alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Desa Wisata Singapadu Tengah Siap Menyapa Dunia

KAMPUS bukan menara gading. Hasil penelitian ilmiah akademisi atau dosen wajib dinikmati masyarakat. Salah satu hilirisasi hasil penelitian yang dikemas dalam bentuk kegiatan pengabdian ini ada di Desa Singapadu Tengah, Gianyar. Di lokasi sama, Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) 2019-2021 yang dibiayai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional sedang digarap difasilitasi oleh Universitas Warmadewa. 

PPDM tahun ketiga pada 2021 ini berfokus pada pola pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat dan pembangunan infrastruktur senderan dan pedestrian yang menghubungkan Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan. Ini sekaligus berfungsi sebagai akses jogging track, sepeda, dan olahraga lainnya. Menyandang status Desa Wisata sejak 2017, semangat warga membangun desa sangat tinggi. Pemerintah desa mulai mengundang perguruan tinggi menunaikan pengabdian masyarakat, penelitian, dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan seperti KKN dan Pengabdian Mahasiswa (Pengmas) bersinergi dengan aparatur Desa Singapadu Tengah.

Baca Juga:  Unwar Terjunkan 1.859 Mahasiswa KKN di 62 Desa di Bali

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi ajang mengasah diri, khususnya bagi kaum muda. Mereka dilibatkan dalam penggarapan strategi perencanaan wisata di masa mendatang. Masterplan pengembangan dan perencanaan desa wisata pasca pandemi Covid-19 ini dibarengi upaya memperkuat jiwa pemuda (sekehe Teruna Teruni) di desa melalui workshop dari pakar bisnis dan inovasi. Tak hanya itu, sosialisasi, focus group discussion dengan mengundang para pakar pariwisata, homestay, hukum adat, pakar pemberdayaan masyarakat, dan pakar pengelolaan desa wisata juga kerap dilakukan. 

Dalam studi banding di Desa Taro dan Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Sekehe Teruna Teruni diajak turut serta bersama Kepala Desa Singapadu Tengah, Kelompok Mitra, Pengurus Pokdarwis, dan tim PPDM Universitas Warmadewa. 3 poin penting didapat. Pertama, pengetahuan tentang strategi peningkatan pengelolaan desa wisata, khususnya sinergitas antara pengelolaan dan desa-desa penopang lain yang juga berpotensi sebagai desa wisata. Kedua, pemberian informasi cepat dan akurat kepada wisatawan melalui teknologi informasi berbasis digital. Ketiga, pengelolaan dengan sistem terstruktur dan konsisten sehingga wisatawan memanfaatkan waktunya secara efektif di lokasi wisata.

Baca Juga:  Puluhan Anak di Klungkung Alami Gizi Buruk

PPDM tahun pertama pada 2019 berimbas pada pengembangan villa, homestay, dan penunjang wisata lain seperti flying fox, swing sport, bicycle, dan jogging track. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang melanda sejak Maret 2020 memaksa semuanya stagnan alias berhenti. Meski demikian, semangat warga Desa Singapadu Tengah tidak padam. Kini, lewat PPDM yang diprakarsai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Riset dan Teknologi  Badan Riset dan Inovasi Nasional, pembangunan infrastruktur senderan dan pedestrian yang menghubungkan Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan sepanjang 976 meter telah rampung 65%.

Sembari menunggu pandemi Covid-19 usai, sawo kecik dan kayu manis ditanam di antara lahan tebe selebar 2,5-3,5 meter yang disumbangkan warga setempat sebagai akses penghubung Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan. Wabah usai, Desa Wisata Singapadu Tengah siap menyapa dunia. (Penulis adalah Ketua Tim Pengembangan Desa Mitra Universitas Warmadewa) 

- Advertisement -

- Advertisement -

KAMPUS bukan menara gading. Hasil penelitian ilmiah akademisi atau dosen wajib dinikmati masyarakat. Salah satu hilirisasi hasil penelitian yang dikemas dalam bentuk kegiatan pengabdian ini ada di Desa Singapadu Tengah, Gianyar. Di lokasi sama, Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) 2019-2021 yang dibiayai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional sedang digarap difasilitasi oleh Universitas Warmadewa. 

PPDM tahun ketiga pada 2021 ini berfokus pada pola pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat dan pembangunan infrastruktur senderan dan pedestrian yang menghubungkan Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan. Ini sekaligus berfungsi sebagai akses jogging track, sepeda, dan olahraga lainnya. Menyandang status Desa Wisata sejak 2017, semangat warga membangun desa sangat tinggi. Pemerintah desa mulai mengundang perguruan tinggi menunaikan pengabdian masyarakat, penelitian, dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan seperti KKN dan Pengabdian Mahasiswa (Pengmas) bersinergi dengan aparatur Desa Singapadu Tengah.

Baca Juga:  FS Unwar Gelar PKM di Kelurahan Sumerta Denpasar

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi ajang mengasah diri, khususnya bagi kaum muda. Mereka dilibatkan dalam penggarapan strategi perencanaan wisata di masa mendatang. Masterplan pengembangan dan perencanaan desa wisata pasca pandemi Covid-19 ini dibarengi upaya memperkuat jiwa pemuda (sekehe Teruna Teruni) di desa melalui workshop dari pakar bisnis dan inovasi. Tak hanya itu, sosialisasi, focus group discussion dengan mengundang para pakar pariwisata, homestay, hukum adat, pakar pemberdayaan masyarakat, dan pakar pengelolaan desa wisata juga kerap dilakukan. 


Dalam studi banding di Desa Taro dan Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Sekehe Teruna Teruni diajak turut serta bersama Kepala Desa Singapadu Tengah, Kelompok Mitra, Pengurus Pokdarwis, dan tim PPDM Universitas Warmadewa. 3 poin penting didapat. Pertama, pengetahuan tentang strategi peningkatan pengelolaan desa wisata, khususnya sinergitas antara pengelolaan dan desa-desa penopang lain yang juga berpotensi sebagai desa wisata. Kedua, pemberian informasi cepat dan akurat kepada wisatawan melalui teknologi informasi berbasis digital. Ketiga, pengelolaan dengan sistem terstruktur dan konsisten sehingga wisatawan memanfaatkan waktunya secara efektif di lokasi wisata.

Baca Juga:  Gubernur Koster Plaspas Pelabuhan Sampalan Nusa Penida

PPDM tahun pertama pada 2019 berimbas pada pengembangan villa, homestay, dan penunjang wisata lain seperti flying fox, swing sport, bicycle, dan jogging track. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang melanda sejak Maret 2020 memaksa semuanya stagnan alias berhenti. Meski demikian, semangat warga Desa Singapadu Tengah tidak padam. Kini, lewat PPDM yang diprakarsai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Riset dan Teknologi  Badan Riset dan Inovasi Nasional, pembangunan infrastruktur senderan dan pedestrian yang menghubungkan Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan sepanjang 976 meter telah rampung 65%.

Sembari menunggu pandemi Covid-19 usai, sawo kecik dan kayu manis ditanam di antara lahan tebe selebar 2,5-3,5 meter yang disumbangkan warga setempat sebagai akses penghubung Pura Puseh Natih menuju Pura Pengubengan. Wabah usai, Desa Wisata Singapadu Tengah siap menyapa dunia. (Penulis adalah Ketua Tim Pengembangan Desa Mitra Universitas Warmadewa) 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/