alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Pengelola Pasar Sukla Satyagraha Melawan, Mengadu ke Ombudsman Bali

GIANYAR – Setelah Sentra Sukla Satyagraha atau Pasar Sukla Satyagraha di Jalan Astina Utara, Gianyar, disegel, Kamis (24/3), pihak pengelola melawan. Pengelola telah mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Bali. 

Pengelola Pasar Sukla, I Wayan Widya Adnyana yang juga Ketua Koperasi Sukla Satyagraha Bali, menyatakan saat penutupan pihaknya sempat mempertanyakan surat perintah segel.

“Namun tidak ada. Bahkan aparat malah merusak tenda pedagang. Ada tenda dirobohkan paksa sampai rusak,” keluhnya, Jumat (25/3).

Setelah disegel, pengelola langsung mengadu ke ORI Perwakilan Bali. “Yang kami adukan adalah Lurah Beng. Ada dugaan Lurah menghambat kami mengurus izin,” jelas pria asal Bukit Batu, Kecamatan Gianyar itu.

Yang membingungkan, saat pihaknya melengkapi izin, Lurah tidak memberikan alasan jelas mengenai tidak boleh mendirikan pasar Sukla.

“Rencana pekan depan dari Ombudsman akan turun,” jelasnya.

Sementara itu, setelah disegel dan dipasang garis kuning, petugas Satpol PP Gianyar berjaga di areal pasar Sukla untuk memastikan tidak ada aktivitas di pasar itu.

Widya membeberkan, lahan pasar seluas 42 are dengan sistem sewa lahan. Pedagang terdiri dari pedagang bermobil sekitar 100 pedagang yang berjualan pagi. Kemudian dilanjutkan pedagang malam sebanyak kurang lebih 100 orang.

“Yang pedagang bermobil ini justru bisa membantu pedagang pasar. Karena pedagang tidak perlu ke Galiran (Klungkung) dan ke Batukandik (Ubung). Cukup di sini, ambil barang hasil kebun untuk dijual di pasar,” jelasnya.

Widya mengklaim selama ini para pedagang sudah senang berjualan. “Dengan situasi ini, saya bersama pedagang berjuang bersama supaya bisa jualan kembali. Pas disegel juga dua mobil pedagang langsung mengadu ke DPD RI di Renon,” pungkasnya. 



GIANYAR – Setelah Sentra Sukla Satyagraha atau Pasar Sukla Satyagraha di Jalan Astina Utara, Gianyar, disegel, Kamis (24/3), pihak pengelola melawan. Pengelola telah mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Bali. 

Pengelola Pasar Sukla, I Wayan Widya Adnyana yang juga Ketua Koperasi Sukla Satyagraha Bali, menyatakan saat penutupan pihaknya sempat mempertanyakan surat perintah segel.

“Namun tidak ada. Bahkan aparat malah merusak tenda pedagang. Ada tenda dirobohkan paksa sampai rusak,” keluhnya, Jumat (25/3).

Setelah disegel, pengelola langsung mengadu ke ORI Perwakilan Bali. “Yang kami adukan adalah Lurah Beng. Ada dugaan Lurah menghambat kami mengurus izin,” jelas pria asal Bukit Batu, Kecamatan Gianyar itu.

Yang membingungkan, saat pihaknya melengkapi izin, Lurah tidak memberikan alasan jelas mengenai tidak boleh mendirikan pasar Sukla.

“Rencana pekan depan dari Ombudsman akan turun,” jelasnya.

Sementara itu, setelah disegel dan dipasang garis kuning, petugas Satpol PP Gianyar berjaga di areal pasar Sukla untuk memastikan tidak ada aktivitas di pasar itu.

Widya membeberkan, lahan pasar seluas 42 are dengan sistem sewa lahan. Pedagang terdiri dari pedagang bermobil sekitar 100 pedagang yang berjualan pagi. Kemudian dilanjutkan pedagang malam sebanyak kurang lebih 100 orang.

“Yang pedagang bermobil ini justru bisa membantu pedagang pasar. Karena pedagang tidak perlu ke Galiran (Klungkung) dan ke Batukandik (Ubung). Cukup di sini, ambil barang hasil kebun untuk dijual di pasar,” jelasnya.

Widya mengklaim selama ini para pedagang sudah senang berjualan. “Dengan situasi ini, saya bersama pedagang berjuang bersama supaya bisa jualan kembali. Pas disegel juga dua mobil pedagang langsung mengadu ke DPD RI di Renon,” pungkasnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/