alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Dari Tanam Gonda, Meraup Cuan Jutaan Rupiah Per Bulan

Pulang kampung dari kapal pesiar karena pandemi Covid-19 membuat I Nyoman Lolik kaget. Namun, kebutuhan hidup tak bisa ditunda lagi. Ia terjun Bertani gonad hingga kini membuahkan hasilnya.

 

JULIADI, Tabanan

 

SAMA seperti pekerja kapal pesiar lainnya, ketika tiba di rumah, I Nyoman Lolik bingung. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak.

 

Memang, sempat ada tawaran dari rekannya kerja di hotel atau vila. Namun penghasilannya sangat terbatas karena tamu sepi.

 

“Tawaran tersebut saya tolak. Ketika itu saya tidak tahu berbuat apa, sempat ada tawaran kerja di tempat lainnya tapi saya tolak,” akunya.

 

Seiring kehidupan terus berjalan. Kebutuhan hidup untuk keluarga maupun sebagai warga masyarakat di banjar terus ada dan tak bisa ditunda.

 

Mau tidak mau membuat dirinya tergerak dan harus melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya dia memilih terjun ke sektor pertanian.

 

Warisan tanah sawah seluas 15 are kemudian digarapnya. Awalnya dia seperti warga lainnya menanam padi. Namun setelah dijalani, ternyata hasilnya tidak sebanding dengan kerja yang harus dijalani.

Baca Juga:  Ribuan Krama Jalan Kaki Sejauh 7,5 Kilometer tanpa Baju

 

“Saya melihat potensi sayur justru lebih menjanjikan, sehingga saya mencoba beralih menanam sayur gonda,” katanya.

 

Memulai menanam sayur gonda awalnya memang tidak semua lahan sawah ditanami sayuran. Masih dikombinasikan dengan tanaman padi termasuk sayur kangkung yang diusahakan ibu dan istrinya.

 

Meski awalnya sulit, karena dia tidak punya pengalaman cara menanam sayur gonda yang merupakan khas Tabanan. Sehingga Lolik belajar secara otodidak dan tak malu bertanya pada sesama petani sayu gonda lainnya.

 

“Ternyata memang sulit membudidayakan gonda, karena sangat rentan penyakit dan cuaca serta ketersedian air,” sebutnya. 

 

Hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Lolik terus membudidayakan sayur gonda. Bukan tanpa sebab dia memilih sayur gonda karena pesaingnya tidak terlalu banyak dan potensi pasar cukup besar.

 

Usaha kerasnya pun membuahkan hasil. Tanaman sayur gonda mulia membaik. Bahkan dia melakukan inovasi beralih ke organik meski tidak sepenuhnya. Diawali dengan penggunaan pupuk organik cair (POC) yang dibuat sendiri dari bahan kotoran ayam yang menjadi usahanya sampingan memelihara ayam buras dan ayam petelur.

Baca Juga:  Dua Jam Sebelum Toko Ludes Dilalap Api, Pemilik Sempat Mengecek

Kini usahanya membuahkan hasil yang menguntungkan. Paling tidak setiap hari, dia mampu mengantongi pendapatan Rp 70-100 ribu.

 

“Saya jual dan pasarkan bersama istri secara langsung sayuran gonda di Pasar Mengwi setiap hari. Tiga belas ikat sayur gonda saya jual Rp 10 ribu. Ternyata begitu tiba di pasar sudah ada pembeli dan langsung diborong,” ungkapnya.

 

Menjual sendiri sayur gonda di pasar dilakoni cukup lama. Namun kini tidak lagi membawa langsung ke pasar, tetapi menyerahkan ke pengepul dengan harga yang sama.

 

Kini dia bisa memanen sayur gonda setiap tiga harinya dengan penghasilan sekitar Rp 200 ribu setiap menjual sayur gonda ke pengepul dengan pendapatan perbulan Rp 2,1 juta.

 

“Kini saya masih berupaya melakukan inovasi, biar bisa panen setiap hari,” pungkasnya. (habis)

Pulang kampung dari kapal pesiar karena pandemi Covid-19 membuat I Nyoman Lolik kaget. Namun, kebutuhan hidup tak bisa ditunda lagi. Ia terjun Bertani gonad hingga kini membuahkan hasilnya.

 

JULIADI, Tabanan

 

SAMA seperti pekerja kapal pesiar lainnya, ketika tiba di rumah, I Nyoman Lolik bingung. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak.

 

Memang, sempat ada tawaran dari rekannya kerja di hotel atau vila. Namun penghasilannya sangat terbatas karena tamu sepi.

 

“Tawaran tersebut saya tolak. Ketika itu saya tidak tahu berbuat apa, sempat ada tawaran kerja di tempat lainnya tapi saya tolak,” akunya.

 

Seiring kehidupan terus berjalan. Kebutuhan hidup untuk keluarga maupun sebagai warga masyarakat di banjar terus ada dan tak bisa ditunda.

 

Mau tidak mau membuat dirinya tergerak dan harus melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya dia memilih terjun ke sektor pertanian.

 

Warisan tanah sawah seluas 15 are kemudian digarapnya. Awalnya dia seperti warga lainnya menanam padi. Namun setelah dijalani, ternyata hasilnya tidak sebanding dengan kerja yang harus dijalani.

Baca Juga:  Airlangga Minta Pengusaha Bayar THR untuk Pekerja

 

“Saya melihat potensi sayur justru lebih menjanjikan, sehingga saya mencoba beralih menanam sayur gonda,” katanya.

 

Memulai menanam sayur gonda awalnya memang tidak semua lahan sawah ditanami sayuran. Masih dikombinasikan dengan tanaman padi termasuk sayur kangkung yang diusahakan ibu dan istrinya.

 

Meski awalnya sulit, karena dia tidak punya pengalaman cara menanam sayur gonda yang merupakan khas Tabanan. Sehingga Lolik belajar secara otodidak dan tak malu bertanya pada sesama petani sayu gonda lainnya.

 

“Ternyata memang sulit membudidayakan gonda, karena sangat rentan penyakit dan cuaca serta ketersedian air,” sebutnya. 

 

Hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Lolik terus membudidayakan sayur gonda. Bukan tanpa sebab dia memilih sayur gonda karena pesaingnya tidak terlalu banyak dan potensi pasar cukup besar.

 

Usaha kerasnya pun membuahkan hasil. Tanaman sayur gonda mulia membaik. Bahkan dia melakukan inovasi beralih ke organik meski tidak sepenuhnya. Diawali dengan penggunaan pupuk organik cair (POC) yang dibuat sendiri dari bahan kotoran ayam yang menjadi usahanya sampingan memelihara ayam buras dan ayam petelur.

Baca Juga:  Kakek dan Ayah Meninggal, Ibu Nikah Lagi, Masih Terbebani Urusan Adat

Kini usahanya membuahkan hasil yang menguntungkan. Paling tidak setiap hari, dia mampu mengantongi pendapatan Rp 70-100 ribu.

 

“Saya jual dan pasarkan bersama istri secara langsung sayuran gonda di Pasar Mengwi setiap hari. Tiga belas ikat sayur gonda saya jual Rp 10 ribu. Ternyata begitu tiba di pasar sudah ada pembeli dan langsung diborong,” ungkapnya.

 

Menjual sendiri sayur gonda di pasar dilakoni cukup lama. Namun kini tidak lagi membawa langsung ke pasar, tetapi menyerahkan ke pengepul dengan harga yang sama.

 

Kini dia bisa memanen sayur gonda setiap tiga harinya dengan penghasilan sekitar Rp 200 ribu setiap menjual sayur gonda ke pengepul dengan pendapatan perbulan Rp 2,1 juta.

 

“Kini saya masih berupaya melakukan inovasi, biar bisa panen setiap hari,” pungkasnya. (habis)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/