alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Ini yang Menyebabkan Kasus DBD Meningkat di Tabanan

TABANAN- Kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat di Tabanan. “Kasus DBD di Tabanan sudah meningkat lagi. Dari Mei hingga Juni ini tercatat ada 129 kasus,” ujar Kepala Diskes Tabanan, dr. I Nyoman Susila, Minggu (12/6).

 

Kasus DBD sempat nihil pada Februari dan Maret 2022. Baru pada April 2022 ditemukan satu kasus di Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri.

 

Sedangkan pada Januari 2022, jumlah yang tercatat sebanyak 53 kasus dan tersebar di Kecamatan Kerambitan dan Kediri. Kasus DBD di dua kecamatan ini juga muncul pada data yang terkumpul hingga akhir Mei 2022.

 

Data awal pada Mei 2022 hanya tercatat 40 orang. Namun setelah dilakukan penelusuran totalnya menjadi 70 orang. “Ada tambahan lagi. Terutama yang belum disurvei,” imbuhnya.

 

Kasus DBD ini bersamaan dengan kasus penyakit Chikungunya. Kedua penyakit ini merupakan penyakit endemik atau yang berjangkit di satu wilayah pada waktu tertentu.

 

“Ada banyak faktor penyebabnya. Salah satunya peralihan musim atau cuaca yang tak menentu. Ada waktunya kasusnya naik. Ada waktunya turun,” jelas mantan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan ini.

 

Biasanya, sambung dr. Susila, bila di satu wilayah dilaporkan ada temuan kasus, pihaknya melalui Puskesmas terdekat akan melakukan penelusuran.

 

“Kemudian diputuskan apakah tindak lanjutnya melalui penanganan jentik atau fogging (pengasapan),” ujarnya.

 

Namun ia menegaskan, upaya yang terbaik untuk mengantisipasi penyebaran DBD adalah dengan memberantas sarang nyamuk. Begitu juga dengan Chikungunya karena sama-sama disebarkan oleh nyamuk.

 

“Jadi tidak menunggu kasus muncul. Yang baik itu melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Bukan fogging,” tegasnya.

 

Mengenai tingkat keparahan terkait data yang dihimpun pihaknya, sebagian besar bergejala ringan.

 

“Kebanyakan rawat jalan karena gejala yang dirasakan tidak berat. Selain itu, banyak juga yang cepat pergi ke Puskesmas begitu mengalami keluhan,” ungkapnya.

 

Perihal kesiapan fasilitas kesehatan di Tabanan. Dikatakan dr. Susila sejauh ini telah siap, seluruh rumah sakit dan Puskesmas siap melayani pasien demam berdarah dengue (DBD) yang trennya lagi meningkat. “Faskes kita masih mampu melayani. Tidak ada masalah,” tandasnya. (uli)

 



TABANAN- Kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat di Tabanan. “Kasus DBD di Tabanan sudah meningkat lagi. Dari Mei hingga Juni ini tercatat ada 129 kasus,” ujar Kepala Diskes Tabanan, dr. I Nyoman Susila, Minggu (12/6).

 

Kasus DBD sempat nihil pada Februari dan Maret 2022. Baru pada April 2022 ditemukan satu kasus di Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri.

 

Sedangkan pada Januari 2022, jumlah yang tercatat sebanyak 53 kasus dan tersebar di Kecamatan Kerambitan dan Kediri. Kasus DBD di dua kecamatan ini juga muncul pada data yang terkumpul hingga akhir Mei 2022.

 

Data awal pada Mei 2022 hanya tercatat 40 orang. Namun setelah dilakukan penelusuran totalnya menjadi 70 orang. “Ada tambahan lagi. Terutama yang belum disurvei,” imbuhnya.

 

Kasus DBD ini bersamaan dengan kasus penyakit Chikungunya. Kedua penyakit ini merupakan penyakit endemik atau yang berjangkit di satu wilayah pada waktu tertentu.

 

“Ada banyak faktor penyebabnya. Salah satunya peralihan musim atau cuaca yang tak menentu. Ada waktunya kasusnya naik. Ada waktunya turun,” jelas mantan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan ini.

 

Biasanya, sambung dr. Susila, bila di satu wilayah dilaporkan ada temuan kasus, pihaknya melalui Puskesmas terdekat akan melakukan penelusuran.

 

“Kemudian diputuskan apakah tindak lanjutnya melalui penanganan jentik atau fogging (pengasapan),” ujarnya.

 

Namun ia menegaskan, upaya yang terbaik untuk mengantisipasi penyebaran DBD adalah dengan memberantas sarang nyamuk. Begitu juga dengan Chikungunya karena sama-sama disebarkan oleh nyamuk.

 

“Jadi tidak menunggu kasus muncul. Yang baik itu melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Bukan fogging,” tegasnya.

 

Mengenai tingkat keparahan terkait data yang dihimpun pihaknya, sebagian besar bergejala ringan.

 

“Kebanyakan rawat jalan karena gejala yang dirasakan tidak berat. Selain itu, banyak juga yang cepat pergi ke Puskesmas begitu mengalami keluhan,” ungkapnya.

 

Perihal kesiapan fasilitas kesehatan di Tabanan. Dikatakan dr. Susila sejauh ini telah siap, seluruh rumah sakit dan Puskesmas siap melayani pasien demam berdarah dengue (DBD) yang trennya lagi meningkat. “Faskes kita masih mampu melayani. Tidak ada masalah,” tandasnya. (uli)

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/