alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Berasal Dari 50 Negara, Temukan Benjolan di Bibir Ratu Elizabeth II

Tidak hanya unik, koin atau mata uang logam yang dikoleksi I Ketut Winata juga langka. Sebanyak 1.400 koin dari 50 negara dikumpulkan Winata selama 26 tahun.

 

MAULANA SANDIJAYA, Sanur, Radar Bali

 

SEJAK 1995, Winata sudah terbiasa menyimpan koin mata uang asing. Saat itu ia bekerja di sebuah hotel di Jakarta. Namun, ayah tiga anak itu tidak terpikirkan bakal menjadi kolektor koin. Dia hanya melihat koin negara lain sebagai sesuatu yang unik.

 

Tahun 1996 Winata pulang ke Bali. Hobi mengumpulkan koin tetap dilakoni. Puncaknya pada 2000 saat ia bekerja di kapal pesiar. Kapal itu yang membawanya keliling dunia dan menyinggahi berbagai negara. Karyawan di kapal tersebut berasal dari 34 negara.

 

Sejak kerja di kapal pesiar itu dia sering mendapat koin dari berbagai negara. Tapi, waktu itu dia hanya sebatas menyimpan koin di dalam tas. Koin yang disimpan dari koin Amerika, Eropa, Asia, hingga Afrika.

 

“Di kapal pesiar gajinya dolar. Kalau ada uang dari gaji atau kadang dapat tips saya simpan. Koin saya ini semua tidak ada yang beli, semua dari hasil saya bekerja,” tutur Winata saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali, belum lama ini.

 

Tahun 2012 yang merupakan tahun terakhirnya bekerja di kapal pesiar, Winata masih mengumpulkan koin. Hingga akhirnya tahun 2017 mulai muncul niatan menjadi kolektor koin. Koleksi koin terbanyak dari Amerika Serikat.

 

Ribuan koin yang dikumpulkan mulai disortir. Dia juga mulai mencari informasi tentang koleksi koin. Terutama dari tayangan Youtube. “Saya juga membeli mikroskop, kaca pembesar, sarung tangan, dan alat-alat lainnya,” tutur pria 47 tahun itu.

 

Dijelaskan Winata, peralatan tersebut dibeli lantaran koin harus diperlakukan khusus. Misalnya koin tidak boleh kena keringat atau sidik jari. Karena itu koin tidak boleh dipegang tangan telanjang tanpa sarung tangan. Koin juga tidak boleh dilap atau dibersihkan. “Kondisinya harus benar-benar oirisinil apa adanya,” tukasnya.

Baca Juga:  Bukti Dunia Internasional Percaya Indonesia sebagai Pemimpin Dunia

 

Lalu bagaimana koin yang unik? Winata mengungkapkan, ada beberapa kriteria koin disebut unik dan langka. Di antaranya koin dicetak dengan jumlah terbatas. Semakin sedikit dicetak, maka nilainya semakin mahal. “Saya punya koin Lithuania yang hanya dicetak 200 ribu keping,” tukas pria kelahiran 22 Oktober 1974 itu.

 

Winata menambahkan, dirinya hanya mengoleksi dengan kondisi fisik baik. Sebab, jika kondisinya kurang baik tidak ada nilainya. Koin yang dikoleksi juga bukan sembarang koin. Harus benar-benar memiliki keunikan.

 

“Koin yang unik itu karena main error atau kesalahan cetak. Jadi, saya mencari koin yang salah cetak. Sebab, mata uang merupakan identitas sebuah negara, kalau salah cetak itu memalukan,” bebernya.

 

Untuk memastikan koin itu unik, Winata harus melakukan serangkaian penelitian menggunakan kaca pembesar, mikroskop, hingga timbangan. Hal yang sama juga dilakukan kolektor koin lainnya. “Saya meneliti satu koin minimal butuh waktu satu jam,” tegasnya.

 

Winata punya koin tahun 1993 bergambar Ratu Elizabeth II. Menurut dia, koin tersebut unik dan langka. Sebab, di bagian bibir Ratu Elizabeth terdapat benjolan.

“Ini kalau ada yang mau ambil, terus ditunjukkan ke Ratu Elizabeth bahwa ada benjolan di bagian bibir, mungkin Ratu Elizabeth akan kaget,” selorohnya.

 

Winata saat ini mengoleksi koin dari 13 negara bagian Amerika Serikat. Koin tersebut nilainya dari sen sampai dolar. Yang menarik adalah koin yang dikoleksi masih berlaku semua di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Gencar Promosi, Penjualan Garam Kusamba Masih Belum Maksimal

 

Menurut Winata, koin juga harus diperlakukan istimewa. Ada ilmu sendiri yang mempelajari koin disebut numismatik. Sedangkan pelakunya disebut numismatis. Tidak sekadar melihat besaran mata uang, tapi juga belajar sejarah dari mata uang tersebut.

 

Ribuan koin Winata saat ini disimpan rapi dalam kotak plastik. Satu koin dimasukkan ke dalam satu plastik klip bening. Koin itu tidak boleh dipegang tangan telanjang, harus memakai sarung tangan. Tidak boleh kena keringat dan sidik jari. Tapi, juga tidak boleh dilap dan dibersikan. Kondisinya harus benar-benar orisinil.

 

Selain mengalami kesalahan cetak, koin disebut unik jika dikeluarkan dalam momen tertentu. Misalnya momen suatu negara memperingati hari jadi. Mata uang yang dirilis khusus hari ulang tahun itu disebut komemoratif.

Winata punya sejumlah koin dan uang lembaran komemoratif. Misalnya uang dolar Abraham Lincoln yang dikeluarkan saat Amerika merayakan hari jadinya.

Indonesia juga pernah mengeluarkan uang pecahan Rp 75.000 saat merayakan HUT ke-75 pada 2020 lalu.

 

“Kalau uang komemoratif saya cari yang nomor seri kembar atau nomor belakangnya cantik. Misalnya tiga angka belakang 007 yang identik dengan James Bond,” jelas suami Iin Nurul Roshidayah itu.

 

Sedangkan koin ditimbang karena ada beberapa koin yang bertanya tidak sesuai tahun edisi pembuatannya. Ia mencontohkan di Amerika tahun 1982 – 1983 terjadi masa peralihan koin. Koin tahun 1970 – 1982 bahan yang digunakan perunggu. Setelah 1982 tidak lagi memakai perunggu.

 

Nah, kalau dapat koin tahun 1983 tapi masih memakai bahan perunggu yang beratnya 3,1 gram, maka itu menjadi langka. Satu koin harganya USD 20 ribu. (Bersambung)

 



Tidak hanya unik, koin atau mata uang logam yang dikoleksi I Ketut Winata juga langka. Sebanyak 1.400 koin dari 50 negara dikumpulkan Winata selama 26 tahun.

 

MAULANA SANDIJAYA, Sanur, Radar Bali

 

SEJAK 1995, Winata sudah terbiasa menyimpan koin mata uang asing. Saat itu ia bekerja di sebuah hotel di Jakarta. Namun, ayah tiga anak itu tidak terpikirkan bakal menjadi kolektor koin. Dia hanya melihat koin negara lain sebagai sesuatu yang unik.

 

Tahun 1996 Winata pulang ke Bali. Hobi mengumpulkan koin tetap dilakoni. Puncaknya pada 2000 saat ia bekerja di kapal pesiar. Kapal itu yang membawanya keliling dunia dan menyinggahi berbagai negara. Karyawan di kapal tersebut berasal dari 34 negara.

 

Sejak kerja di kapal pesiar itu dia sering mendapat koin dari berbagai negara. Tapi, waktu itu dia hanya sebatas menyimpan koin di dalam tas. Koin yang disimpan dari koin Amerika, Eropa, Asia, hingga Afrika.

 

“Di kapal pesiar gajinya dolar. Kalau ada uang dari gaji atau kadang dapat tips saya simpan. Koin saya ini semua tidak ada yang beli, semua dari hasil saya bekerja,” tutur Winata saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali, belum lama ini.

 

Tahun 2012 yang merupakan tahun terakhirnya bekerja di kapal pesiar, Winata masih mengumpulkan koin. Hingga akhirnya tahun 2017 mulai muncul niatan menjadi kolektor koin. Koleksi koin terbanyak dari Amerika Serikat.

 

Ribuan koin yang dikumpulkan mulai disortir. Dia juga mulai mencari informasi tentang koleksi koin. Terutama dari tayangan Youtube. “Saya juga membeli mikroskop, kaca pembesar, sarung tangan, dan alat-alat lainnya,” tutur pria 47 tahun itu.

 

Dijelaskan Winata, peralatan tersebut dibeli lantaran koin harus diperlakukan khusus. Misalnya koin tidak boleh kena keringat atau sidik jari. Karena itu koin tidak boleh dipegang tangan telanjang tanpa sarung tangan. Koin juga tidak boleh dilap atau dibersihkan. “Kondisinya harus benar-benar oirisinil apa adanya,” tukasnya.

Baca Juga:  Menko Airlangga: Silakan Halal Bihalal, Tapi Tetap Disiplin Prokes

 

Lalu bagaimana koin yang unik? Winata mengungkapkan, ada beberapa kriteria koin disebut unik dan langka. Di antaranya koin dicetak dengan jumlah terbatas. Semakin sedikit dicetak, maka nilainya semakin mahal. “Saya punya koin Lithuania yang hanya dicetak 200 ribu keping,” tukas pria kelahiran 22 Oktober 1974 itu.

 

Winata menambahkan, dirinya hanya mengoleksi dengan kondisi fisik baik. Sebab, jika kondisinya kurang baik tidak ada nilainya. Koin yang dikoleksi juga bukan sembarang koin. Harus benar-benar memiliki keunikan.

 

“Koin yang unik itu karena main error atau kesalahan cetak. Jadi, saya mencari koin yang salah cetak. Sebab, mata uang merupakan identitas sebuah negara, kalau salah cetak itu memalukan,” bebernya.

 

Untuk memastikan koin itu unik, Winata harus melakukan serangkaian penelitian menggunakan kaca pembesar, mikroskop, hingga timbangan. Hal yang sama juga dilakukan kolektor koin lainnya. “Saya meneliti satu koin minimal butuh waktu satu jam,” tegasnya.

 

Winata punya koin tahun 1993 bergambar Ratu Elizabeth II. Menurut dia, koin tersebut unik dan langka. Sebab, di bagian bibir Ratu Elizabeth terdapat benjolan.

“Ini kalau ada yang mau ambil, terus ditunjukkan ke Ratu Elizabeth bahwa ada benjolan di bagian bibir, mungkin Ratu Elizabeth akan kaget,” selorohnya.

 

Winata saat ini mengoleksi koin dari 13 negara bagian Amerika Serikat. Koin tersebut nilainya dari sen sampai dolar. Yang menarik adalah koin yang dikoleksi masih berlaku semua di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Pengelola Pasar Sukla Ancam ke Polisi, Tuding Pejabat Minta Sogokan

 

Menurut Winata, koin juga harus diperlakukan istimewa. Ada ilmu sendiri yang mempelajari koin disebut numismatik. Sedangkan pelakunya disebut numismatis. Tidak sekadar melihat besaran mata uang, tapi juga belajar sejarah dari mata uang tersebut.

 

Ribuan koin Winata saat ini disimpan rapi dalam kotak plastik. Satu koin dimasukkan ke dalam satu plastik klip bening. Koin itu tidak boleh dipegang tangan telanjang, harus memakai sarung tangan. Tidak boleh kena keringat dan sidik jari. Tapi, juga tidak boleh dilap dan dibersikan. Kondisinya harus benar-benar orisinil.

 

Selain mengalami kesalahan cetak, koin disebut unik jika dikeluarkan dalam momen tertentu. Misalnya momen suatu negara memperingati hari jadi. Mata uang yang dirilis khusus hari ulang tahun itu disebut komemoratif.

Winata punya sejumlah koin dan uang lembaran komemoratif. Misalnya uang dolar Abraham Lincoln yang dikeluarkan saat Amerika merayakan hari jadinya.

Indonesia juga pernah mengeluarkan uang pecahan Rp 75.000 saat merayakan HUT ke-75 pada 2020 lalu.

 

“Kalau uang komemoratif saya cari yang nomor seri kembar atau nomor belakangnya cantik. Misalnya tiga angka belakang 007 yang identik dengan James Bond,” jelas suami Iin Nurul Roshidayah itu.

 

Sedangkan koin ditimbang karena ada beberapa koin yang bertanya tidak sesuai tahun edisi pembuatannya. Ia mencontohkan di Amerika tahun 1982 – 1983 terjadi masa peralihan koin. Koin tahun 1970 – 1982 bahan yang digunakan perunggu. Setelah 1982 tidak lagi memakai perunggu.

 

Nah, kalau dapat koin tahun 1983 tapi masih memakai bahan perunggu yang beratnya 3,1 gram, maka itu menjadi langka. Satu koin harganya USD 20 ribu. (Bersambung)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/