alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Perajin Kacang Kapri Berproduksi Lagi Setelah 2 Tahun Dihajar Pandemi

SEMARAPURA – Jelang bulan Ramadan, perajin olahan kacang di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali mulai banjir pesanan. Hal tersebut sangat disyukuri para perajin. Sebab sejak pandemi Covid-19 yang telah berlangsung dua tahun lebih ini, permintaan olahan kacang anjlok.

 

Menurut Wayan Diasmini, 50 perajin kacang di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan saat ditemui di kediamannya, Rabu (23/3) mengungkapkan, permintaan olahan kacang di tempatnya menurun drastis sejak pandemi Covid-19.

 

Sehingga ia yang biasanya memproduksi olahan kacang setiap hari, kini menjadi tidak menentu lantaran mengikuti pesanan para pelanggan.

 

“Sehingga berpengaruh para jumlah pekerja. Kalau dulu saya bisa mempekerjakan 8 orang, sekarang hanya dua orang saja,” ungkapnya.

 

Namun jelang bulan Ramadan, ia mengaku mulai mendapat pesanan dalam jumlah banyak, khususnya untuk olahan kacang kapri. Meski diakuinya masih jauh dibandingkan dengan permintaan saat sebelum pandemi.

 

“Mulai hari ini (kemarin) saya kembali memproduksi kacang kapri. Sudah dua tahun lebih saya tidak produksi. Ini ada pesanan dari Surabaya. Masing-masing 300 kilogram. Kalau permintaan kacang kapri di Bali sangat jarang sejak Covid-19” ungkapnya.

 

Hanya saja di tengah rasa syukurnya karena kembali banjir pesanan, naiknya harga minyak curah cukup memengaruhi. Bila biasanya ia menjual kacang kapri seharga Rp 200 ribu per 5 kilogram, kini harganya menjadi Rp 240 ribu per 5 kilogram.

 

“Kalau beli menyak curahnya masih mudah. Hanya harganya agak naik. Sekarang Rp 15.500 per liter. Jadi harga kacang kaprinya juga naik,” tandasnya.



SEMARAPURA – Jelang bulan Ramadan, perajin olahan kacang di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali mulai banjir pesanan. Hal tersebut sangat disyukuri para perajin. Sebab sejak pandemi Covid-19 yang telah berlangsung dua tahun lebih ini, permintaan olahan kacang anjlok.

 

Menurut Wayan Diasmini, 50 perajin kacang di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan saat ditemui di kediamannya, Rabu (23/3) mengungkapkan, permintaan olahan kacang di tempatnya menurun drastis sejak pandemi Covid-19.

 

Sehingga ia yang biasanya memproduksi olahan kacang setiap hari, kini menjadi tidak menentu lantaran mengikuti pesanan para pelanggan.

 

“Sehingga berpengaruh para jumlah pekerja. Kalau dulu saya bisa mempekerjakan 8 orang, sekarang hanya dua orang saja,” ungkapnya.

 

Namun jelang bulan Ramadan, ia mengaku mulai mendapat pesanan dalam jumlah banyak, khususnya untuk olahan kacang kapri. Meski diakuinya masih jauh dibandingkan dengan permintaan saat sebelum pandemi.

 

“Mulai hari ini (kemarin) saya kembali memproduksi kacang kapri. Sudah dua tahun lebih saya tidak produksi. Ini ada pesanan dari Surabaya. Masing-masing 300 kilogram. Kalau permintaan kacang kapri di Bali sangat jarang sejak Covid-19” ungkapnya.

 

Hanya saja di tengah rasa syukurnya karena kembali banjir pesanan, naiknya harga minyak curah cukup memengaruhi. Bila biasanya ia menjual kacang kapri seharga Rp 200 ribu per 5 kilogram, kini harganya menjadi Rp 240 ribu per 5 kilogram.

 

“Kalau beli menyak curahnya masih mudah. Hanya harganya agak naik. Sekarang Rp 15.500 per liter. Jadi harga kacang kaprinya juga naik,” tandasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/