alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

DBD Renggut Nyawa Siswa SD di Karangasem

AMLAPURA-Nyawa bocah bernama Kadek Sudiastika, 11 tahun asal Banjar Timbul, Desa Bungaya Kecamatan Bebandem tak tertolong. Bocah ini meninggal setelah dua hari mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Bali Med Karangasem akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Bocah kelas V SDN 3 Bungaya itu meninggal pada Rabu (11/5) setelah sehari dirawat di ruang ICU.

 

Keluarga korban, Ni Nengah Sunarti mengatakan awalnya pihak keluarga awalnya tidak menyadari anak kedua dari I Wayan Juwena ini terjangkit DBD. Karena yang positif DBD terjadi pada kakak korban Ni Luh Nita Astiti Dewi yang berusia 12 tahun. Dan sempat menjalani perawatan di RS Balimed sejak tiga hari lalu. “Sebelumnya adiknya ini sempat demam, tapi diberikan paracetamol mau dia turun panasnya. Keluarga tidak sadar bahwa adiknya juga terjangkit DBD,” tuturnya ditemui di kediamannya.

 

Karena tidak menyadari bahwa sang anak terjangkit DBD, pihak keluarga pun mengajak Sudiastika menjenguk kakaknya yang tengah menjalani perawatan medis di RS Balimed. Setelah diajak ke RS Balimed, tim medis juga melakukan pengecekan terhadap adiknya yang ternyata didiagnosa DBD.

Baca Juga:  Golose Minta Semua Desa Ikut Perangi Narkoba

 

“Saat itu juga langsung dirawat. Dan Selasa (lalu) masuk ICU. Tadi pagi (Rabu) sekitar pukul 05.30 dinyatakan meninggal dunia,” kata Sunarti yang tinggal satu pekarangan dengan rumah korban.

- Advertisement -

 

Tokoh Desa Bungaya, I Made Wirta yang juga berada di rumah duka mengatakan penyebaran DBD di Desa Bungaya diakuinya cukup masif sejak beberapa hari terakhir. Sebelumnya kata dia, Dinas Kesehatan telah melakukan upaya fogging. “Tadi pagi (kemarin) juga sudah dilakukan fogging di semua banjar,” sebutnya.

 

Hingga saat ini, ada 15 orang yang terjangkit DBD di Desa Bungaya. Mereka yang terjangkit DBD terdiri berasal dari empat banjar berbeda. Mulai dari Banjar Beji, Desa, Darmakarya, dan Timbul. “Semoga segera menurun dan tidak berdampak pada korban jiwa. Kami juga sudah menginformasikan kepada warga ketika ada gejala demam agar langsung dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit. Sehingga bisa dideteksi secara cepat,” tandasnya.

 

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karangasem, Wayan Gede Sweca seizin Kepala Dinas Kesehatan dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan resmi terkait pasien meninggal akibat DBD. Namun, dia membenarkan bahwa pasien Sudiastika meninggal akibat terjangkit DBD.

Baca Juga:  Gubernur Koster Buka Bali Digital Festival 2022

 

“Kami sudah melakukan pengecekan di RS Balimed. Dan memang benar ada diagnosa meninggal karena DBD. Jadi ini yang pertama. Dan semoga tidak ada lagi yang meninggal karena DBD,” ujar Sweca.

 

Dia menambahkan, setelah dilakukan penelitian epidimologi di wilayah terjangkit oleh tim surveilan, selanjutnya dilakukan fogging. “Sudah dibuatkan imbauan oleh bupati. Tapi imbauan tidak resmi kami sudah lakukan melalui tenaga Promkes di setiap puskesmas. Edukasi dan sosialisasi dengan melakukan 3M plus, dan menerapkan pola hidup sehat,” tandasnya.

 

Kasus DBD di Karangasem tahun ini mengalami lonjakan yang sangat tajam. Sejak memasuki tahun 2022 hingga 11 Mei kemarin, kasus DBD mencapai 314 kasus. Rinciannya, bulan Januari 81 kasus, Februari 62 kasus, Maret 52 kasus, April 100 kasus dan Mei hingga saat ini mencapai 19 kasus. Jumlah ini sendiri telah melampaui kasus DBD di tahun 2021 lalu dengan angka 185 kasus. (zul)

- Advertisement -

AMLAPURA-Nyawa bocah bernama Kadek Sudiastika, 11 tahun asal Banjar Timbul, Desa Bungaya Kecamatan Bebandem tak tertolong. Bocah ini meninggal setelah dua hari mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Bali Med Karangasem akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Bocah kelas V SDN 3 Bungaya itu meninggal pada Rabu (11/5) setelah sehari dirawat di ruang ICU.

 

Keluarga korban, Ni Nengah Sunarti mengatakan awalnya pihak keluarga awalnya tidak menyadari anak kedua dari I Wayan Juwena ini terjangkit DBD. Karena yang positif DBD terjadi pada kakak korban Ni Luh Nita Astiti Dewi yang berusia 12 tahun. Dan sempat menjalani perawatan di RS Balimed sejak tiga hari lalu. “Sebelumnya adiknya ini sempat demam, tapi diberikan paracetamol mau dia turun panasnya. Keluarga tidak sadar bahwa adiknya juga terjangkit DBD,” tuturnya ditemui di kediamannya.

 

Karena tidak menyadari bahwa sang anak terjangkit DBD, pihak keluarga pun mengajak Sudiastika menjenguk kakaknya yang tengah menjalani perawatan medis di RS Balimed. Setelah diajak ke RS Balimed, tim medis juga melakukan pengecekan terhadap adiknya yang ternyata didiagnosa DBD.

Baca Juga:  Akses Jalan Perumahan Dikuasai Perorangan, Warga Umeanyar Datangi DPRD

 

“Saat itu juga langsung dirawat. Dan Selasa (lalu) masuk ICU. Tadi pagi (Rabu) sekitar pukul 05.30 dinyatakan meninggal dunia,” kata Sunarti yang tinggal satu pekarangan dengan rumah korban.

 

Tokoh Desa Bungaya, I Made Wirta yang juga berada di rumah duka mengatakan penyebaran DBD di Desa Bungaya diakuinya cukup masif sejak beberapa hari terakhir. Sebelumnya kata dia, Dinas Kesehatan telah melakukan upaya fogging. “Tadi pagi (kemarin) juga sudah dilakukan fogging di semua banjar,” sebutnya.

 

Hingga saat ini, ada 15 orang yang terjangkit DBD di Desa Bungaya. Mereka yang terjangkit DBD terdiri berasal dari empat banjar berbeda. Mulai dari Banjar Beji, Desa, Darmakarya, dan Timbul. “Semoga segera menurun dan tidak berdampak pada korban jiwa. Kami juga sudah menginformasikan kepada warga ketika ada gejala demam agar langsung dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit. Sehingga bisa dideteksi secara cepat,” tandasnya.

 

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karangasem, Wayan Gede Sweca seizin Kepala Dinas Kesehatan dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan resmi terkait pasien meninggal akibat DBD. Namun, dia membenarkan bahwa pasien Sudiastika meninggal akibat terjangkit DBD.

Baca Juga:  Wabah Demam Berdarah Mulai Mengancam Buleleng, Tertinggi di Desa Panji

 

“Kami sudah melakukan pengecekan di RS Balimed. Dan memang benar ada diagnosa meninggal karena DBD. Jadi ini yang pertama. Dan semoga tidak ada lagi yang meninggal karena DBD,” ujar Sweca.

 

Dia menambahkan, setelah dilakukan penelitian epidimologi di wilayah terjangkit oleh tim surveilan, selanjutnya dilakukan fogging. “Sudah dibuatkan imbauan oleh bupati. Tapi imbauan tidak resmi kami sudah lakukan melalui tenaga Promkes di setiap puskesmas. Edukasi dan sosialisasi dengan melakukan 3M plus, dan menerapkan pola hidup sehat,” tandasnya.

 

Kasus DBD di Karangasem tahun ini mengalami lonjakan yang sangat tajam. Sejak memasuki tahun 2022 hingga 11 Mei kemarin, kasus DBD mencapai 314 kasus. Rinciannya, bulan Januari 81 kasus, Februari 62 kasus, Maret 52 kasus, April 100 kasus dan Mei hingga saat ini mencapai 19 kasus. Jumlah ini sendiri telah melampaui kasus DBD di tahun 2021 lalu dengan angka 185 kasus. (zul)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/