alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Petani Arak di Talibeng Kesulitan Pemasaran karena Tak Ada Internet

KARANGASEM – Petani arak di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali masih kesulitan dalam pemasaran. Apalagi, daerah mereka masih jauh dari jangkauan jaringan atau sinyal internet.

Ada sebanyak 200 KK di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem merupakan petani arak. Mereka mengembangkan arak sudah sejak tahun 1940 lalu. Hingga kini, menjadi petani arak ini sekarang merupakan menjadi mata pencarian utama.

Perkembangan zaman membuat pola produksi mereka semakin maju. Dalam sehari, seorang petani arak bisa memproduksi sebanyak 15 liter perhari. Hal ini dapat meningkatkan produksi selain inovasi lain yang coba dikembangkan.

 

“Kalau dulu tidak ada kemasan, sekarang ada inovasi, mulai dari kemasan. Kalau proses pembuatannya, dulu masih manual, menggunakan kayu bakar aja, jadi lebih lama. Sekarang menggunakan kompor. Dari manual sekarang lebih modern dan mendukung jumlah produksi,” ujar I Ketut Mudiasa selaku Perbekel Desa Talibeng, Sidemen, Karangasem pada Minggu (20/2/2022).

Baca Juga:  Soal Legalisasi Arak Bali, Togar: Kenapa Tidak? Yang Lain Saja Boleh

 

Dari 8 dusun yang ada di Desa Talibang, 4 dusun disini merupakan petani arak. Perekonomian warganya bergantung penjualan arak. Namun mereka mengalami kendala dalam hal pemasaran. Salah satunya adalah jaringan internet.

 

“Di sini sinyal atau jaringan internet sangat susah. Kami berharap ada provider yang mau bekerjasama dengan desa. Ini sangat dibutuhkan warga kami di sini sekarang,” ungkapnya.

 

Kendala lain yang dialami para petani arak di sini adalah tidak adanya patokan harga arak. Sehingga satu dengan yang lain saling sabotase harga. Hal ini dikatakan membuat tujuan dari perda tentang arak tidak dapat berjalan optimal.

 

Selain itu, petani arak di sini juga berharap Pemerintah membantu untuk memberikan bantuan berupa alat untuk membuat arak, seperti alat untuk melakukan penyulingan.

Baca Juga:  Produsen Beralih ke Arak Gula lantaran Kesulitan Bahan Baku Ental

 

“Jika memang tidak bisa memberikan bantuan alat, setidaknya bisa memberikan bantuan modal. Jadi warga bisa meminjam modal untuk beli alat dengan bunga yang kecil,” sebutnya.

 

Di sisi lain, Kadek Arjana selaku salah satu petani arak di Desa Talibeng ini mengungkapkan harapan yang sama saat ditemui di rumahnya. Hal ini untuk mengembangkan usaha keluarganya untuk memproduksi arak.

 

“Saya bisa memproduksi arak 2 sampai 3 hari itu sekitar 12 liter. Memang pemasaran sangat sulit karena persaingan harga di pasar yang tidak menentu. Semoga ini juga jadi perhatian,” harapnya. 



KARANGASEM – Petani arak di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali masih kesulitan dalam pemasaran. Apalagi, daerah mereka masih jauh dari jangkauan jaringan atau sinyal internet.

Ada sebanyak 200 KK di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem merupakan petani arak. Mereka mengembangkan arak sudah sejak tahun 1940 lalu. Hingga kini, menjadi petani arak ini sekarang merupakan menjadi mata pencarian utama.

Perkembangan zaman membuat pola produksi mereka semakin maju. Dalam sehari, seorang petani arak bisa memproduksi sebanyak 15 liter perhari. Hal ini dapat meningkatkan produksi selain inovasi lain yang coba dikembangkan.

 

“Kalau dulu tidak ada kemasan, sekarang ada inovasi, mulai dari kemasan. Kalau proses pembuatannya, dulu masih manual, menggunakan kayu bakar aja, jadi lebih lama. Sekarang menggunakan kompor. Dari manual sekarang lebih modern dan mendukung jumlah produksi,” ujar I Ketut Mudiasa selaku Perbekel Desa Talibeng, Sidemen, Karangasem pada Minggu (20/2/2022).

Baca Juga:  Ratusan Warga Ujung Pesisi, Karangasem Diserang Virus Chikungunya

 

Dari 8 dusun yang ada di Desa Talibang, 4 dusun disini merupakan petani arak. Perekonomian warganya bergantung penjualan arak. Namun mereka mengalami kendala dalam hal pemasaran. Salah satunya adalah jaringan internet.

 

“Di sini sinyal atau jaringan internet sangat susah. Kami berharap ada provider yang mau bekerjasama dengan desa. Ini sangat dibutuhkan warga kami di sini sekarang,” ungkapnya.

 

Kendala lain yang dialami para petani arak di sini adalah tidak adanya patokan harga arak. Sehingga satu dengan yang lain saling sabotase harga. Hal ini dikatakan membuat tujuan dari perda tentang arak tidak dapat berjalan optimal.

 

Selain itu, petani arak di sini juga berharap Pemerintah membantu untuk memberikan bantuan berupa alat untuk membuat arak, seperti alat untuk melakukan penyulingan.

Baca Juga:  Mobil Pikap Tabrak Pelinggih, Pemilik Minta Sopir Ganti Rugi

 

“Jika memang tidak bisa memberikan bantuan alat, setidaknya bisa memberikan bantuan modal. Jadi warga bisa meminjam modal untuk beli alat dengan bunga yang kecil,” sebutnya.

 

Di sisi lain, Kadek Arjana selaku salah satu petani arak di Desa Talibeng ini mengungkapkan harapan yang sama saat ditemui di rumahnya. Hal ini untuk mengembangkan usaha keluarganya untuk memproduksi arak.

 

“Saya bisa memproduksi arak 2 sampai 3 hari itu sekitar 12 liter. Memang pemasaran sangat sulit karena persaingan harga di pasar yang tidak menentu. Semoga ini juga jadi perhatian,” harapnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/