alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Para Penari pun Tak Merasakan Panas atau Terbakar saat Injak-Injak Api

Tari Sanghyang Jaran dipentaskan saat pujawali atau piodalan di Pura Puseh Sari, Desa Adat Banjarangkan, tepatnya pada Buda Umanis Medangsia atau Rabu (1/12) malam. Tarian sakral itu dipentaskan dengan tujuan untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan.

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

 

SEORANG pemangku pemucuk Pura Puseh Sari Desa Banjarangkan terlihat memimpin persembahyangan, Rabu (1/12) malam. Sejumlah orang mengikuti persembahyangan yang dilakukan sebagai awal sebelum pementasan Tari Sanghyang Jaran.

Tari Sanghyang Jaran merupakan warisan pengempon Puseh Sari Desa Adat Banjarangkang, Klungkung. Tari ini dilengkapi dengan perwujudan berupa kuda terbuat dari kayu, beserta atribut lainnya dengan tiga jenis warna yakni putih, kuning, dan hitam putih.

 

Karena merupakan tari sakral, pementasan Tari Sanghyang Jaran tak sembarang dipentaskan. Untuk melakukan pun harus dilakukan melalui serangkaian ritual.

 

Setelah persembahyangan berakhir, sekaa kidung sanghyang akan duduk bersila tepat di depan bangunan Pelinggih Pengaruman dan disiapkan pengasepan yakni kerajinan tanah liat yang diisi dengan bara api di atas sebuah dulang.

Baca Juga:  Seleksi ASN Klungkung, Perawat Paling Laku, Formasi Ini Sepi Peminat

 

Para tetua kemudian membuat simbol tapak dara pada tubuh penari. Ketika bara api sudah dirasa siap, maka sekaa gending yang terdiri dari para pemuda pura tersebut mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang.

 

Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu dimulai. Semakin lama tempo dan semakin kencang irama nyanyian, para penari mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakkan badannya layaknya seekor kuda. Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

 

Puncaknya, para penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan secara membabi buta. Meski begitu, tidak satupun dari para penari yang merasa panas bara api, terluka, apalagi terbakar. Padahal, mereka telanjang kaki.  

Baca Juga:  Gubernur Koster Ajak Masyarakat Memuliakan Tumbuh-Tumbuhan

 

Kidung yang mengiringi tarian itu merupakan kidung khas yang hanya ada di Pura Puseh Sari.

 

“Dari kidung atau nyanyian yang dilantunkan dapat ditafsirkan bahwa Sanghyang Jaran dibangunkan untuk diajak meliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia,” terang Bendesa Adat Banjarangkan, A.A. Gede Dharma Putra.

 

Lebih lanjut Putra mengatakan, Sanghyang Jaran seolah menjadi momentum dan harapan baru bagi masyarakat Banjarangkan di tengah pandemi saat ini. Kedua tradisi yang berlafaskan budaya agraris ini menjadi tonggak baru bagi kehidupan masyarakat di Desa Banjarangkan ke depan agar lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka.

 

“Perubahan musim yang ekstrem, sebagai sebuah ciri akan terjadinya wabah penyakit. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan ini,” tandasnya.


Tari Sanghyang Jaran dipentaskan saat pujawali atau piodalan di Pura Puseh Sari, Desa Adat Banjarangkan, tepatnya pada Buda Umanis Medangsia atau Rabu (1/12) malam. Tarian sakral itu dipentaskan dengan tujuan untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan.

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

 

SEORANG pemangku pemucuk Pura Puseh Sari Desa Banjarangkan terlihat memimpin persembahyangan, Rabu (1/12) malam. Sejumlah orang mengikuti persembahyangan yang dilakukan sebagai awal sebelum pementasan Tari Sanghyang Jaran.

Tari Sanghyang Jaran merupakan warisan pengempon Puseh Sari Desa Adat Banjarangkang, Klungkung. Tari ini dilengkapi dengan perwujudan berupa kuda terbuat dari kayu, beserta atribut lainnya dengan tiga jenis warna yakni putih, kuning, dan hitam putih.

 

Karena merupakan tari sakral, pementasan Tari Sanghyang Jaran tak sembarang dipentaskan. Untuk melakukan pun harus dilakukan melalui serangkaian ritual.

 

Setelah persembahyangan berakhir, sekaa kidung sanghyang akan duduk bersila tepat di depan bangunan Pelinggih Pengaruman dan disiapkan pengasepan yakni kerajinan tanah liat yang diisi dengan bara api di atas sebuah dulang.

Baca Juga:  Bentuk Syukur Bisa Merabas Hutan Angker, Warga Gelar Megibung

 

Para tetua kemudian membuat simbol tapak dara pada tubuh penari. Ketika bara api sudah dirasa siap, maka sekaa gending yang terdiri dari para pemuda pura tersebut mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang.

 

Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu dimulai. Semakin lama tempo dan semakin kencang irama nyanyian, para penari mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakkan badannya layaknya seekor kuda. Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

 

Puncaknya, para penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan secara membabi buta. Meski begitu, tidak satupun dari para penari yang merasa panas bara api, terluka, apalagi terbakar. Padahal, mereka telanjang kaki.  

Baca Juga:  Tak Kuat Beli Nutrisi, Penerima Bantuan Hidroponik Berniat Mundur

 

Kidung yang mengiringi tarian itu merupakan kidung khas yang hanya ada di Pura Puseh Sari.

 

“Dari kidung atau nyanyian yang dilantunkan dapat ditafsirkan bahwa Sanghyang Jaran dibangunkan untuk diajak meliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia,” terang Bendesa Adat Banjarangkan, A.A. Gede Dharma Putra.

 

Lebih lanjut Putra mengatakan, Sanghyang Jaran seolah menjadi momentum dan harapan baru bagi masyarakat Banjarangkan di tengah pandemi saat ini. Kedua tradisi yang berlafaskan budaya agraris ini menjadi tonggak baru bagi kehidupan masyarakat di Desa Banjarangkan ke depan agar lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka.

 

“Perubahan musim yang ekstrem, sebagai sebuah ciri akan terjadinya wabah penyakit. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan ini,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/