alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Gubernur Koster Lapor Ada Mafia Visa dan Karantina, Ini Kata Wagub

DENPASAR –  Adanya laporan mafia agen visa dan permainan harga karantina membuat Gubernur Bali Wayan Koster gerah. Bahkan, Gubernur Koster melaporkan masalah ini ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno beberapa hari lalu.

 

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat ditemui kemarin mengatakan bahwa kurang pas dikatakan adanya mafia karena itu merupakan promosi untuk jalur cepat pengurusan visa. Praktek promosi seperti itu adalah hukum dagang dan saat ini baru ditemukan satu perusahaan demikian. 

 

Promosi menaikkan harga yang ditemukan itu memberikan penawaran jalur cepat Rp5,5 juta dan medium Rp4,5 juta. Padahal harga resmi pemerintah yakni tidak sampai Rp1 juta.  

 

“Saya baca flayer di Instagram saya sudah sampaikan ke Kementerian Pariwisata supaya tidak jauh ada ketimpangan karena kalau resmi dari pemerintah tidak sampai Rp1 juta.  Kalau mau cari untung yang wajar-wajar. Kita sudah serahkan ke pusat. Sebenarnya kalau dikatakan mafia, itu  jujur mengungkapkan termasuk hukum pasar bisa lebih cepat siapa tahu memang ada yang memerlukan,” ucapnya. 

Baca Juga:  Koster Ingatkan Kontraktor Proyek Shortcut Agar Sama-Sama Dapat

 

Diceritakan awalnya ketahuan muncul di media sosial tidak ada yang disembunyikan. Karena baru dua minggu ini, jadi yang merasakan menurutnya masih terbatas dan diakui memang pola yang lama kan agak susah, sekarang sudah dipermudah lagi. Kini hotel juga bisa menguruskan visa sebagai sponsor.

 

“Saya kira dulu surat kebijakan yang pertama memang agak sulit para wisatawan datang ke Bali karena ada, ya, katakanlah ada perorangan-perorangan yang harganya dia buat sendiri-sendiri. Sekarang dengan peraturan yang baru saya rasa dia akan lebih tertib lagi,” ucapnya. 

 

Sejak tanggal 4 Februari 2022, Bali telah dibuka untuk PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri). PPLN dapat melakukan karantina di hotel karantina dengan sistem bubble dan non-bubble. Hotel bubble adalah sistem karantina yang mengizinkan wisman untuk beraktivitas di luar kamar tetapi masih dalam kawasan hotel karantina. Sehingga wisman bisa berenang, belajar mengukir buah, berolah raga dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan.

Baca Juga:  Dipicu Masalah Ekonomi dan KDRT, Ratusan Pasutri di Karangasem Pilih Cerai

 

Selain bubble hotel, industri pariwisata Bali juga menawarkan sistem non-bubble yaitu menghabiskan waktu karantina di kamar saja. Saat ini Bali memiliki 65 hotel karantina dan 27 di antaranya adalah hotel karantina dengan sistem bubble. Hal ini memberikan opsi atau pilihan kepada PPLN/wisman.



DENPASAR –  Adanya laporan mafia agen visa dan permainan harga karantina membuat Gubernur Bali Wayan Koster gerah. Bahkan, Gubernur Koster melaporkan masalah ini ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno beberapa hari lalu.

 

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat ditemui kemarin mengatakan bahwa kurang pas dikatakan adanya mafia karena itu merupakan promosi untuk jalur cepat pengurusan visa. Praktek promosi seperti itu adalah hukum dagang dan saat ini baru ditemukan satu perusahaan demikian. 

 

Promosi menaikkan harga yang ditemukan itu memberikan penawaran jalur cepat Rp5,5 juta dan medium Rp4,5 juta. Padahal harga resmi pemerintah yakni tidak sampai Rp1 juta.  

 

“Saya baca flayer di Instagram saya sudah sampaikan ke Kementerian Pariwisata supaya tidak jauh ada ketimpangan karena kalau resmi dari pemerintah tidak sampai Rp1 juta.  Kalau mau cari untung yang wajar-wajar. Kita sudah serahkan ke pusat. Sebenarnya kalau dikatakan mafia, itu  jujur mengungkapkan termasuk hukum pasar bisa lebih cepat siapa tahu memang ada yang memerlukan,” ucapnya. 

Baca Juga:  Gubernur Koster Serahkan Hadiah Lomba Ogoh-Ogoh Rp1,7 M ke STT se-Bali

 

Diceritakan awalnya ketahuan muncul di media sosial tidak ada yang disembunyikan. Karena baru dua minggu ini, jadi yang merasakan menurutnya masih terbatas dan diakui memang pola yang lama kan agak susah, sekarang sudah dipermudah lagi. Kini hotel juga bisa menguruskan visa sebagai sponsor.

 

“Saya kira dulu surat kebijakan yang pertama memang agak sulit para wisatawan datang ke Bali karena ada, ya, katakanlah ada perorangan-perorangan yang harganya dia buat sendiri-sendiri. Sekarang dengan peraturan yang baru saya rasa dia akan lebih tertib lagi,” ucapnya. 

 

Sejak tanggal 4 Februari 2022, Bali telah dibuka untuk PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri). PPLN dapat melakukan karantina di hotel karantina dengan sistem bubble dan non-bubble. Hotel bubble adalah sistem karantina yang mengizinkan wisman untuk beraktivitas di luar kamar tetapi masih dalam kawasan hotel karantina. Sehingga wisman bisa berenang, belajar mengukir buah, berolah raga dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan.

Baca Juga:  Pantai Watu Klotok Berantakan, Pemkab Klungkung Terjunkan Alat Berat

 

Selain bubble hotel, industri pariwisata Bali juga menawarkan sistem non-bubble yaitu menghabiskan waktu karantina di kamar saja. Saat ini Bali memiliki 65 hotel karantina dan 27 di antaranya adalah hotel karantina dengan sistem bubble. Hal ini memberikan opsi atau pilihan kepada PPLN/wisman.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/