alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Jeruk Madu Besakih Kian Diminati, Sasaran Pasar Domestik

AMLAPURA – Sejak lima tahun ini, I Gusti Ngurah Alit mulai mengembangkan jeruk madu di lahan miliknya di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Jeruk madu yang ia pelajari di Malang itu kini berbuah manis, sama seperti hasil buahnya yang diminati banyak kalangan. 

 

Alit menceritakan awal mula ketertarikannya mengembangkan tanaman ini. Sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya di tahun 2014 ia bertandang ke Malang, Jawa Timur.

Kedatangannya bersama kelompok tani Kintamani ini untuk studi banding. Ingin mengetahui lebih dalam tentang budidaya jeruk madu.

“Saya belajar di sana. Mendapat pemahaman cara mengembangkan jeruk madu,” ujarnya.

 

Ketertarikannya pun kian tinggi setelah merasakan langsung rasa dari manisnya jeruk madu ini. Saat itu, jeruk madu belum begitu berkembang di Malang.

“Tapi memang saya rasakan jeruk ini manis seperti madu. Dan ini paling manis,” akunya.

 

Ia pun langsung mengambil carang untuk dibawa ke Bali. Selanjutnya carang tersebut dikembangkan dengan sistem mata tempel.

“Saya tidak langsung bawa ke Besakih dulu. Tapi dibawa ke Kintamani. Dikembangkan di sana. Dan berhasil,” jelasnya.

 

Penanaman jeruk madu sendiri, kata Alit akan berhasil ketika berada di ketinggian 600 sampai 1000 meter dari permukaan laut (MDPL). Kebetulan Kintamani dan Besakih memiliki demografi yang hampir sama dengan wilayah pegununga di Malang.

“Dua tahun belakangan saya ambil bibit dari Kintamani, saya bawa ke Besakih. Dan saya tanam dan berhasil. Rasa jeruknya manis sekali,” ungkap Alit.

 

Dari luas lahan 35 are itu, ia gunakan untuk mengembangkan jeruk madu ini. Dengan jarak tanam 2,5 meter, lahan tersebut bisa menampung 60 pohon. Per pohonnya bisa menghasilkan 100 kilogram. Panennya, dua kali dalam setahun.

“Puncak panen yang bagus itu di bulan Agustus,” paparnya.

 

Untuk satu kali panen, ia bisa mendapatkan hasil antara 2,5 sampai 6 ton. Diakuinya, pemasaran jeruk madu ini pun tidak sulit. Bahkan, sebelum pandemi ia sempat kewalahan hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

“Dulu sebelum pandemi, yang ngambil jeruk saya dari swalayan dan hotel-hotel di Denpasar dan Badung. Mereka minta 1 ton setiap dua hari. Tapi saya tidak sanggup,” kata Alit.

 

Perkilogramnya, Alit menjual jeruk madu tersebut Rp 20 ribu. Sementara harga ecerannya mencapai Rp 35 ribu.

“Sejak pandemi saya hanya melayani pedagang-pedagang kecil di Denpasar,” imbuhnya.

 

Diakui, perawatan tanaman jeruk madu ini harus dilakukan secara ekstra. Misalnya ketika ancaman hama, obat yang digunakan harus benar-benar tepat.

“Perawatan paling bagus adalah perhatian serius setiap saat. Kalau ada kutu loncat misalnya warna putih menyesuakan racunnya. Obatnya tergantung hamanya. Tidak bisa sembarangan,” terang Alit.

 

Selain jeruk madu, sejak tiga tahun belakangan ia juga mengembangkan jeruk BW yang berasal dari Lampung.

“Sudah berbuah. Rasanya manis, buahnya cantik sekali. Sama seperti di Lampung,” pungkasnya.



AMLAPURA – Sejak lima tahun ini, I Gusti Ngurah Alit mulai mengembangkan jeruk madu di lahan miliknya di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Jeruk madu yang ia pelajari di Malang itu kini berbuah manis, sama seperti hasil buahnya yang diminati banyak kalangan. 

 

Alit menceritakan awal mula ketertarikannya mengembangkan tanaman ini. Sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya di tahun 2014 ia bertandang ke Malang, Jawa Timur.

Kedatangannya bersama kelompok tani Kintamani ini untuk studi banding. Ingin mengetahui lebih dalam tentang budidaya jeruk madu.

“Saya belajar di sana. Mendapat pemahaman cara mengembangkan jeruk madu,” ujarnya.

 

Ketertarikannya pun kian tinggi setelah merasakan langsung rasa dari manisnya jeruk madu ini. Saat itu, jeruk madu belum begitu berkembang di Malang.

“Tapi memang saya rasakan jeruk ini manis seperti madu. Dan ini paling manis,” akunya.

 

Ia pun langsung mengambil carang untuk dibawa ke Bali. Selanjutnya carang tersebut dikembangkan dengan sistem mata tempel.

“Saya tidak langsung bawa ke Besakih dulu. Tapi dibawa ke Kintamani. Dikembangkan di sana. Dan berhasil,” jelasnya.

 

Penanaman jeruk madu sendiri, kata Alit akan berhasil ketika berada di ketinggian 600 sampai 1000 meter dari permukaan laut (MDPL). Kebetulan Kintamani dan Besakih memiliki demografi yang hampir sama dengan wilayah pegununga di Malang.

“Dua tahun belakangan saya ambil bibit dari Kintamani, saya bawa ke Besakih. Dan saya tanam dan berhasil. Rasa jeruknya manis sekali,” ungkap Alit.

 

Dari luas lahan 35 are itu, ia gunakan untuk mengembangkan jeruk madu ini. Dengan jarak tanam 2,5 meter, lahan tersebut bisa menampung 60 pohon. Per pohonnya bisa menghasilkan 100 kilogram. Panennya, dua kali dalam setahun.

“Puncak panen yang bagus itu di bulan Agustus,” paparnya.

 

Untuk satu kali panen, ia bisa mendapatkan hasil antara 2,5 sampai 6 ton. Diakuinya, pemasaran jeruk madu ini pun tidak sulit. Bahkan, sebelum pandemi ia sempat kewalahan hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

“Dulu sebelum pandemi, yang ngambil jeruk saya dari swalayan dan hotel-hotel di Denpasar dan Badung. Mereka minta 1 ton setiap dua hari. Tapi saya tidak sanggup,” kata Alit.

 

Perkilogramnya, Alit menjual jeruk madu tersebut Rp 20 ribu. Sementara harga ecerannya mencapai Rp 35 ribu.

“Sejak pandemi saya hanya melayani pedagang-pedagang kecil di Denpasar,” imbuhnya.

 

Diakui, perawatan tanaman jeruk madu ini harus dilakukan secara ekstra. Misalnya ketika ancaman hama, obat yang digunakan harus benar-benar tepat.

“Perawatan paling bagus adalah perhatian serius setiap saat. Kalau ada kutu loncat misalnya warna putih menyesuakan racunnya. Obatnya tergantung hamanya. Tidak bisa sembarangan,” terang Alit.

 

Selain jeruk madu, sejak tiga tahun belakangan ia juga mengembangkan jeruk BW yang berasal dari Lampung.

“Sudah berbuah. Rasanya manis, buahnya cantik sekali. Sama seperti di Lampung,” pungkasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/