alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Ribuan Krama Jalan Kaki Sejauh 7,5 Kilometer tanpa Baju

AMLAPURA- Ribuan krama (warga) Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem melaksanakan prosesi melasti dalam rangkaian karya Ngenteg Linggih, Nubung Daging, Caru Balik Sumpah Agung Pura Puseh, Pura Pasuwikan, Sabtu (9/4).

 

Prosesi ini dilakukan dengan berjalan kaki menempuh jarak 7,5 kilometer menuju Segara Kidul, Desa Adat Bugbug. Saat itu, krama baik pria maupun wanita yang mengikuti prosesi melasti ini tanpa menggunakan busana baju.

 

Prajuru Desa Adat Bungaya, Wayan De Kebayan Narta mengungkapkan, prosesi melasti tanpa menggunakan busana baju baik laki-laki maupun perempuan ini sudah berlangsung sejak dulu. Para krama meyakini dalam ritual melasti tedun Ida Betara Bagus Selonding. Sehingga, krama pun dilarang menggunakan baju. “Kalau laki-laki tidak pakai baju dan meudeng. Hanya pakai kain yang tidak polos saja,” kata Wayan De Kebayan Narta.

 

Hal yang sama juga berlaku bagi krama perempuan. Mereka hanya memakai kain sebatas dada dan tidak berwarna polos. “Itu berlaku bagi seluruh krama yang ikut ngiring melasti,” sambungnya.

 

Prosesi melasti menuju ke Segara Kidul sekaligus melakukan prosesi Panca Tirta dan Mendak Agung. Tidak hanya dari desa adat Bungaya, melasti juga diikuti oleh krama luar desa adat seperti di Desa Adat Jungsri. “Jalan kaki sekitar 7,5 kilometer dari Bungaya sampai ke Segara Kidul Desa Bugbug,” ucapnya. 

 

Sementara itu, puncak karya Ngenteg Linggih, Nubung Daging, Caru Balik Sumpah Agung Pura Puseh, Pura Pasuwikan akan berlangsung pada Sabtu 16 April mendatang. De Kebayan Narta juga menambahkan, selama proses karya berlangsung, dilarang mendokomentasikan memakai drone. “Larangan berlaku selama berlangsungnya karya agung ini,” tandasnya.

 

 



AMLAPURA- Ribuan krama (warga) Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem melaksanakan prosesi melasti dalam rangkaian karya Ngenteg Linggih, Nubung Daging, Caru Balik Sumpah Agung Pura Puseh, Pura Pasuwikan, Sabtu (9/4).

 

Prosesi ini dilakukan dengan berjalan kaki menempuh jarak 7,5 kilometer menuju Segara Kidul, Desa Adat Bugbug. Saat itu, krama baik pria maupun wanita yang mengikuti prosesi melasti ini tanpa menggunakan busana baju.

 

Prajuru Desa Adat Bungaya, Wayan De Kebayan Narta mengungkapkan, prosesi melasti tanpa menggunakan busana baju baik laki-laki maupun perempuan ini sudah berlangsung sejak dulu. Para krama meyakini dalam ritual melasti tedun Ida Betara Bagus Selonding. Sehingga, krama pun dilarang menggunakan baju. “Kalau laki-laki tidak pakai baju dan meudeng. Hanya pakai kain yang tidak polos saja,” kata Wayan De Kebayan Narta.

 

Hal yang sama juga berlaku bagi krama perempuan. Mereka hanya memakai kain sebatas dada dan tidak berwarna polos. “Itu berlaku bagi seluruh krama yang ikut ngiring melasti,” sambungnya.

 

Prosesi melasti menuju ke Segara Kidul sekaligus melakukan prosesi Panca Tirta dan Mendak Agung. Tidak hanya dari desa adat Bungaya, melasti juga diikuti oleh krama luar desa adat seperti di Desa Adat Jungsri. “Jalan kaki sekitar 7,5 kilometer dari Bungaya sampai ke Segara Kidul Desa Bugbug,” ucapnya. 

 

Sementara itu, puncak karya Ngenteg Linggih, Nubung Daging, Caru Balik Sumpah Agung Pura Puseh, Pura Pasuwikan akan berlangsung pada Sabtu 16 April mendatang. De Kebayan Narta juga menambahkan, selama proses karya berlangsung, dilarang mendokomentasikan memakai drone. “Larangan berlaku selama berlangsungnya karya agung ini,” tandasnya.

 

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/