alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Politeknik Internasional Bali Gelar Kelas Arak dan Tuak Khas Bali

TABANAN, radarbali.id Bali merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di dunia. Pulau Dewata dianugerahi beragam daya tarik. Salah satunya adalah konsistensi masyarakatnya melestarikan warisan budaya minuman fermentasi khas Bali berupa arak. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan arak sebagai kearifan lokal yang tata kelolanya tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali yang disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri.

Berkaitan dengan hal di atas, Politeknik Internasional Bali sebagai kampus pariwisata di Bali mengadakan Kuliah Umum bertajuk “Arak Learning Day 2022”, Jumat, (18/3). Kegiatan ini dibawakan oleh Ketut Darmayasa yang merupakan Chairman dari Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC) Bali dan diikuti oleh mahasiswa dari program studi D3 Culinary Arts, D4 Hotel Management, dan D4 Event Management.

Acara diawali dengan penjelasan secara umum mengenai arak dan tuak Bali. Dilanjutkan dengan demo pembuatan 3 jenis cocktail yang menggunakan arak Bali. Mahasiswa diberikan kesempatan secara langsung untuk meracik cocktail tersebut yang dimentori langsung oleh Darmayasa Barak. Hal ini sejalan dengan experience-based learning yang diterapkan di Kampus PIB agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar terbaik.

Beberapa topik yang dibahas antara lain arahan Pemprov Bali yang mengajak petani dan pengusaha arak untuk mengembangkan dan mengelola minuman tersebut agar bisa digunakan dalam pembuatan cocktail dan bisa setara dengan minuman produksi luar negeri layaknya 6 jenis distilled spirits seperti Brandy, Gin, Rum, Tequilla, Vodka, dan Whiskey.

Kemudian Ketut Darmayasa memaparkan bahwa bahan dasar dalam pembuatan tuak atau arak khas Bali hanya diambil dari beberapa jenis nira tertentu seperti nira kelapa, nira lontar, dan pohon enau. Beberapa jenis minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali yang mempunyai karakter yang mirip dengan beberapa jenis minuman beralkohol yang sudah umum dikenal, seperti Brem yang merupakan tipe A dengan kandungan alkohol 0-5%, kecenderungan mirip seperti bir. Tuak merupakan tipe B dengan kandungan alkohol 5–20%, kecenderungannya mirip seperti wine. Arak Bali merupakan tipe C dengan kandungan alkohol 20-55%, kecenderungan mirip seperti Whiskey, Rum, Gin, Vodka, dan Tequila.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diajak untuk lebih memahami pentingnya menjaga warisan budaya yang berperan dalam perkembangan pariwisata Bali, salah satunya adalah minuman arak. Mengutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali merupakan salah satu sumber keragaman budaya Bali yang perlu dilindungi, dipelihara, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dengan berbasis budaya.

Politeknik Internasional Bali berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan pariwisata di Bali dengan menjembatani mahasiswa untuk bisa belajar langsung dengan praktisi profesional. Sebagai kampus berbasis Kurikulum Tourismpreneurship, PIB secara konsisten memberikan pembekalan kewirausahaan (entrepreneur) di bidang kepariwisataan (tourism) bagi mahasiswa. (rba)



TABANAN, radarbali.id Bali merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di dunia. Pulau Dewata dianugerahi beragam daya tarik. Salah satunya adalah konsistensi masyarakatnya melestarikan warisan budaya minuman fermentasi khas Bali berupa arak. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan arak sebagai kearifan lokal yang tata kelolanya tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali yang disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri.

Berkaitan dengan hal di atas, Politeknik Internasional Bali sebagai kampus pariwisata di Bali mengadakan Kuliah Umum bertajuk “Arak Learning Day 2022”, Jumat, (18/3). Kegiatan ini dibawakan oleh Ketut Darmayasa yang merupakan Chairman dari Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC) Bali dan diikuti oleh mahasiswa dari program studi D3 Culinary Arts, D4 Hotel Management, dan D4 Event Management.

Acara diawali dengan penjelasan secara umum mengenai arak dan tuak Bali. Dilanjutkan dengan demo pembuatan 3 jenis cocktail yang menggunakan arak Bali. Mahasiswa diberikan kesempatan secara langsung untuk meracik cocktail tersebut yang dimentori langsung oleh Darmayasa Barak. Hal ini sejalan dengan experience-based learning yang diterapkan di Kampus PIB agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar terbaik.

Beberapa topik yang dibahas antara lain arahan Pemprov Bali yang mengajak petani dan pengusaha arak untuk mengembangkan dan mengelola minuman tersebut agar bisa digunakan dalam pembuatan cocktail dan bisa setara dengan minuman produksi luar negeri layaknya 6 jenis distilled spirits seperti Brandy, Gin, Rum, Tequilla, Vodka, dan Whiskey.

Kemudian Ketut Darmayasa memaparkan bahwa bahan dasar dalam pembuatan tuak atau arak khas Bali hanya diambil dari beberapa jenis nira tertentu seperti nira kelapa, nira lontar, dan pohon enau. Beberapa jenis minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali yang mempunyai karakter yang mirip dengan beberapa jenis minuman beralkohol yang sudah umum dikenal, seperti Brem yang merupakan tipe A dengan kandungan alkohol 0-5%, kecenderungan mirip seperti bir. Tuak merupakan tipe B dengan kandungan alkohol 5–20%, kecenderungannya mirip seperti wine. Arak Bali merupakan tipe C dengan kandungan alkohol 20-55%, kecenderungan mirip seperti Whiskey, Rum, Gin, Vodka, dan Tequila.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diajak untuk lebih memahami pentingnya menjaga warisan budaya yang berperan dalam perkembangan pariwisata Bali, salah satunya adalah minuman arak. Mengutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali merupakan salah satu sumber keragaman budaya Bali yang perlu dilindungi, dipelihara, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dengan berbasis budaya.

Politeknik Internasional Bali berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan pariwisata di Bali dengan menjembatani mahasiswa untuk bisa belajar langsung dengan praktisi profesional. Sebagai kampus berbasis Kurikulum Tourismpreneurship, PIB secara konsisten memberikan pembekalan kewirausahaan (entrepreneur) di bidang kepariwisataan (tourism) bagi mahasiswa. (rba)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/