alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Menolak Bagi Pekarangan, Si Bungsu Surati MDA Bali tapi Tak Ditanggapi

GIANYAR – Perselisihan kakak-beradik dalam ngepah karang atau bagi pekarangan di Desa Adat Tegallinggah, Gianyar, menyita perhatian publik di Bali. Pekarangan itu dibagi tiga dan dipasang patok serta garis, sesuai jumlah putra almarhum I Dewa Putu Alit. Yang jadi masalah, merajan (pura leluhur) mereka hanya satu.

 

Polemik bagi pekarangan atau ngepah karang rumah kakak beradik para putra almarhum I Dewa Putu Alit ini akhirnya melalui proses panjang. Dari desa  adat, MDA kabupaten, hingga MDA Provinsi Bali.

 

Dalam perjalanannya, ngepah karang ini didukung desa adat. Namun, ditolak MDA Kabupaten Gianyar. Walau begitu keputusan MDA Provinsi Bali adalah setuju pekarangan yang berstatus tanah ayahan desa (AyDs) itu dibagi untuk tiga kakak-beradik tersebut.

 

Adik bungsu, Dewa Putu Raka Adnyana adalah pihak yang menolak adanya ngepah karang. Dia mengaku mendapat salinan keputusan MDA Provinsi Bali tanggal 28 Desember 2021.

 

“Namun saya terima surat (keputusan dari MDA Provinsi Bali) 3 Februari 2022,” ujar Dewa Putu Raka Adnyana.

Baca Juga:  Majelis Desa Adat Bali Buat Surat Larang Demo Omnibus Lebih 100 Orang

 

Mendapat surat keputusan ngepah karang Raka Adnyana pun membuat surat penolakan pada 14 Februari 2022.

 

“Akhirnya sampai tanggal 23 Februari ada paruman di Pura Puseh. Saya tidak boleh memberikan argumentasi apa pun. Karena keputusan MDA Bali katanya sudah mengikat dan final,” ujarnya.

 

Akan tetapi, Dewa Raka Adnyana mengaku hingga kini belum mendapat tanggapan dari pertanyaan yang diajukan ke MDA Bali.

 

“Tidak ada jawaban. Saya cari ke MDA Bali, tidak bisa ditemukan,” kata dia.

 

Dewa Raka Adnyana mengaku ingin lanjut ke MDA provinsi karena melihat ada tafsir yang berbeda. Dalam surat yang diterima Raka Adnyana, dirinya menilai ngepah karang bukan berarti memberikan garis lurus sampai mengenai bangunan Balai Delod.

 

“Itu balai Delod kena. Palinggih di depan juga kena garis,” ujarnya.

 

Dia pun bingung, bagaimana ke merajan apabila nantinya patok di pagari permanen.

 

“Palinggih Ratu Dukuh di depan rumah juga kena garis. Padahal setahu kami, tiap penghuni sudah mendapatkan bagian bangunan,” ujarnya.

Baca Juga:  Patuhi SKB MDA dan PHDI, Bendesa se-Busungbiu Kompak Tolak Sampradaya

 

Pemasangan patok dalam bagi karang itu dilakukan prajuru Desa Adat Tegallinggah, Sabtu (26/2). Bendesa Adat Tegallinggah, I Ketut Riman menjelaskan, soal adanya penolakan untuk ngepah karang, desa adat menilai itu sah saja.

 

“Kami menghormati, namun kami tidak menyetujui. Kalau ada keputusan MDA, sudah final, sudah barang tentu ada puas dan tidak,” ungkapnya.

 

Patok batas pekarangan kakak-beradik itu sesuai awig-awig dan keputusan sidang Majelis Desa Adat Provinsi Bali Nomor 059/MDA-Prov Bali/I/2022 tertanggal 28 Desember 2021 tentang Wicara Karang Ayahan Desa.

 

Sebelum pembagian, dilakukan pengukuran menggunakan benang putih dan cat pilok warna merah. Lalu dipasang patok beton yang dicor menggunakan semen.

 

Pekarangan tersebut dibagi menjadi tiga. Bagian paling timur untuk Dewa Putu Tilem, 71, kemudian dibuatkan jalan di selatan menuju gang umum. Kemudian, bagian selatan untuk Dewa Nyoman Sama, 62. Dan bagian utara untuk Dewa Putu Raka Adnyana, 57.



GIANYAR – Perselisihan kakak-beradik dalam ngepah karang atau bagi pekarangan di Desa Adat Tegallinggah, Gianyar, menyita perhatian publik di Bali. Pekarangan itu dibagi tiga dan dipasang patok serta garis, sesuai jumlah putra almarhum I Dewa Putu Alit. Yang jadi masalah, merajan (pura leluhur) mereka hanya satu.

 

Polemik bagi pekarangan atau ngepah karang rumah kakak beradik para putra almarhum I Dewa Putu Alit ini akhirnya melalui proses panjang. Dari desa  adat, MDA kabupaten, hingga MDA Provinsi Bali.

 

Dalam perjalanannya, ngepah karang ini didukung desa adat. Namun, ditolak MDA Kabupaten Gianyar. Walau begitu keputusan MDA Provinsi Bali adalah setuju pekarangan yang berstatus tanah ayahan desa (AyDs) itu dibagi untuk tiga kakak-beradik tersebut.

 

Adik bungsu, Dewa Putu Raka Adnyana adalah pihak yang menolak adanya ngepah karang. Dia mengaku mendapat salinan keputusan MDA Provinsi Bali tanggal 28 Desember 2021.

 

“Namun saya terima surat (keputusan dari MDA Provinsi Bali) 3 Februari 2022,” ujar Dewa Putu Raka Adnyana.

Baca Juga:  Jelang Piodalan Purnama Kedasa, Pendakian Gunung Agung Ditutup

 

Mendapat surat keputusan ngepah karang Raka Adnyana pun membuat surat penolakan pada 14 Februari 2022.

 

“Akhirnya sampai tanggal 23 Februari ada paruman di Pura Puseh. Saya tidak boleh memberikan argumentasi apa pun. Karena keputusan MDA Bali katanya sudah mengikat dan final,” ujarnya.

 

Akan tetapi, Dewa Raka Adnyana mengaku hingga kini belum mendapat tanggapan dari pertanyaan yang diajukan ke MDA Bali.

 

“Tidak ada jawaban. Saya cari ke MDA Bali, tidak bisa ditemukan,” kata dia.

 

Dewa Raka Adnyana mengaku ingin lanjut ke MDA provinsi karena melihat ada tafsir yang berbeda. Dalam surat yang diterima Raka Adnyana, dirinya menilai ngepah karang bukan berarti memberikan garis lurus sampai mengenai bangunan Balai Delod.

 

“Itu balai Delod kena. Palinggih di depan juga kena garis,” ujarnya.

 

Dia pun bingung, bagaimana ke merajan apabila nantinya patok di pagari permanen.

 

“Palinggih Ratu Dukuh di depan rumah juga kena garis. Padahal setahu kami, tiap penghuni sudah mendapatkan bagian bangunan,” ujarnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Tuding Surat MDA Bali Keluar Koridor

 

Pemasangan patok dalam bagi karang itu dilakukan prajuru Desa Adat Tegallinggah, Sabtu (26/2). Bendesa Adat Tegallinggah, I Ketut Riman menjelaskan, soal adanya penolakan untuk ngepah karang, desa adat menilai itu sah saja.

 

“Kami menghormati, namun kami tidak menyetujui. Kalau ada keputusan MDA, sudah final, sudah barang tentu ada puas dan tidak,” ungkapnya.

 

Patok batas pekarangan kakak-beradik itu sesuai awig-awig dan keputusan sidang Majelis Desa Adat Provinsi Bali Nomor 059/MDA-Prov Bali/I/2022 tertanggal 28 Desember 2021 tentang Wicara Karang Ayahan Desa.

 

Sebelum pembagian, dilakukan pengukuran menggunakan benang putih dan cat pilok warna merah. Lalu dipasang patok beton yang dicor menggunakan semen.

 

Pekarangan tersebut dibagi menjadi tiga. Bagian paling timur untuk Dewa Putu Tilem, 71, kemudian dibuatkan jalan di selatan menuju gang umum. Kemudian, bagian selatan untuk Dewa Nyoman Sama, 62. Dan bagian utara untuk Dewa Putu Raka Adnyana, 57.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/