alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Kecilkan Ukuran Tahu dan Tempe

SEMARAPURA, radarbali.id– Harga kedelai impor terus naik. Kondisi itu dirasa sangat memberatkan bagi para produsen tahu dan tempe di Kabupaten Klungkung yang sejak pandemi Covid-19 mengalami penurunan permintaan. Meski begitu, mereka memilih untuk tidak ikut mogok berproduksi sebagai bentuk protes seperti produsen tahu dan tempe di daerah lain. Mereka lebih memilih mengecilkan ukuran tahu atau tempe.

Salah seorang pengusaha tahu tempe di Desa Kampung Gelgel, Kecamatan Klungkung, Imam Budiarso, Senin (21/2) mengungkapkan, harga kedelai impor terus mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir ini. Harga kedelai impor yang awalnya berkisar Rp 6.500 per kg, terus mengalami peningkatan hingga menjadi Rp 11 ribu per kg saat ini.

“Awalnya Rp 6.500 ribu per kg, menjadi Rp 7.500, kemudian menjadi Rp 8.500 per kg, lalu Rp 9.500 per kg, selanjutnya menjadi Rp 10.400, dan sekarang menjadi Rp 11 ribu per kg. Itu harga kedelai impor di Klungkung, kalau di daerah lain, saya tidak tahu,” jelasnya.

Baca Juga:  Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Tahu di Buleleng Menjerit

Ia mengaku tidak bisa berbuat apa dengan kenaikan harga kedelai impor tersebut. Sebab sejak pandemi Covid-19, dia tidak lagi bisa mendapatkan kedelai Dawan yang sebelumnya dia gunakan. Itu lantaran petani lebih memilih menanam jagung yang prosesnya lebih mudah dengan hasil yang lebih menggiurkan.

“Kalau dulu sebelum ada korona, kedelai lokal itu ada dari Dawan. Sekarang tidak ada, khususnya di Bali ini kedelai tidak ada beralih ke jagung manis karena prosesnya itu lebih cepat lebih bagus,” katanya.

Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, Imam memilih memperkecil ukuran tahu dan tempe yang diproduksinya. Sebab tidak memungkinkan baginya menaikan harga tahu dan tempe di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga:  Sebelum Ditemukan Tewas, Turis Asal Australia Sempat Muntah-muntah

“Ukuran tahu yang biasanya untuk 100 potong, sekarang kami jadikan untuk 110 -120 potong. Kalau harga dinaikkan, jamannya kayak ini pasar juga sepi. Dulu saya bisa produksi 100 kg lebih kedelai per hari, sekarang 70 kg per hari,” ungkapnya.

Terkait adanya produsen tahu dan tempe yang mogok produksi selama tiga hari mulai kemarin sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai, Imam memilih untuk tetap berproduksi. Mengingat biaya hidup sehari-harinya dan sejumlah karyawan lainnya hanya dari produksi tahu dan tempe itu.

“Kalau dulu karyawan bekerja full selama sehari. Kalau sekarang mereka hanya kerja setengah hari. Kan kasihan mereka kalau lagi ada mogok produksi,” tandasnya. 



SEMARAPURA, radarbali.id– Harga kedelai impor terus naik. Kondisi itu dirasa sangat memberatkan bagi para produsen tahu dan tempe di Kabupaten Klungkung yang sejak pandemi Covid-19 mengalami penurunan permintaan. Meski begitu, mereka memilih untuk tidak ikut mogok berproduksi sebagai bentuk protes seperti produsen tahu dan tempe di daerah lain. Mereka lebih memilih mengecilkan ukuran tahu atau tempe.

Salah seorang pengusaha tahu tempe di Desa Kampung Gelgel, Kecamatan Klungkung, Imam Budiarso, Senin (21/2) mengungkapkan, harga kedelai impor terus mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir ini. Harga kedelai impor yang awalnya berkisar Rp 6.500 per kg, terus mengalami peningkatan hingga menjadi Rp 11 ribu per kg saat ini.

“Awalnya Rp 6.500 ribu per kg, menjadi Rp 7.500, kemudian menjadi Rp 8.500 per kg, lalu Rp 9.500 per kg, selanjutnya menjadi Rp 10.400, dan sekarang menjadi Rp 11 ribu per kg. Itu harga kedelai impor di Klungkung, kalau di daerah lain, saya tidak tahu,” jelasnya.

Baca Juga:  PHRI Sambut Gembira Pelaku Perjalanan Luar Negeri tanpa Karantina

Ia mengaku tidak bisa berbuat apa dengan kenaikan harga kedelai impor tersebut. Sebab sejak pandemi Covid-19, dia tidak lagi bisa mendapatkan kedelai Dawan yang sebelumnya dia gunakan. Itu lantaran petani lebih memilih menanam jagung yang prosesnya lebih mudah dengan hasil yang lebih menggiurkan.

“Kalau dulu sebelum ada korona, kedelai lokal itu ada dari Dawan. Sekarang tidak ada, khususnya di Bali ini kedelai tidak ada beralih ke jagung manis karena prosesnya itu lebih cepat lebih bagus,” katanya.

Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, Imam memilih memperkecil ukuran tahu dan tempe yang diproduksinya. Sebab tidak memungkinkan baginya menaikan harga tahu dan tempe di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga:  Setiap Harinya Puluhan Warga Tabanan Digigit Anjing, Stok VAR Menipis

“Ukuran tahu yang biasanya untuk 100 potong, sekarang kami jadikan untuk 110 -120 potong. Kalau harga dinaikkan, jamannya kayak ini pasar juga sepi. Dulu saya bisa produksi 100 kg lebih kedelai per hari, sekarang 70 kg per hari,” ungkapnya.

Terkait adanya produsen tahu dan tempe yang mogok produksi selama tiga hari mulai kemarin sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai, Imam memilih untuk tetap berproduksi. Mengingat biaya hidup sehari-harinya dan sejumlah karyawan lainnya hanya dari produksi tahu dan tempe itu.

“Kalau dulu karyawan bekerja full selama sehari. Kalau sekarang mereka hanya kerja setengah hari. Kan kasihan mereka kalau lagi ada mogok produksi,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/