direktur utama rumah sakit sudah menginstruksikan membantu proses hukuman. 

Ditanya apakah ada protes langsung dari para dokter, Arya mengatakan belum ada. “Besok (hari ini) ada pertemuan membahas

sistem remunerasi. Saya juga ingin tahu apa yang diinginkan, sehingga bisa dicarikan titik temu,” pungkasnya.



DENPASAR – RSD Mangusada di Kapal, Mengwi, Badung yang terlihat megah dari luar ternyata menyimpan gejolak di dalamnya.

Para dokter di rumah sakit pelat merah itu gaduh lantaran uang tunjangan jasa pelayanan (jaspel) diduga disunat manajemen.

“Ada 106 dokter di RSD Mangusada. Hampir separonya dokter spesialis. Hampir semuanya mengalami pemotongan jaspel,” ujar sumber Jawa Pos Radar Bali kemarin.

Ada tiga jaspel yang diduga dipotong manajemen. Yakni jaspel yang bersumber dari pasien BPJS, pasien umum, dan pengguna Kartu Badung Sehat (KBS).

Yang menarik, sumber Jawa Pos Radar Bali ini menyebut para dokter tersebut baru mengetahui jaspelnya dipotong setelah dipanggil penyidik Polda Bali.

Kabid pengendalian dan operasional RSD Mangusada dr. Arya Widiana Pasek yang dikonfirmasi tak menampik jika ada laporan dari masyarakat tentang pemotongan jaspel.

Baca Juga:  Alamak, Gantung Diri Lantaran Cinta, Pria Sumba Malah Jatuh dari Pohon

Namun, pihaknya tidak bisa mengomentari materi laporan karena hal itu menjadi ranah polisi. Penyidik Polda Bali sudah meminta dokumen terkait dugaan jaspel ini pada September 2019 lalu.

“Intinya, kami dari manajemen sangat terbuka memfasilitasi semua proses di kepolisian. Polisi meminta data kami berikan. Sekitar lima dus dokumen hard copy dan soft copy kami serahkan,” jelas Arya. 

Ditanya apakah benar kabar penyunatan jaspel, Arya mengatakan tidak bisa mengomentari benar atau salah.

Dia menyebut benar dan salah sudah menjadi kewenangan melakukan proses penyelidikan. 

Menurut Arya, ada pemotongan jaspel tapi pemotongan yang dilakukan manajemen berdasar kesepakatan dengan pegawai dan manajemen.

“Memang ada pemotongan jaspel, tapi itu digunakan untuk suka dan duka. Dan, itu berdasar kesepakatan pegawai tertanggal 23 Desember 2014,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk kegiatan suka duka misalnya memberikan santunan menikah dan kematian pada pegawai dan keluarganya.  Setiap mendapat jaspel dipotong Rp 1.500. 

Baca Juga:  Duh… Sungai Denpasar Kotor dan Tercemar Limbah

Kembali ditanya pemotongan yang terjadi di luar kesepakatan, Arya kembali mengaku tidak bisa mengomentari hal itu, karena semua sudah diserahkan ke Polda Bali.

“Pemotongan (jaspel) selain yang berdasar kesepakatan kami tidak bisa mengklarifikasi. Saya tidak tahu ada atau tidak

pemotongan di luar kesepakatan pegawai. Kami tidak ada memotong jaspel selain yang sudah disepakati,” tuturnya. 

Ia kembali menyerahkan proses hukuma pada polisi. Dari awal proses direktur utama rumah sakit sudah menginstruksikan membantu proses hukuman. 

Ditanya apakah ada protes langsung dari para dokter, Arya mengatakan belum ada. “Besok (hari ini) ada pertemuan membahas

sistem remunerasi. Saya juga ingin tahu apa yang diinginkan, sehingga bisa dicarikan titik temu,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/