alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Agar Tak Dimarahi Istri karena Gadaikan Motor, Kakek Curi Motor Orang

I Wayan Suarsa, seorang kakek asal Banjar Dinas Ambeng, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali bebas dari tuntutan hukum pidana. Ternyata ia mencuri sepeda motor karena takut dimarahi istri.

JULIADI, Tabanan

KAKEK I Wayan Suarsa sungguh beruntung. Ia hanya ditahan selama dua bulan di tahanan polisi. Tidak seperti para pencuri yang lain yang harus melewati proses hukum yang panjang dari kepolisian, kejaksaan, kemudian persidangan di pengadilan, serta menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan, Suarsa tak perlu melewati itu semua.

Pasalnya, kakek berusia 65 tahun yang melakukan pencurian kendaraan bermotor di Pupuan, Tabanan, ini tidak sampai dituntut di pengadilan. Itu setelah perkaranya diselesaikan melalui restorative justice alias keadilan restoratif.

Rabu (13/4) pagi sekitar pukul 10.00 Wita, Suarsa digiring ke aula kantor Kejari Tabanan. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tabanan, Ni Made Herawati didampingi oleh Kasi Pidum Tabanan I Dewa Gede Putra Awatara dan Kasi Intel Kejari Tabanan I Gusti Ngurah Anom Sukawinata membacakan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice atas namanya.

Ketetapan ini juga mengacu pada surat penghentian penuntutan RJ-13 Kajati Bali dan mengeluarkan tersangka I Wayan Suarsa dari sel tahanan Lapas Kelas IIB Tabanan. Juga untuk kembali memulihkan keadaaan semula berkumpul dengan keluarga serta masyarakat.

Sontak, ketetapan ini membuat suasana aula berubah haru biru. I Wayan Suarsa yang duduk di sebelah jaksa langsung menangis. Ia segera bersujud di hadapan hadirin dan berucap terbata-bata.

“Saya tidak akan mengulangi perbuatan lagi, Ibu. Saya kapok, saya berhenti mencuri, saya minta maaf, saya sangat bersyukur,” ucap Suarsa sambil menangis dan sujud syukur.

Kasus ini sendiri terjadi setelah I Wayan Nursada datang melapor ke Polsek Pupuan mengaku kehilangan sepeda motor yang terparkir di areal kebun kopi milik Sekehe 88 Subak Pangkung Waru, Banjar Dinas Mekarsari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan pada 30 Januari lalu.

Selang beberapa hari kemudian, sepeda motor itu terlihat terparkir di sebuah gudang kopi milik Gusti Ngurah Sudarta di Banjar Dinas Mekarsari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan. Ketika dilakukan pengintaian, ternyata I Wayan Suarsa datang mengambil sepeda tersebut. Ia pun ditangkap polisi.

Sementara itu Kepala Kejari Tabanan Ni Made Herawati mengatakan apa yang dilakukan I Wayan Suarsa, karena mengambil sepeda motor Supra milik orang lainnya tetap itu tidak dibenarkan dan itu masuk dalam tindak pidana umum. 

Meski demikian, perkara 362 KUHP yakni kasus pencurian ini diajukan dalam keadilan restorative justice karena beberapa syarat terpenuhi.

Mulai dari tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana. Kemudian tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancaman dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 tahun penjara.

Selain itu tindak pidana yang dilakukan dengan nilai barang bukti atau kerugian yang ditimbulkan kurang dari Rp 2,5 juta. Maklum, sepeda motor itu bekas.

“Yang menarik kami ajukan restorative justice dan sudah disetujui oleh Kejaksaan Agung pusat, karena kakek ini juga kondisi sakit mengingat beliau sakit diabetes,” jelasnya.

Restorative justice (RJ) dalam perkara kasus pencurian sepeda motor ini murni tanpa penekanan atau paksaan dari mana pun. RJ ini murni berjalan normal, dengan mempertemukan kedua belah pihak baik tersangka dan korban. Dan itu sudah dilakukan di Kantor Camat Pupuan.

“Kami di Kejari Tabanan hanya sebagai fasilitator, nah dari pertemuan tersebut terjadi kesepakatan damai kedua belah pihak dan meminta selesaikan secara kekeluargaan,” ucapnya.

Penyelenggaran RJ sendiri di Tabanan baru dua kasus, namun kasus pencurian ini yang sudah berhasil.

“Sementara tujuan utama dari RJ sendiri untuk mengurangi over kapasitas pada rumah tahanan juga mengurangi beban biaya makan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Kepada jaksa, Suarsa mengaku sejatinya tidak ada niat untuk melakukan aksi pencurian kendaraan bermotor milik I Wayan Nursada. Namun, hal itu dia lakukan terpaksa karena takut istri.

Ceritanya, dia menggadaikan sepeda motor tanpa memberitahukan istri. Sepeda motor Honda Supra miliknya digadaikan karena kehabisan uang. Agar tidak ketahuan istri menggadaikan sepeda motor, ia mengambil sepeda motor I Wayan Nursada yang kebetulan mirip sepeda motor miliknya.

“Nah agar tidak ketahuan istri menggadaikan motor, takut (istri) marah-marah, saya lihat motor Supra sama persis dengan milik saya yang digadaikan. Akhirnya membawa motor Supra DK 2243 GY milik I Wayan Nursada pulang ke rumah. Dengan tujuan agar istri percaya motor tersebut masih ada,” tuturnya.

“Kalau niat mencuri saya tidak ada, apalagi usia tua harus saya habiskan di penjara. Saya gunakan sepeda motor untuk mengangkut kopi dan aktivitas sehari-hari,” ungkapnya. 



I Wayan Suarsa, seorang kakek asal Banjar Dinas Ambeng, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali bebas dari tuntutan hukum pidana. Ternyata ia mencuri sepeda motor karena takut dimarahi istri.

JULIADI, Tabanan

KAKEK I Wayan Suarsa sungguh beruntung. Ia hanya ditahan selama dua bulan di tahanan polisi. Tidak seperti para pencuri yang lain yang harus melewati proses hukum yang panjang dari kepolisian, kejaksaan, kemudian persidangan di pengadilan, serta menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan, Suarsa tak perlu melewati itu semua.

Pasalnya, kakek berusia 65 tahun yang melakukan pencurian kendaraan bermotor di Pupuan, Tabanan, ini tidak sampai dituntut di pengadilan. Itu setelah perkaranya diselesaikan melalui restorative justice alias keadilan restoratif.

Rabu (13/4) pagi sekitar pukul 10.00 Wita, Suarsa digiring ke aula kantor Kejari Tabanan. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tabanan, Ni Made Herawati didampingi oleh Kasi Pidum Tabanan I Dewa Gede Putra Awatara dan Kasi Intel Kejari Tabanan I Gusti Ngurah Anom Sukawinata membacakan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice atas namanya.

Ketetapan ini juga mengacu pada surat penghentian penuntutan RJ-13 Kajati Bali dan mengeluarkan tersangka I Wayan Suarsa dari sel tahanan Lapas Kelas IIB Tabanan. Juga untuk kembali memulihkan keadaaan semula berkumpul dengan keluarga serta masyarakat.

Sontak, ketetapan ini membuat suasana aula berubah haru biru. I Wayan Suarsa yang duduk di sebelah jaksa langsung menangis. Ia segera bersujud di hadapan hadirin dan berucap terbata-bata.

“Saya tidak akan mengulangi perbuatan lagi, Ibu. Saya kapok, saya berhenti mencuri, saya minta maaf, saya sangat bersyukur,” ucap Suarsa sambil menangis dan sujud syukur.

Kasus ini sendiri terjadi setelah I Wayan Nursada datang melapor ke Polsek Pupuan mengaku kehilangan sepeda motor yang terparkir di areal kebun kopi milik Sekehe 88 Subak Pangkung Waru, Banjar Dinas Mekarsari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan pada 30 Januari lalu.

Selang beberapa hari kemudian, sepeda motor itu terlihat terparkir di sebuah gudang kopi milik Gusti Ngurah Sudarta di Banjar Dinas Mekarsari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan. Ketika dilakukan pengintaian, ternyata I Wayan Suarsa datang mengambil sepeda tersebut. Ia pun ditangkap polisi.

Sementara itu Kepala Kejari Tabanan Ni Made Herawati mengatakan apa yang dilakukan I Wayan Suarsa, karena mengambil sepeda motor Supra milik orang lainnya tetap itu tidak dibenarkan dan itu masuk dalam tindak pidana umum. 

Meski demikian, perkara 362 KUHP yakni kasus pencurian ini diajukan dalam keadilan restorative justice karena beberapa syarat terpenuhi.

Mulai dari tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana. Kemudian tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancaman dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 tahun penjara.

Selain itu tindak pidana yang dilakukan dengan nilai barang bukti atau kerugian yang ditimbulkan kurang dari Rp 2,5 juta. Maklum, sepeda motor itu bekas.

“Yang menarik kami ajukan restorative justice dan sudah disetujui oleh Kejaksaan Agung pusat, karena kakek ini juga kondisi sakit mengingat beliau sakit diabetes,” jelasnya.

Restorative justice (RJ) dalam perkara kasus pencurian sepeda motor ini murni tanpa penekanan atau paksaan dari mana pun. RJ ini murni berjalan normal, dengan mempertemukan kedua belah pihak baik tersangka dan korban. Dan itu sudah dilakukan di Kantor Camat Pupuan.

“Kami di Kejari Tabanan hanya sebagai fasilitator, nah dari pertemuan tersebut terjadi kesepakatan damai kedua belah pihak dan meminta selesaikan secara kekeluargaan,” ucapnya.

Penyelenggaran RJ sendiri di Tabanan baru dua kasus, namun kasus pencurian ini yang sudah berhasil.

“Sementara tujuan utama dari RJ sendiri untuk mengurangi over kapasitas pada rumah tahanan juga mengurangi beban biaya makan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Kepada jaksa, Suarsa mengaku sejatinya tidak ada niat untuk melakukan aksi pencurian kendaraan bermotor milik I Wayan Nursada. Namun, hal itu dia lakukan terpaksa karena takut istri.

Ceritanya, dia menggadaikan sepeda motor tanpa memberitahukan istri. Sepeda motor Honda Supra miliknya digadaikan karena kehabisan uang. Agar tidak ketahuan istri menggadaikan sepeda motor, ia mengambil sepeda motor I Wayan Nursada yang kebetulan mirip sepeda motor miliknya.

“Nah agar tidak ketahuan istri menggadaikan motor, takut (istri) marah-marah, saya lihat motor Supra sama persis dengan milik saya yang digadaikan. Akhirnya membawa motor Supra DK 2243 GY milik I Wayan Nursada pulang ke rumah. Dengan tujuan agar istri percaya motor tersebut masih ada,” tuturnya.

“Kalau niat mencuri saya tidak ada, apalagi usia tua harus saya habiskan di penjara. Saya gunakan sepeda motor untuk mengangkut kopi dan aktivitas sehari-hari,” ungkapnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/