alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Waspada, Ada 201 Kasus DBD di Badung

MANGUPURA – Di tengah pandemi Covid-19 yang mulai melandai, warga diminta tidak lengah dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebab di Kabupaten Badung pada triwulan pertama periode bulan Januari-Februari 2022 sudah ada 201 kasus DBD yang menyerang masyarakat.

 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung juga tetap atensi terhadap kasus DBD ini. Selain mengencarkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik), masyarakat juga tetap diminta waspada.

 

Berdasarkan data dari Dinkes Badung,  kasus DBD pada periode triwulan pertama tahun 2022 yakni bulan Januari ada 89 kasus, Februari 52 kasus, Maret 60 kasus. Kalau dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021 tergolong meningkat. Sebab pada triwulan pertama pada tahun 2021 bulan Januari 33 kasus, Februari 44 kasus, dan Maret 54 kasus.

 

“Total selama tiga bulan (Januari-Maret 2022) ada 201 kasus. Namun kasus masih terkendali,” beber Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung, dr. I Nyoman Gunarta dikonfirmasi, Sabtu (16/4).

 

Untuk antisipasi DBD, Dinkes juga telah melakukan lelang untuk Penyediaan Layanan Kesehatan untuk UKM dan UKP Rujukan Tingkat Daerah Kabupaten/Kota Sub-Kegiatan Pelayanan Kesehatan Penyakit Menular dan Tidak Menular Belanja Bahan-Bahan Kimia, Belanja Bahan Kimia Untuk Penyemprotan (Fogging/ULV). Nilai pagu paket Rp. 1.256.591.644,00 dan nilai HPS paket Rp. 1.216.641.723,00. 

 

Selain itu untuk petugas Juru Pemantau Jentik  (Jumantik) masih tetap efektif. Dinkes Badung memiliki 645 orang tenaga Jumantik, terdiri dari petugas jumantik lapangan 583 orang dan koordinator Jumantik 62 orang. Pihaknya juga mengharapkan masyarakat agar tetap memantau lingkungan sekitar. Mulai memantau genangan air dan sampah yang menjadi media pengembangan nyamuk tersebut.

 

“ Kita harus antisipasi sejak dini, jangan sampai baru ada kasus baru melakukan pembersihan lingkungan,” katanya. 

 

Seperti diketahui, di tahun 2022 ini total kasus DBD 201. Sementara di tahun 2020 bulan Januari 106 kasus, Februari 265 kasus, Maret 543 kasus, April 811 kasus, Mei 573 kasus, Juni 190 kasus, Juli 88 kasus, Agustus 45 kasus, September 22 kasus, Oktober 10 kasus, November 6 kasus dan Desember 17 kasus.

 

Di tahun 2021 pada bulan Januari 33 kasus, Februari 44 kasus, Maret 54 kasus, April 31 kasus, Mei 55 kasus, Juni 25 kasus, Juli 8 kasus, Agustus 7 kasus, September 6 kasus, Oktober 7 kasus, November 23 kasus, Desember 47 kasus.

 



MANGUPURA – Di tengah pandemi Covid-19 yang mulai melandai, warga diminta tidak lengah dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebab di Kabupaten Badung pada triwulan pertama periode bulan Januari-Februari 2022 sudah ada 201 kasus DBD yang menyerang masyarakat.

 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung juga tetap atensi terhadap kasus DBD ini. Selain mengencarkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik), masyarakat juga tetap diminta waspada.

 

Berdasarkan data dari Dinkes Badung,  kasus DBD pada periode triwulan pertama tahun 2022 yakni bulan Januari ada 89 kasus, Februari 52 kasus, Maret 60 kasus. Kalau dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021 tergolong meningkat. Sebab pada triwulan pertama pada tahun 2021 bulan Januari 33 kasus, Februari 44 kasus, dan Maret 54 kasus.

 

“Total selama tiga bulan (Januari-Maret 2022) ada 201 kasus. Namun kasus masih terkendali,” beber Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung, dr. I Nyoman Gunarta dikonfirmasi, Sabtu (16/4).

 

Untuk antisipasi DBD, Dinkes juga telah melakukan lelang untuk Penyediaan Layanan Kesehatan untuk UKM dan UKP Rujukan Tingkat Daerah Kabupaten/Kota Sub-Kegiatan Pelayanan Kesehatan Penyakit Menular dan Tidak Menular Belanja Bahan-Bahan Kimia, Belanja Bahan Kimia Untuk Penyemprotan (Fogging/ULV). Nilai pagu paket Rp. 1.256.591.644,00 dan nilai HPS paket Rp. 1.216.641.723,00. 

 

Selain itu untuk petugas Juru Pemantau Jentik  (Jumantik) masih tetap efektif. Dinkes Badung memiliki 645 orang tenaga Jumantik, terdiri dari petugas jumantik lapangan 583 orang dan koordinator Jumantik 62 orang. Pihaknya juga mengharapkan masyarakat agar tetap memantau lingkungan sekitar. Mulai memantau genangan air dan sampah yang menjadi media pengembangan nyamuk tersebut.

 

“ Kita harus antisipasi sejak dini, jangan sampai baru ada kasus baru melakukan pembersihan lingkungan,” katanya. 

 

Seperti diketahui, di tahun 2022 ini total kasus DBD 201. Sementara di tahun 2020 bulan Januari 106 kasus, Februari 265 kasus, Maret 543 kasus, April 811 kasus, Mei 573 kasus, Juni 190 kasus, Juli 88 kasus, Agustus 45 kasus, September 22 kasus, Oktober 10 kasus, November 6 kasus dan Desember 17 kasus.

 

Di tahun 2021 pada bulan Januari 33 kasus, Februari 44 kasus, Maret 54 kasus, April 31 kasus, Mei 55 kasus, Juni 25 kasus, Juli 8 kasus, Agustus 7 kasus, September 6 kasus, Oktober 7 kasus, November 23 kasus, Desember 47 kasus.

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/