alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Minta Satgas Dibubarkan karena Keroyok Siswi SMA, Hilarius Dikecam

DENPASAR – Hilarius Mali, salah satu tokoh NTT di Bali beberapa waktu lalu sempat mengecam tindakan dari dua oknum Satgas Hikmast (Himpunan Keluarga Matawai Amahu Sumba Timur) yang diduga mengeroyok siswa SMA hingga patah lengan. Hilarius juga meminta Satgas dibubarkan. Kini, sebaliknya, sejumlah Satgas perantauan NTT di Bali balik mengecam ucapan Hilarius.

Diketahui, seorang siswi SMA berinisial RVRNM, 17, mengalami pengeroyokan saat menonton final Futsal Hikmast Bali di My Stadium, Jalan Teuku Umar, Denpasar. Pelakunya diduga bernama Andi Hamid, 36 dan Ruben Here, 40, Satgas Himkast. Kini, kedua tersangka sudah ditahan di Mapolresta Denpasar.

Kepada awak media, Hilarius sempat mengaku sebagai salah satu penggagas terbentuknya satgas dan mengecam dengan keras tindakan Satgas tersebut. Bahkan dia meminta Satgas dibubarkan karena tidak memberikan nilai yang positif bagi keamanan masyarakat NTT di Bali.

Terkait pernyataannya itu, Ketua Satgas Flobamora Bali, Marthen Rowa Kasedu, Ketua Satgas Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) sekaligus penggagas Satgas Flores Agustinus Bugis, serta Ketua Satgas Flores Robertus Corly menanggapi dengan kecaman. 

 

Dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat  Flobamora Bali di Jl. Tukad Musi I/5 Renon, Denpasar, Jumat (18/03/2022) malam, Marthen Rowa Kasedu mengatakan bahwa klaim dari Hilarius Mali sebagai salah satu penggagas terbentuknya satgas Flobamora adalah sesuatu yang tidak berdasar. Dia juga membantah keras adanya anggapan bahwa Satgas Flobamora kerap membuat kekacauan.

 

“Kami Satgas Flobamora Bali bekerja secara sukarela, tidak ada yang membayar. Kamilah garda terdepan turun ke lapangan kalau ada warga bermasalah. Kami juga yang selalu membantu Kesbangpol, Satpol PP, polisi, dan TNI saat diminta. Jadi yang berhak membubarkan satgas itu hanya Ketua Flobamora,” tegasnya. Lanjut dia, jika ada yang mengaku sebagai sesepuh NTT di Bali dan pembentuk Satgas Flobamora Bali, itu tidak benar. 

 

“Sejak saya jadi Ketua Satgas Flobamora Bali dari tahun 2015 sampai sekarang, saya tidak pernah melihat keterlibatan Hilarius Mali dalam membentuk, membina  bahkan berkontribusi  kepada Satgas Flobamora Bali. Jangankan  yang besar, satu gelas air aqua aja belum pernah. Jadi mohon jangan melakukan pembohan publik. Kalau ada yang pernah dia keluarkan atau korbankan untuk Satgas, datang dan bicarakan dengan saya, saya siap kembalikan itu,” kata Marthen.

 

Bagi Marthen, kata sesepuh itu memiliki nilai sakral dan sangat dihormati. “Kami tidak mengenal orang yang mengaku sesepuh di luar Flobamora Bali. Kalau Hilarius Mali mengaku sesepuh, kenapa dia mau dipukul oleh anak NTT?  Dia yang mencari perlindungan kepada Yusdi Diaz sebagai Ketua Flobamora Bali dan Ardy Ganggas sebagai penasihat Flobamora Bali,” katanya.

 

Marthen juga mengkritisi adanya pemberitaan yang kerap membesar-besarkan pemberitaan jika pelakunya orang NTT. Sedangkan jika kasus kriminal yang menjadi korban warga NTT di Bali, pemberitaannya datar-datar saja. “Mereka yang mengaku wartawan senior di pihak sebelah tak pernah peduli. Mereka selalu bilang, wah kasus ini kalau  dinaikan tidak laku, tapi kalau ada warga NTT yang terlibat kriminal, mereka senang sekali menulis itu berhari-hari,” ujarnya.   

 

Menjawab salah seorang wartawan terkait tanggung jawab Satgas dalam kasus pertandingan futsal yang diadakan oleh Hikmast, menurut Marthen seharusnya Hilarius Mali bertanya langsung kepada saudara ketua panitia  bernama Jois. Menurutnya Satgas Hikmast itu bekerja karena ada penugasan dari ketua panitia. 

 

Lebih jauh Marthen menjelaskan, ada dua kategori warga NTT di Bali. Pertama, warga yang menjadi anggota Flobamora dan terlibat dalam setiap kegiatan Flobamora, dan yang kedua adalah warga NTT di luar Flobamora Bali.  Dan yang berhak membubarkan satgas yakni Ardi Gangga dan Yusdi Diaz. “Kalau Hila Mali mengaku sebagai ketua paguyuban tertentu, siapa yang melantik dia? Mana SK-nya?,” tanya Marthen. 

 

Ungkapan kegeraman atas penyataan Hilarius Mali dan serta wartawan senior  Emanuel Dewat Oja terkait celetukan pembubaran satgas itu juga ditunjukkan oleh Robertus Corly. Pria yang akrab dipanggil Roby ini menegaskan, orang-orang di luar yang meminta Satgas Flobamora dibubarkan tidak kami kenal, baik di unit maupun Flobamora Bali. “Kami ini kerja sosial, tengah malam mereka tidur, kami turun kalau ada warga bermasalah, kami tinggalkan anak istri. Kadang istri juga ngomel-ngomel karena kami terlalu sering di luar,” ungkap Roby.  

 

Mempertegas pernyataan Marthen Rowa, Agustinus Bugis menjelaskan kegiatan Flobamora Bali maupun Satgas Flobamora Bali lebih memprioritaskan pelayanan kepada warga yang membutuhkan. “Namun ada motivasi yang dilakoni oleh oknum-oknum tertentu yang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi, itulah makanya mereka tak betah bersama kami, lalu kalau ada yang meminta Satgas Flobamora Bali dibubarkan, siapa you,” sindir Agus Bugis. 

 

Agustinus Bugis bersama Satgas Flobamora Bali malah menantang Hilarius Mali dan Emanuel Dewata Oja siap bertemu untuk klarifikasi pernyataan mereka yang meminta pembubaran Satgas Flobamora sampai ke unit-unitnya. 

“Di manapun tempatnya kami siap hadir kalau memang pernyataan sikap kami ini membuat mereka tidak tidak senang, asalkan mereka yang mau klarifikasi,” tegas Agus Bugis. 

Koreksi:Berita ini mengalami perubahan Sabtu (19/3) Pukul 15.50 Wita, terutama pada bagian judul dari sebelumnya “Minta Satgas Dibubarkan, Ayah Siswi SMA Patah Lengan Malah Dikecam”. Juga terjadi perubahan pada paragraf pertama yang menyebut Hilarius Mali sebagai ayah korban berinisial RVRNM. Hilarius bukan ayah korban, dia adalah salah satu tokoh NTT yang membela korban. Dengan demikian kekeliruan telah diperbaiki dan redaksi menghaturkan permohonan maaf.



DENPASAR – Hilarius Mali, salah satu tokoh NTT di Bali beberapa waktu lalu sempat mengecam tindakan dari dua oknum Satgas Hikmast (Himpunan Keluarga Matawai Amahu Sumba Timur) yang diduga mengeroyok siswa SMA hingga patah lengan. Hilarius juga meminta Satgas dibubarkan. Kini, sebaliknya, sejumlah Satgas perantauan NTT di Bali balik mengecam ucapan Hilarius.

Diketahui, seorang siswi SMA berinisial RVRNM, 17, mengalami pengeroyokan saat menonton final Futsal Hikmast Bali di My Stadium, Jalan Teuku Umar, Denpasar. Pelakunya diduga bernama Andi Hamid, 36 dan Ruben Here, 40, Satgas Himkast. Kini, kedua tersangka sudah ditahan di Mapolresta Denpasar.

Kepada awak media, Hilarius sempat mengaku sebagai salah satu penggagas terbentuknya satgas dan mengecam dengan keras tindakan Satgas tersebut. Bahkan dia meminta Satgas dibubarkan karena tidak memberikan nilai yang positif bagi keamanan masyarakat NTT di Bali.

Terkait pernyataannya itu, Ketua Satgas Flobamora Bali, Marthen Rowa Kasedu, Ketua Satgas Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) sekaligus penggagas Satgas Flores Agustinus Bugis, serta Ketua Satgas Flores Robertus Corly menanggapi dengan kecaman. 

 

Dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat  Flobamora Bali di Jl. Tukad Musi I/5 Renon, Denpasar, Jumat (18/03/2022) malam, Marthen Rowa Kasedu mengatakan bahwa klaim dari Hilarius Mali sebagai salah satu penggagas terbentuknya satgas Flobamora adalah sesuatu yang tidak berdasar. Dia juga membantah keras adanya anggapan bahwa Satgas Flobamora kerap membuat kekacauan.

 

“Kami Satgas Flobamora Bali bekerja secara sukarela, tidak ada yang membayar. Kamilah garda terdepan turun ke lapangan kalau ada warga bermasalah. Kami juga yang selalu membantu Kesbangpol, Satpol PP, polisi, dan TNI saat diminta. Jadi yang berhak membubarkan satgas itu hanya Ketua Flobamora,” tegasnya. Lanjut dia, jika ada yang mengaku sebagai sesepuh NTT di Bali dan pembentuk Satgas Flobamora Bali, itu tidak benar. 

 

“Sejak saya jadi Ketua Satgas Flobamora Bali dari tahun 2015 sampai sekarang, saya tidak pernah melihat keterlibatan Hilarius Mali dalam membentuk, membina  bahkan berkontribusi  kepada Satgas Flobamora Bali. Jangankan  yang besar, satu gelas air aqua aja belum pernah. Jadi mohon jangan melakukan pembohan publik. Kalau ada yang pernah dia keluarkan atau korbankan untuk Satgas, datang dan bicarakan dengan saya, saya siap kembalikan itu,” kata Marthen.

 

Bagi Marthen, kata sesepuh itu memiliki nilai sakral dan sangat dihormati. “Kami tidak mengenal orang yang mengaku sesepuh di luar Flobamora Bali. Kalau Hilarius Mali mengaku sesepuh, kenapa dia mau dipukul oleh anak NTT?  Dia yang mencari perlindungan kepada Yusdi Diaz sebagai Ketua Flobamora Bali dan Ardy Ganggas sebagai penasihat Flobamora Bali,” katanya.

 

Marthen juga mengkritisi adanya pemberitaan yang kerap membesar-besarkan pemberitaan jika pelakunya orang NTT. Sedangkan jika kasus kriminal yang menjadi korban warga NTT di Bali, pemberitaannya datar-datar saja. “Mereka yang mengaku wartawan senior di pihak sebelah tak pernah peduli. Mereka selalu bilang, wah kasus ini kalau  dinaikan tidak laku, tapi kalau ada warga NTT yang terlibat kriminal, mereka senang sekali menulis itu berhari-hari,” ujarnya.   

 

Menjawab salah seorang wartawan terkait tanggung jawab Satgas dalam kasus pertandingan futsal yang diadakan oleh Hikmast, menurut Marthen seharusnya Hilarius Mali bertanya langsung kepada saudara ketua panitia  bernama Jois. Menurutnya Satgas Hikmast itu bekerja karena ada penugasan dari ketua panitia. 

 

Lebih jauh Marthen menjelaskan, ada dua kategori warga NTT di Bali. Pertama, warga yang menjadi anggota Flobamora dan terlibat dalam setiap kegiatan Flobamora, dan yang kedua adalah warga NTT di luar Flobamora Bali.  Dan yang berhak membubarkan satgas yakni Ardi Gangga dan Yusdi Diaz. “Kalau Hila Mali mengaku sebagai ketua paguyuban tertentu, siapa yang melantik dia? Mana SK-nya?,” tanya Marthen. 

 

Ungkapan kegeraman atas penyataan Hilarius Mali dan serta wartawan senior  Emanuel Dewat Oja terkait celetukan pembubaran satgas itu juga ditunjukkan oleh Robertus Corly. Pria yang akrab dipanggil Roby ini menegaskan, orang-orang di luar yang meminta Satgas Flobamora dibubarkan tidak kami kenal, baik di unit maupun Flobamora Bali. “Kami ini kerja sosial, tengah malam mereka tidur, kami turun kalau ada warga bermasalah, kami tinggalkan anak istri. Kadang istri juga ngomel-ngomel karena kami terlalu sering di luar,” ungkap Roby.  

 

Mempertegas pernyataan Marthen Rowa, Agustinus Bugis menjelaskan kegiatan Flobamora Bali maupun Satgas Flobamora Bali lebih memprioritaskan pelayanan kepada warga yang membutuhkan. “Namun ada motivasi yang dilakoni oleh oknum-oknum tertentu yang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi, itulah makanya mereka tak betah bersama kami, lalu kalau ada yang meminta Satgas Flobamora Bali dibubarkan, siapa you,” sindir Agus Bugis. 

 

Agustinus Bugis bersama Satgas Flobamora Bali malah menantang Hilarius Mali dan Emanuel Dewata Oja siap bertemu untuk klarifikasi pernyataan mereka yang meminta pembubaran Satgas Flobamora sampai ke unit-unitnya. 

“Di manapun tempatnya kami siap hadir kalau memang pernyataan sikap kami ini membuat mereka tidak tidak senang, asalkan mereka yang mau klarifikasi,” tegas Agus Bugis. 

Koreksi:Berita ini mengalami perubahan Sabtu (19/3) Pukul 15.50 Wita, terutama pada bagian judul dari sebelumnya “Minta Satgas Dibubarkan, Ayah Siswi SMA Patah Lengan Malah Dikecam”. Juga terjadi perubahan pada paragraf pertama yang menyebut Hilarius Mali sebagai ayah korban berinisial RVRNM. Hilarius bukan ayah korban, dia adalah salah satu tokoh NTT yang membela korban. Dengan demikian kekeliruan telah diperbaiki dan redaksi menghaturkan permohonan maaf.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/